Merdeka Tanpa Syarat

Admin BKPRMI

Oleh: Asri Said, S.T., M.M. | Ketua Umum DPW BKPRMI Sulawesi Selatan

OPINI – Merdeka bukan sekadar terbebas dari belenggu. Merdeka adalah ketika hati tidak lagi diperbudak oleh penilaian manusia, pikiran tidak dikungkung oleh ketakutan, dan langkah tidak ditentukan oleh keinginan untuk mendapatkan pengakuan.

Merdeka tanpa syarat adalah keberanian untuk menjadi diri sendiri dalam kebenaran. Merdeka dalam berpikir, merdeka dalam bertindak, dan merdeka dalam menentukan jalan hidup—bukan karena ingin dipuji, bukan karena mengejar penghargaan, dan bukan pula agar dikenang manusia.

Sebab sejatinya, kebebasan yang paling tinggi adalah ketika kita hanya ingin menjadi hamba yang diridhai Allah.

Merdeka dalam berpikir berarti berani menggunakan akal yang Allah anugerahkan. Tidak mudah terjebak oleh opini, tidak ikut arus hanya karena banyak orang melakukannya, dan tidak takut berbeda selama berada dalam jalan kebenaran. Kita belajar, bertanya, merenung, dan mengambil hikmah dari setiap perjalanan kehidupan.

Merdeka dalam bertindak berarti berani melakukan apa yang benar meskipun tidak selalu mudah. Berbuat baik ketika tidak ada yang melihat. Menolong tanpa menunggu balasan. Memaafkan tanpa menuntut permintaan maaf. Memberi tanpa berharap dikembalikan. Dan tetap memilih kebaikan meskipun kebaikan itu tidak membuat nama kita dikenal.

Karena manusia terbaik bukanlah mereka yang paling banyak dipuji, melainkan mereka yang keberadaannya membawa manfaat bagi sesama.

Ada kalanya kita melakukan kebaikan lalu tidak dihargai. Ada saatnya ketulusan dibalas dengan kekecewaan. Ada pula ketika niat baik disalahpahami. Namun jangan biarkan semua itu membuat hati berhenti berbuat baik.

Jika kebaikan kita bergantung pada balasan manusia, maka kita akan mudah kecewa. Tetapi jika kebaikan kita ditujukan kepada Allah, maka tidak ada satu pun kebaikan yang benar-benar sia-sia.

Kita tidak perlu sibuk memastikan siapa yang melihat.
Tidak perlu menghitung berapa banyak yang memuji.
Tidak perlu menunggu sesuatu kembali kepada kita.

Cukuplah Allah yang mengetahui.

Itulah merdeka tanpa syarat.

Merdeka dari kebutuhan untuk selalu dipahami.
Merdeka dari keinginan untuk selalu dipuji.
Merdeka dari rasa takut kehilangan pengakuan.
Merdeka dari ambisi untuk membalas setiap keburukan.
Dan merdeka dari keterikatan kepada selain Allah.

Menjadi manusia terbaik bukan berarti menjadi manusia yang sempurna. Kita tetap bisa salah, jatuh, kecewa, dan terluka. Namun setiap kali jatuh, kita memilih untuk bangkit. Setiap kali salah, kita memilih untuk memperbaiki diri. Setiap kali disakiti, kita memilih untuk tidak mewariskan luka itu kepada orang lain.

Sebab dunia tidak membutuhkan lebih banyak manusia yang sibuk membuktikan dirinya hebat. Dunia membutuhkan manusia yang menghadirkan ketenangan, menebarkan manfaat, menjaga lisan, meringankan beban, dan meninggalkan kebaikan di mana pun ia berada.

Mari menjadi manusia yang merdeka.

Merdeka untuk berpikir dengan jernih.
Merdeka untuk bertindak dengan benar.
Merdeka untuk mencintai tanpa menuntut.
Merdeka untuk memberi tanpa berharap kembali.
Merdeka untuk memaafkan tanpa kehilangan harga diri.
Dan merdeka untuk terus berbuat baik, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang bertepuk tangan.

Karena pada akhirnya, kita tidak sedang mencari penilaian manusia.

Kita sedang berjalan menuju satu tujuan:

ridha Allah.

Dan jika seluruh kebaikan yang kita lakukan hanya diketahui oleh Allah, itu sudah lebih dari cukup.

Sebab merdeka yang sesungguhnya bukanlah ketika manusia mengakui kita hebat.

Merdeka yang sesungguhnya adalah ketika hati kita tidak lagi membutuhkan apa pun selain Allah.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *