Oleh: Dr. H. Muhammad Saleh, M.Ag.
Dosen IAIN Parepare / Pemerhati Pendidikan Karakter Islami
Majelis Pertimbangan Wiayah BKPRMI Sulawesi Selatan
Opini – Idul Adha selalu datang membawa pesan yang lebih dalam daripada sekadar perayaan tahunan. Ia bukan hanya tentang penyembelihan hewan kurban, bukan pula hanya tentang gema takbir yang menggema di masjid dan tanah lapang. Idul Adha adalah momentum untuk membaca kembali pelajaran besar dari keluarga Nabi Ibrahim a.s.; sebuah keluarga yang dibangun di atas iman, pengorbanan, komunikasi yang lembut, dan ketaatan kepada Allah Swt.
Ketika para jamaah haji telah melaksanakan wuquf di Arafah, sesungguhnya umat Islam di seluruh dunia sedang diajak untuk ikut berhenti sejenak. Arafah bukan hanya tempat, tetapi simbol kesadaran. Di sana manusia menanggalkan kebanggaan duniawi, berdiri sebagai hamba, mengakui kelemahan, memperbanyak doa, dan memohon ampun kepada Allah. Arafah mengajarkan bahwa hidup tidak boleh terus berjalan tanpa muhasabah. Manusia perlu berhenti, menundukkan hati, lalu bertanya kepada dirinya sendiri: sudah sejauh mana hidup ini diarahkan kepada Allah?
Pesan Arafah terasa semakin penting di era digital. Hari ini manusia sangat mudah bergerak, tetapi sering lupa merenung. Sangat cepat merespons informasi, tetapi lambat mengevaluasi diri. Banyak orang sibuk memperbarui status, tetapi lupa memperbaiki kualitas batin. Banyak yang ingin dikenal oleh manusia, tetapi lupa apakah dirinya dikenal sebagai hamba yang taat di sisi Allah. Karena itu, Arafah mengajarkan bahwa sebelum manusia memperbaiki dunia, ia harus lebih dahulu memperbaiki arah hidupnya.
Dalam rangkaian Idul Adha, keluarga Nabi Ibrahim menjadi cermin pendidikan karakter yang sangat kuat. Nabi Ibrahim bukan hanya seorang ayah, tetapi pendidik jiwa. Siti Hajar bukan hanya seorang ibu, tetapi teladan keteguhan dan ikhtiar. Nabi Ismail bukan hanya seorang anak, tetapi simbol ketaatan yang lahir dari kesadaran iman. Dari keluarga ini, kita belajar bahwa pendidikan karakter tidak lahir dari ceramah panjang semata, tetapi dari keteladanan, dialog, kesabaran, dan pengorbanan.
Salah satu pelajaran penting dari Nabi Ibrahim adalah pendidikan tauhid. Tauhid bukan sekadar pengetahuan bahwa Allah itu Esa, tetapi kesadaran bahwa seluruh kehidupan harus tunduk kepada kehendak Allah. Dalam konteks keluarga modern, pendidikan tauhid berarti membimbing anak agar tidak hanya cerdas secara akademik dan digital, tetapi juga memiliki arah spiritual. Anak-anak hari ini bisa sangat mahir menggunakan gawai, membuat konten, mengakses informasi, dan berinteraksi di ruang virtual. Namun semua kecakapan itu akan kehilangan makna jika tidak disertai iman, adab, dan tanggung jawab moral.
Di sinilah keluarga memiliki peran utama. Rumah harus kembali menjadi madrasah pertama bagi anak. Orang tua tidak cukup hanya menyediakan fasilitas, tetapi juga harus menghadirkan nilai. Anak tidak cukup diberi gawai, tetapi perlu diberi panduan. Anak tidak cukup diajari cara menggunakan teknologi, tetapi juga perlu diajari bagaimana menjaga mata, lisan, hati, dan akhlak ketika berada di ruang digital. Setiap unggahan, komentar, dan pesan digital perlu disadari sebagai bagian dari amal yang kelak akan dipertanggungjawabkan.
Keluarga Nabi Ibrahim juga mengajarkan pentingnya komunikasi yang penuh kasih. Ketika Nabi Ibrahim menyampaikan perintah Allah kepada Ismail, beliau tidak menggunakan bahasa yang kasar. Beliau memanggil anaknya dengan ungkapan penuh kelembutan: “Yā bunayya”, wahai anakku tersayang. Panggilan ini menunjukkan bahwa pendidikan yang kuat tidak harus keras, dan ketegasan tidak harus kehilangan kasih sayang.
Pelajaran ini sangat relevan bagi keluarga masa kini. Banyak orang tua ingin anaknya menjadi baik, tetapi menyampaikan nasihat dengan cara yang melukai. Banyak orang tua ingin anaknya terbuka, tetapi rumah tidak memberi ruang aman untuk bercerita. Di sisi lain, tidak sedikit anak yang lebih nyaman berbicara dengan dunia maya daripada dengan keluarganya sendiri. Mereka dekat secara fisik dengan orang tua, tetapi jauh secara emosional. Mereka tinggal dalam satu rumah, tetapi masing-masing tenggelam dalam layar.
Idul Adha mengingatkan bahwa keluarga harus kembali membangun dialog. Anak perlu didengar, bukan hanya diperintah. Anak perlu ditemani, bukan hanya diawasi. Anak perlu diberi teladan, bukan hanya diberi aturan. Pendidikan karakter akan lebih mudah tumbuh ketika rumah menjadi tempat yang hangat, bukan tempat yang menakutkan. Nasihat akan lebih mudah masuk ketika disampaikan dengan kasih sayang, bukan dengan kemarahan.
Nabi Ismail memberi pelajaran tentang ketaatan yang sadar. Ia menerima perintah Allah bukan karena terpaksa, tetapi karena memahami bahwa ketaatan kepada Allah adalah jalan keselamatan. Inilah karakter yang perlu dibangun pada generasi digital. Anak-anak tidak cukup hanya dilarang membuka konten buruk, tetapi harus memahami mengapa konten buruk merusak hati dan pikiran. Mereka tidak cukup hanya dilarang menyebarkan hoaks, tetapi harus memahami bahwa dusta dan fitnah adalah dosa. Mereka tidak cukup hanya dibatasi waktu menggunakan gawai, tetapi harus memahami bahwa umur adalah amanah yang tidak boleh habis dalam kelalaian.
Pendidikan keluarga yang berhasil bukan hanya membuat anak patuh ketika diawasi, tetapi mampu menjaga diri ketika tidak dilihat manusia. Inilah karakter takwa. Takwa menjadikan anak tetap jujur meskipun tidak ada yang memantau. Takwa menjadikan anak tetap santun meskipun berada di ruang komentar yang bebas. Takwa menjadikan anak mampu menahan diri dari konten yang merusak meskipun akses terbuka di hadapannya.
Kurban juga mengajarkan pengorbanan. Nabi Ibrahim rela melepaskan sesuatu yang sangat dicintainya demi menaati Allah. Siti Hajar rela menjalani ujian hidup dengan penuh kepercayaan kepada Allah. Nabi Ismail rela taat karena yakin terhadap perintah Allah. Dari sini kita belajar bahwa keluarga yang kuat tidak dibangun hanya dengan kecukupan materi, tetapi dengan pengorbanan nilai, waktu, ego, dan perhatian.
Dalam konteks keluarga hari ini, mungkin yang harus dikurbankan bukan hanya harta, tetapi juga ego orang tua yang merasa selalu benar. Mungkin yang harus dikurbankan adalah kesibukan yang membuat anak kehilangan perhatian. Mungkin yang harus dikurbankan adalah kebiasaan orang tua yang terlalu larut dalam gawai, sementara pada saat yang sama meminta anak mengurangi penggunaan layar. Anak-anak tidak hanya membutuhkan biaya pendidikan, tetapi juga kehadiran emosional. Mereka tidak hanya membutuhkan rumah yang nyaman, tetapi juga hati orang tua yang lapang.
Era digital membawa tantangan baru bagi pendidikan karakter. Teknologi dapat menjadi jalan ilmu, dakwah, kreativitas, dan kemajuan. Namun teknologi juga dapat menjadi pintu kelalaian, perundungan digital, ujaran kebencian, pornografi, hoaks, pamer kehidupan, dan budaya membandingkan diri. Karena itu, keluarga muslim perlu membangun karakter digital Islami. Karakter ini mencakup iman yang kokoh, adab dalam berkomunikasi, nalar kritis dalam menerima informasi, tanggung jawab dalam menyebarkan konten, empati terhadap sesama, dan disiplin dalam menggunakan waktu.
Orang tua, guru, dan masyarakat memiliki tanggung jawab bersama dalam membentuk generasi seperti itu. Orang tua tidak boleh menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada sekolah. Guru tidak boleh hanya mengajar pengetahuan tanpa membangun akhlak. Masyarakat tidak boleh membiarkan ruang sosial dan digital dipenuhi budaya yang merusak. Semua pihak harus menjadi bagian dari ekosistem pendidikan karakter.
Idul Adha akhirnya mengajak kita untuk kembali menata keluarga. Rumah harus menjadi tempat tumbuhnya iman, bukan sekadar tempat tinggal. Orang tua harus menjadi teladan karakter, bukan sekadar pencari nafkah. Anak harus dibimbing menjadi generasi yang cerdas, tetapi juga santun; kreatif, tetapi tetap beradab; akrab dengan teknologi, tetapi tidak kehilangan spiritualitas.
Keluarga Nabi Ibrahim telah memberi peta jalan pendidikan yang sangat jelas. Tauhid menjadi fondasi. Kasih sayang menjadi pendekatan. Dialog menjadi metode. Ketaatan menjadi karakter. Pengorbanan menjadi jalan kemuliaan. Jika nilai-nilai ini dihidupkan dalam keluarga muslim hari ini, maka era digital tidak akan menjadi ancaman semata, tetapi dapat menjadi ruang baru untuk menebar kebaikan, memperkuat iman, dan membangun generasi berkarakter Islami.
Idul Adha bukan hanya hari raya menyembelih hewan kurban. Ia adalah hari raya menyembelih ego, kesombongan, kelalaian, dan kecanduan yang merusak. Ia adalah momentum untuk memperbaiki keluarga, menguatkan pendidikan anak, dan menjadikan teknologi sebagai sarana kebaikan.
Dari Arafah kita belajar muhasabah. Dari kurban kita belajar keikhlasan. Dari keluarga Ibrahim kita belajar bahwa karakter besar selalu lahir dari keluarga yang memiliki iman, cinta, dan pengorbanan. Semoga Idul Adha tahun ini menjadi pintu lahirnya keluarga-keluarga muslim yang lebih dekat kepada Allah, lebih hangat dalam kasih sayang, lebih bijak menggunakan teknologi, dan lebih kuat membentuk generasi berkarakter Islami.
Selamat Idul Adha 1447H