Oleh: Dr. KH. Syafaruddin Siagian, S.H.I., M.H., C.F.L.S., | Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Syiar Islam (LDSI) BKPRMI
OPINI – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2026 dengan semangat “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” semestinya tidak berhenti pada upacara, pemasangan bendera, atau seremoni tahunan. Kemerdekaan harus menjadi momentum untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: apa yang telah kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan?
Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, tantangan bangsa tentu telah berubah. Kita tidak lagi berhadapan dengan penjajahan dalam bentuk kolonialisme, tetapi menghadapi berbagai bentuk “penjajahan baru”: kebodohan, kemiskinan, narkoba, intoleransi, perpecahan, kemalasan, krisis keteladanan, hingga degradasi moral generasi muda.
Karena itu, kemerdekaan harus dimaknai sebagai tanggung jawab. Merdeka berarti memiliki kesempatan untuk belajar, berkarya, beribadah, mengabdi, membangun masyarakat, serta memberikan manfaat bagi bangsa dan negara.
Dalam konteks inilah pemuda dan remaja masjid memiliki posisi yang sangat strategis.
Pemuda Masjid Jangan Menjadi Penonton Sejarah
Bahwa pemuda dan remaja masjid harus mengambil peran nyata dalam perjalanan bangsa. Pemuda dan remaja masjid jangan hanya menjadi penonton sejarah, tetapi harus menjadi pelaku sejarah. Dari masjid kita bangun generasi yang kuat, dari hati yang bersih kita lahirkan pengabdian yang ikhlas.
Pesan tersebut relevan dengan kondisi bangsa hari ini. Bonus demografi tidak akan otomatis menjadi kekuatan apabila generasi mudanya kehilangan arah. Jumlah penduduk usia produktif harus diikuti dengan kualitas iman, ilmu, karakter, kreativitas, kemandirian, dan kepedulian sosial.
Masjid tidak boleh hanya ramai pada waktu-waktu tertentu. Masjid harus hidup sebagai pusat pembinaan generasi.
Masjid adalah tempat ibadah, tetapi pada saat yang sama dapat menjadi pusat pendidikan, pembinaan akhlak, penguatan persaudaraan, kegiatan sosial, pemberdayaan ekonomi, literasi, hingga pendidikan kebangsaan.
Dari masjid, anak muda dapat belajar menjadi manusia yang disiplin. Dari masjid, mereka belajar menghormati perbedaan. Dari masjid pula mereka belajar bahwa keberagamaan harus melahirkan kepedulian kepada sesama.
Kemerdekaan Juga Harus Dimulai dari Dalam Diri
Ada satu dimensi penting dalam mengisi kemerdekaan yang sering terlupakan, yakni kemerdekaan jiwa.
Dalam perspektif sufistik, pembangunan bangsa harus diawali dengan pembangunan manusia. Sebelum memperbaiki masyarakat, seseorang harus berani memperbaiki dirinya sendiri. Inilah pentingnya tazkiyatun nafs, proses membersihkan dan memperbaiki jiwa.
Kemerdekaan tidak akan memiliki makna apabila manusia masih diperbudak oleh hawa nafsu, keserakahan, kebencian, narkoba, kemalasan, dan perilaku yang merusak masa depan.
Karena itu, membangun qalbun salim, memperbaiki diri, istiqamah menjalankan Al-Qur’an dan Sunnah, sekaligus menaati peraturan perundang-undangan merupakan bagian dari ikhtiar mengisi kemerdekaan.
Bangsa yang besar membutuhkan manusia-manusia yang mampu mengendalikan dirinya. Sebab, kerusakan bangsa sering kali bermula dari kerusakan karakter individu.
Cinta Tanah Air Harus Dibuktikan dengan Karya
Cinta kepada Indonesia tidak cukup diucapkan dalam slogan. Cinta tanah air harus diwujudkan melalui tindakan.
Generasi muda dapat menunjukkan kecintaannya kepada bangsa dengan belajar sungguh-sungguh, meningkatkan kompetensi, menjaga lingkungan, membantu masyarakat, menjauhi narkoba, melawan hoaks, menjaga persatuan, menghormati hukum, serta menciptakan karya yang bermanfaat.
Bagi pemuda masjid, bentuk pengabdian itu dapat dilakukan melalui kegiatan pendidikan Al-Qur’an, penyuluhan bahaya narkoba, pembinaan keluarga religius, kegiatan sosial, santunan, gotong royong, pemberdayaan ekonomi umat, serta berbagai program kreatif yang menjawab kebutuhan masyarakat.
Semangat “Khoirun nas anfa’uhum linnas”—sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya—harus menjadi etos pengabdian.
Dengan demikian, keberadaan pemuda masjid tidak hanya dirasakan di dalam masjid, tetapi juga hadir di tengah persoalan masyarakat.
Menjawab Pengorbanan Pahlawan dengan Pengorbanan Generasi
Kemerdekaan Indonesia tidak lahir secara cuma-cuma. Ada darah, air mata, perjuangan, doa, dan pengorbanan para pahlawan yang memungkinkan generasi hari ini menikmati kebebasan.
Karena itu, pertanyaan berikutnya adalah: apa yang akan kita wariskan kepada generasi setelah kita?
Pengorbanan generasi sekarang tentu tidak harus sama dengan perjuangan para pahlawan di medan perang. Zaman telah berubah. Bentuk perjuangan pun berubah.
Hari ini, perjuangan dapat diwujudkan dengan belajar ketika orang lain memilih bermalas-malasan; berkarya ketika orang lain hanya mengeluh; menjaga persatuan ketika banyak pihak mudah terprovokasi; membantu sesama ketika kepedulian mulai terkikis; serta menjaga moral ketika berbagai godaan merusak generasi muda semakin mudah ditemukan.
Itulah bentuk perjuangan generasi merdeka.
Dari Masjid untuk Indonesia
BKPRMI memiliki sejarah panjang dalam membangun komunikasi dan pembinaan pemuda serta remaja masjid. Semangat tersebut perlu terus dihidupkan dan disesuaikan dengan tantangan zaman.
Pemuda masjid harus menjadi generasi yang beriman, berilmu, berakhlak, mandiri, kreatif, produktif, dan cinta tanah air.
Persatuan menjadi kunci. Sebab, kekuatan besar tidak lahir dari berjalan sendiri-sendiri, tetapi dari tangan-tangan yang bersatu dalam kebaikan.
“Yadullahi fauqa aidihim.” Ketika tangan-tangan kita bersatu dalam kebaikan, insyaallah akan lahir kekuatan yang besar. Dari masjid kita mulai, dari hati kita benahi, bersama kita membangun Indonesia.
Pada akhirnya, HUT ke-81 Kemerdekaan RI bukan sekadar peringatan tentang masa lalu. Ia harus menjadi panggilan untuk menentukan masa depan.
Merdeka bukan hanya terbebas dari penjajahan, tetapi juga merdeka dari kebodohan, kemalasan, narkoba, perpecahan, dan akhlak yang buruk.
Dari masjid kita memakmurkan negeri.
Dari hati yang bersih kita lahirkan pengabdian.
Dari persatuan kita tumbuhkan kekuatan.
Dari generasi muda kita bangun masa depan Indonesia.
Selamat HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.