Merawat Generasi Penerus dari Masjid

Admin BKPRMI
Masdiyanto, S.IP - DPD BKPRMI Kabupaten Lombok Utara

Opini – Kerap kali kita mendengar, bahkan menyaksikan secara langsung, adanya teguran keras terhadap anak-anak yang bermain di dalam masjid. Dengan alasan merasa terganggu ketika melaksanakan ibadah, sebagian orang memarahi anak-anak yang berada di area masjid. Teguran tersebut tidak jarang disampaikan dengan nada tinggi, bahkan sering kali disertai tindakan fisik, baik menggunakan tangan maupun benda tertentu.

Memang, di beberapa tempat masih menjunjung tinggi pola pendidikan orang tua terdahulu yang dikenal tegas dalam mendisiplinkan anak. Namun, cara tersebut tersebut tidak selalu dapat diterapkan pada generasi saat ini. Anak-anak generasi Z tumbuh dalam lingkungan yang berbeda, dengan berbagai fasilitas dan kemudahan yang jauh lebih banyak dibandingkan generasi sebelumnya. Kondisi tersebut acap kali membuat mereka diberikan label sebagai generasi yang lebih dimanjakan.

Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa suara dan aktivitas anak-anak di dalam masjid dapat menimbulkan gangguan bagi sebagian orang yang sedang beribadah. Namun, melarang mereka untuk masuk ke dalam masjid bukanlah solusi yang sepenuhnya tepat. Di luar lingkungan masjid, anak-anak saat ini sangat akrab dengan dunia digital, mulai dari game online, tontonan video di berbagai platform, hingga beragam konten media sosial. Berbagai bentuk hiburan tersebut dengan mudah menarik perhatian mereka dan berpotensi menjauhkan anak-anak dari aktivitas di dalam masjid.

Oleh karena itu, yang lebih dibutuhkan adalah upaya mengajak anak-anak untuk datang ke masjid serta menciptakan suasana yang membuat mereka merasa nyaman. Melalui pendekatan yang bijak, anak-anak dapat diperkenalkan pada lingkungan masjid, sehingga perlahan tumbuh rasa mengenal, kemudian mencintai masjid. Peran orang dewasa adalah memberikan arahan dan pemahaman sederhana mengenai perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan di dalam masjid, dengan tetap menyadari bahwa pada usia mereka, bermain adalah hal yang wajar.

Anak-anak yang hari ini bermain di masjid adalah generasi yang kelak akan tumbuh menjadi pemimpin, imam, ulama, penghafal Al-Qur’an, pengusaha, guru, dan lainnya. Setidaknya, kita dapat mendekatkan mereka dengan masjid sejak dini. Terlebih pada masa sekarang, ketika anak-anak lebih banyak berinteraksi dengan gadget dan berbagai tayangan digital yang menyita perhatian mereka. Maka masjid dapat menjadi alternatif pembelajaran yang diharapkan mampu menjadi penyeimbang dari pengaruh yang kurang baik.

Masjid memiliki peluang yang sangat besar sebagai tempat pembinaan untuk merawat generasi penerus. Rasa cinta terhadap masjid tidak muncul secara tiba-tiba ketika anak-anak telah dewasa. Hal tersebut perlu ditumbuhkan sejak usia dini, di sinilah peran orang tua sangat penting. Orang tua dapat membiasakan anak-anaknya untuk datang ke masjid secara rutin, sehingga ketika mereka dewasa kelak, masjid tidak lagi terasa asing dalam kehidupan mereka.

Anak-anak yang telah terbiasa datang ke masjid perlu dipandang sebagai generasi penerus yang diharapkan dapat memakmurkan masjid di masa depan. Mengusir anak-anak dari masjid berpotensi memutus harapan untuk mewujudkan generasi yang dekat dengan masjid. Seperti pada umumnya, seseorang akan cenderung memiliki ikatan emosional dengan tempat-tempat yang sering dikunjungi di waktu kecil. Demikian pula anak-anak yang sering datang ke masjid akan memiliki ikatan emosional dengan masjid.

Sudah saatnya kita menumbuhkan pemahaman bersama bahwa kegiatan ibadah, pendidikan agama, maupun aktivitas sosial di masjid tidak hanya diperuntukkan bagi orang dewasa. Anak-anak juga perlu memiliki ruang untuk hadir dan belajar di dalamnya. Oleh karena itu, diperlukan sikap yang lebih bijak agar anak-anak dapat mengenal masjid dan aktivitas di dalamnya dengan nyaman dan menyenangkan.

Ketika anak-anak merasa senang berada di masjid, hal tersebut dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap masjid. Apabila mereka bermain melewati batas kewajaran, tanggapan yang diberikan tetap perlu terukur dan mendidik. Karena anak-anak masih belum dapat memahami sepenuhnya perihal adab di dalam masjid.

Karena itu, pembelajaran dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menjaga kebersihan, tidak membuat keributan, serta tidak berlari-larian di dalam masjid. Melalui pengingat dan bimbingan yang dilakukan secara berulang-ulang dengan pendekatan yang baik, anak-anak akan belajar memahami dan mempraktikkan adab tersebut secara bertahap.

Share This Article
2 Komentar
  • Bljar untuk memahami dan mendidik sebuah generasi dengan tak meremehkan hal hal kecil atau tindakan yang bisa merubah masa depan mereka

  • Bljar untuk memahami dan mendidik sebuah generasi dengan tak meremehkan hal hal kecil atau tindakan yang bisa merubah masa depan mereka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *