Pentingnya Sebuah Nasihat dalam Perspektif Islam

Dr. H. Istajib Zain, M.Ag, Ph.D - Ketua Majelis Pakar DPP BKPRMI

Opini – Islam merupakan agama yang dibangun di atas prinsip saling mengingatkan, saling menasihati, dan saling membantu dalam kebaikan. Kehidupan seorang muslim tidak dapat dipisahkan dari budaya nasihat, karena manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang memiliki keterbatasan, sering lupa, lalai, bahkan terjerumus dalam kesalahan. Oleh sebab itu, Allah Swt. menjadikan nasihat sebagai salah satu sarana menjaga keimanan, memperbaiki akhlak, dan membangun masyarakat yang beradab.

Nasihat bukanlah bentuk intervensi terhadap kehidupan orang lain, melainkan manifestasi kasih sayang dan tanggung jawab sosial. Orang yang menasihati dengan ikhlas berharap saudaranya memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat.

Hakikat Nasihat

Secara bahasa, kata an-nashîhah berasal dari akar kata Arab nashaha yang berarti memurnikan, memperbaiki, menginginkan kebaikan, dan memberi arahan dengan penuh ketulusan. Oleh karena itu, nasihat dalam Islam bukan sekadar menyampaikan kritik, tetapi merupakan upaya tulus untuk menghadirkan kebaikan bagi orang yang dinasihati.

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hakikat nasihat adalah “menghendaki kebaikan bagi pihak yang dinasihati.” Dengan demikian, nasihat harus lahir dari hati yang bersih, bebas dari kepentingan pribadi, kebencian, maupun keinginan untuk merendahkan orang lain.

Landasan Al-Qur’an

Allah Swt. berfirman:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”
(QS. Al-‘Ashr [103]: 1–3)

Ayat ini menunjukkan bahwa keselamatan manusia tidak cukup hanya dengan iman dan amal saleh, tetapi juga harus diwujudkan melalui budaya saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Allah juga berfirman:

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Adz-Dzariyat [51]: 55)

Ayat ini menegaskan bahwa nasihat dan peringatan merupakan sarana pendidikan ruhani yang akan selalu memberi manfaat bagi hati yang beriman.

Selain itu, Allah berfirman:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 104)

Ayat ini menjadi dasar kewajiban amar makruf nahi mungkar yang salah satu bentuk pelaksanaannya adalah memberikan nasihat dengan hikmah.

Landasan Hadis

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Agama adalah nasihat.” Para sahabat bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa nasihat merupakan fondasi hubungan seorang muslim dengan Allah, Rasul-Nya, pemimpin, dan sesama manusia.

Dalam hadis lain Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa menyampaikan nasihat merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap kemaslahatan umat.

Pandangan Ulama

Imam Asy-Syafi’i pernah berkata:

“Barang siapa menasihati saudaranya secara sembunyi-sembunyi, maka ia benar-benar telah menasihati dan menghiasinya. Barang siapa menasihatinya di hadapan orang banyak, maka ia telah mempermalukan dan mencelanya.”

Perkataan ini mengajarkan bahwa adab dalam memberi nasihat sama pentingnya dengan isi nasihat itu sendiri.

Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan bahwa nasihat yang benar adalah nasihat yang bertujuan memperbaiki keadaan seseorang, bukan mencari kesalahan atau mempermalukannya di hadapan orang lain.

Adab Memberikan dan Menerima Nasihat

Agar nasihat menghasilkan perubahan yang positif, Islam mengajarkan beberapa adab, yaitu:

  1. Ikhlas karena Allah, bukan karena ingin dipuji atau merasa paling benar.
  2. Disampaikan dengan hikmah, kelembutan, dan bahasa yang santun.
  3. Memilih waktu dan tempat yang tepat agar tidak melukai kehormatan orang lain.
  4. Menggunakan dalil dan argumentasi yang benar.
  5. Mendoakan kebaikan bagi orang yang dinasihati.

Sementara itu, orang yang menerima nasihat hendaknya bersikap rendah hati, tidak tergesa-gesa menolak, serta menjadikan nasihat sebagai sarana muhasabah untuk memperbaiki diri.

Relevansi di Era Digital

Perkembangan media sosial menghadirkan tantangan baru dalam budaya nasihat. Tidak sedikit nasihat yang berubah menjadi hujatan, celaan, atau bahkan perundungan digital. Padahal Allah Swt. memerintahkan agar dakwah dilakukan dengan hikmah, nasihat yang baik, dan dialog yang santun (QS. An-Nahl [16]: 125).

Karena itu, etika digital dalam Islam menuntut agar setiap nasihat yang disampaikan di ruang publik tetap menjaga kehormatan, menghindari fitnah, serta berorientasi pada perbaikan, bukan sekadar mencari perhatian atau memenangkan perdebatan.

Penutup

Nasihat merupakan pilar penting dalam kehidupan seorang muslim. Melalui nasihat, keimanan dipelihara, akhlak diperbaiki, ukhuwah diperkuat, dan masyarakat dibimbing menuju kebaikan. Sebaliknya, ketika budaya saling menasihati hilang, penyimpangan mudah dianggap lumrah dan kepedulian sosial semakin memudar.

Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya menjadi pribadi yang ringan memberi nasihat dengan keikhlasan, sekaligus lapang dada menerima nasihat dengan kerendahan hati. Sebab, nasihat yang tulus bukanlah tanda merasa lebih baik, melainkan bukti cinta kepada sesama dan bentuk tanggung jawab di hadapan Allah Swt.

“Saling menasihati dalam kebenaran adalah tanda keimanan, menyampaikannya dengan hikmah adalah tanda kebijaksanaan, dan menerimanya dengan lapang dada adalah tanda kematangan iman.”

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *