ISLAM, PEMUDA, DAN NEGARA: Dari Masjid untuk Indonesia, dari Iman untuk Peradaban

Admin BKPRMI
Dr. H. Istajib Zain, M.Ag, Ph.D - Ketua Majelis Pakar DPP BKPRMI

OPINI – Ada sebuah pertanyaan yang semestinya lebih sering kita ajukan kepada generasi muda:

Jika masa depan bangsa berada di tangan pemuda, di tangan siapa masa depan pemuda kita dititipkan?

Pertanyaan ini bukan sekadar retorika. Ia menyentuh persoalan paling mendasar tentang masa depan Indonesia.

Indonesia memiliki modal demografi yang besar. Berdasarkan data BPS 2024 yang dikutip dalam Laporan Indeks Pembangunan Pemuda 2025, jumlah pemuda usia 16–30 tahun mencapai sekitar 64,22 juta jiwa, atau sekitar 23 persen penduduk Indonesia. Pemerintah menempatkan pembangunan pemuda sebagai investasi strategis untuk mengoptimalkan bonus demografi.

Tetapi jumlah yang besar belum tentu menjadi kekuatan yang besar.

Demografi hanya menjadi bonus apabila kualitas manusianya menjadi modal.

Jika pemuda memiliki iman, ilmu, karakter, keterampilan, produktivitas, dan kepemimpinan, bonus demografi dapat menjadi energi kemajuan.

Sebaliknya, jika generasi mudanya kehilangan arah, bonus demografi dapat berubah menjadi persoalan sosial yang panjang.

Di sinilah Islam memiliki peran yang sangat penting.

PEMUDA DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Islam tidak memandang pemuda sekadar sebagai manusia yang sedang berada dalam fase usia produktif.

Pemuda adalah pemilik energi perubahan.

Al-Qur’an memberikan gambaran yang sangat kuat tentang sekelompok pemuda yang mempertahankan keimanan di tengah tekanan lingkungan:

“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.”

(QS. Al-Kahfi: 13)

Perhatikan bagaimana Al-Qur’an menyebut mereka: fityah — pemuda.

Mereka bukan orang-orang yang menunggu tua untuk berbuat sesuatu.

Mereka justru menunjukkan bahwa masa muda dapat menjadi fase keberanian mempertahankan prinsip, keberanian mengambil pilihan, dan keberanian menghadapi konsekuensi.

Karena itu, kita tidak boleh mendidik pemuda hanya untuk menjadi pencari kerja.

Kita harus mendidik mereka menjadi pencipta karya.

Bukan hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi pencipta teknologi.

Bukan hanya menjadi penonton perubahan, tetapi pelaku perubahan.

Bukan hanya menjadi pengikut zaman, tetapi manusia yang mampu memberi arah bagi zamannya.

KETIKA MASJID KEHILANGAN PEMUDANYA

Ada fenomena yang patut menjadi renungan.

Kita memiliki begitu banyak masjid.

Namun pertanyaannya bukan hanya: Berapa banyak masjid yang berdiri?

Pertanyaan yang lebih penting adalah: Berapa banyak masjid yang berhasil melahirkan generasi?

Masjid jangan berhenti menjadi tempat manusia datang untuk shalat.

Masjid harus menjadi tempat manusia dibentuk.

Tempat anak-anak belajar Al-Qur’an.

Tempat remaja menemukan identitas positif.

Tempat pemuda belajar kepemimpinan.

Tempat masyarakat membangun solidaritas.

Tempat UMKM tumbuh.

Tempat ilmu berkembang.

Tempat persoalan sosial dicarikan solusi.

Tempat lahirnya para dai, intelektual, pengusaha, profesional, teknokrat, guru, seniman, dan pemimpin bangsa.

Karena masjid dalam sejarah Islam bukan sekadar bangunan.

Masjid adalah pusat pembentukan manusia dan peradaban.

Arah ini juga tampak dalam Resolusi BKPRMI 2026 yang mendorong masjid menjadi episentrum pemberdayaan, termasuk melalui Gerakan Bangun Ekonomi Masjid, Masjid Sejuta Pemuda, Masjid Ramah Pemuda, digitalisasi, pemberdayaan ZISWAF, serta penguatan guru ngaji.

Maka paradigma kita perlu bergeser: bukan hanya memakmurkan masjid, tetapi menjadikan masjid yang memakmurkan umat.

PEMUDA TIDAK BOLEH HANYA MENJADI OBJEK

Salah satu kesalahan dalam pembangunan kepemudaan adalah melihat pemuda semata-mata sebagai objek program.

Pemuda diberi kegiatan.

Pemuda diberi pelatihan.

Pemuda dikumpulkan.

Pemuda diberi seminar.

Tetapi setelah itu, pemuda kembali menjadi penonton.

Padahal pemuda seharusnya menjadi subjek pembangunan.

Mereka harus diberi ruang untuk berpikir, mengambil keputusan, memimpin, mencoba, gagal, memperbaiki diri, dan menghasilkan karya.

Pembangunan pemuda memang tidak sederhana. Laporan Kemenpora menunjukkan bahwa pembangunan pemuda mencakup pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan, pekerjaan dan kesempatan kerja, partisipasi dan kepemimpinan, serta gender dan diskriminasi.

Artinya, pemuda membutuhkan ekosistem.

Tidak cukup hanya ceramah.

Tidak cukup hanya pelatihan.

Tidak cukup hanya bantuan.

Yang dibutuhkan adalah ekosistem pertumbuhan.

Dan masjid dapat menjadi salah satu ekosistem tersebut.

ISLAM TIDAK MENGAJARKAN PEMUDA MENJAUH DARI NEGARA

Ada kecenderungan sebagian orang melihat agama dan negara sebagai dua wilayah yang harus selalu dipisahkan secara tajam.

Dalam konteks Indonesia, pendekatan seperti itu justru kehilangan kesempatan untuk menghadirkan nilai-nilai agama dalam kehidupan kebangsaan secara konstruktif.

Islam mengajarkan amanah.

Negara membutuhkan manusia yang amanah.

Islam mengajarkan keadilan.

Negara membutuhkan keadilan.

Islam mengajarkan kejujuran.

Negara membutuhkan integritas.

Islam mengajarkan kepedulian kepada kaum lemah.

Negara membutuhkan kebijakan yang menghadirkan kemaslahatan.

Islam mengajarkan ilmu.

Negara membutuhkan manusia yang berilmu.

Maka nilai-nilai Islam dapat menjadi sumber moral bagi pengabdian kebangsaan.

Menjadi Muslim yang baik tidak berarti menjauh dari persoalan bangsa.

Justru keimanan seharusnya membuat seseorang semakin peduli terhadap bangsanya.

Shalat membangun hubungan dengan Allah.

Tetapi hubungan dengan Allah semestinya melahirkan tanggung jawab terhadap manusia.

Kesalehan personal harus bertemu dengan kesalehan sosial.

DARI SALEH MENJADI MUSLIH

Kita membutuhkan lebih banyak pemuda saleh.

Tetapi bangsa juga membutuhkan pemuda yang muslih.

Saleh berarti membangun kebaikan dalam dirinya.

Muslih berarti menghadirkan perbaikan di lingkungannya.

Pemuda saleh rajin beribadah.

Pemuda muslih mengajak lingkungannya mencintai kebaikan.

Pemuda saleh menjaga dirinya dari kemaksiatan.

Pemuda muslih ikut mencegah kerusakan sosial.

Pemuda saleh membaca Al-Qur’an.

Pemuda muslih menjadikan nilai Al-Qur’an sebagai energi perubahan.

Inilah tipe manusia yang dibutuhkan Indonesia.

Imannya kuat, ilmunya luas, akhlaknya baik, tetapi juga memiliki keberanian untuk bekerja dan menyelesaikan persoalan.

TANTANGAN PEMUDA BUKAN HANYA TEKNOLOGI

Kita sering berbicara tentang tantangan digital.

Padahal teknologi hanyalah alat.

Tantangan yang lebih besar adalah nilai yang mengendalikan alat tersebut.

Teknologi dapat digunakan untuk pendidikan.

Tetapi juga dapat digunakan untuk manipulasi.

Media sosial dapat menjadi sarana dakwah.

Tetapi juga dapat menjadi ruang kebencian.

Kecerdasan buatan dapat meningkatkan produktivitas.

Tetapi tanpa etika, ia dapat digunakan untuk menghasilkan informasi palsu dan manipulasi.

Karena itu, pemuda Muslim tidak cukup hanya menjadi digital savvy.

Mereka harus menjadi digital ethical.

Bukan hanya cerdas menggunakan teknologi, tetapi juga matang menggunakan hati nurani.

Bukan hanya cepat mendapatkan informasi, tetapi mampu membedakan mana ilmu dan mana kebisingan.

Bukan hanya mampu berbicara di media sosial, tetapi mampu mempertanggungjawabkan apa yang dibicarakannya.

PEMUDA DAN KEPEMIMPINAN

Kepemimpinan tidak dimulai ketika seseorang memperoleh jabatan.

Kepemimpinan dimulai ketika seseorang berani mengambil tanggung jawab.

Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, kaderisasi pemuda tidak boleh menunggu mereka dewasa.

Kita harus melatih mereka memimpin sejak sekarang.

Memimpin dirinya.

Memimpin waktunya.

Memimpin komunitasnya.

Memimpin kegiatan sosial.

Memimpin organisasi.

Dan ketika kelak mendapat amanah yang lebih besar, ia telah memiliki pengalaman moral untuk mengembannya.

Jabatan adalah posisi.

Kepemimpinan adalah keteladanan.

Kekuasaan adalah amanah.

Pemuda yang memahami tiga hal ini akan melihat kepemimpinan bukan sebagai jalan menuju kemuliaan pribadi, melainkan sebagai jalan pengabdian.

NEGARA MEMBUTUHKAN PEMUDA YANG PRODUKTIF

Indonesia tidak hanya membutuhkan pemuda yang kritis.

Indonesia membutuhkan pemuda yang produktif.

Tidak hanya pandai mengeluh, tetapi mampu menawarkan solusi.

Tidak hanya pandai membuat konten, tetapi mampu menciptakan karya.

Tidak hanya sibuk membangun personal branding, tetapi juga membangun social impact.

Tidak hanya mengejar popularitas, tetapi mengejar kebermanfaatan.

Sebab negara tidak dibangun oleh komentar.

Negara dibangun oleh karya, integritas, ilmu, disiplin, dan kolaborasi.

Karena itu, pertanyaan seorang pemuda seharusnya tidak berhenti pada: “Apa yang negara berikan kepada saya?”

Tetapi juga: “Apa yang dapat saya berikan kepada negara?”

Inilah mentalitas pengabdian.

MASJID SEBAGAI LABORATORIUM KEPEMIMPINAN

Jika kita ingin melahirkan pemimpin masa depan, kita harus mulai dari tempat yang paling dekat dengan masyarakat.

Salah satunya adalah masjid.

Masjid dapat menjadi laboratorium kepemimpinan pemuda.

Pemuda belajar menyusun program.

Belajar mengelola anggaran.

Belajar berkomunikasi.

Belajar bekerja sama.

Belajar menyelesaikan konflik.

Belajar melayani masyarakat.

Belajar mempertanggungjawabkan amanah.

Belajar bahwa setiap rupiah yang dikelola adalah amanah.

Belajar bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi.

Dari sinilah kepemimpinan tumbuh.

Bukan dari sekadar seminar kepemimpinan.

Tetapi dari pengalaman memimpin dan melayani.

MENUJU INDONESIA 2045

Indonesia Emas 2045 tidak boleh hanya menjadi slogan demografis.

Ia harus menjadi proyek besar pembangunan manusia.

Kemenpora menyebut pemuda sebagai motor utama kelompok produktif dan menempatkan pembangunan pemuda sebagai investasi strategis dalam memanfaatkan bonus demografi.

Tetapi pembangunan manusia tidak boleh berhenti pada ukuran ekonomi.

Manusia yang unggul harus sekaligus memiliki karakter.

Sebab apa gunanya kecerdasan tanpa kejujuran?

Apa gunanya kekuasaan tanpa amanah?

Apa gunanya kekayaan tanpa kepedulian?

Apa gunanya teknologi tanpa etika?

Apa gunanya kemajuan tanpa keadilan?

Maka Indonesia yang kita cita-citakan bukan hanya Indonesia yang maju secara ekonomi.

Tetapi Indonesia yang: maju ilmunya, kuat ekonominya, kokoh persatuannya, tinggi peradabannya, dan mulia akhlaknya.

Di sinilah pemuda Muslim memiliki ruang sejarah.

JANGAN BIARKAN MASA MUDA BERLALU TANPA JEJAK

Masa muda tidak pernah datang dua kali.

Energi akan berkurang.

Kesempatan akan berubah.

Waktu tidak akan kembali.

Karena itu, jangan habiskan masa muda hanya untuk mengejar pengakuan manusia.

Jangan terlalu sibuk menghitung berapa banyak orang yang mengenal kita.

Hitunglah berapa banyak orang yang merasakan manfaat dari keberadaan kita.

Jangan hanya bertanya: “Seberapa terkenal saya?”

Tetapi tanyakan: “Seberapa bermanfaat saya?”

Sebab popularitas bisa hilang.

Jabatan bisa berakhir.

Harta bisa berpindah.

Tetapi kebaikan yang kita tanam dapat terus hidup.

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa manusia akan ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan dan tentang masa mudanya untuk apa digunakan.

Maka masa muda adalah amanah sebelum menjadi kenangan.

PENUTUP: DARI MASJID, MENYALAKAN MASA DEPAN

Saya percaya, masa depan Indonesia tidak hanya sedang dibangun di gedung-gedung pemerintahan, kampus, pusat industri, dan kawasan teknologi.

Masa depan Indonesia juga sedang dibangun di masjid-masjid.

Di sana ada anak-anak yang sedang belajar Al-Qur’an.

Ada remaja yang sedang mencari jati diri.

Ada pemuda yang sedang belajar memimpin.

Ada guru ngaji yang sedang menanamkan nilai.

Ada jamaah yang sedang mengajarkan keteladanan.

Jika semua potensi itu kita satukan, masjid dapat menjadi salah satu kekuatan sosial yang luar biasa.

Karena itu, gerakan pemuda masjid harus berani bermimpi lebih besar.

Bukan sekadar memenuhi masjid.

Tetapi memenuhi bangsa dengan manusia yang beriman.

Bukan sekadar membuat kegiatan.

Tetapi menciptakan perubahan.

Bukan sekadar mencetak kader organisasi.

Tetapi mencetak kader peradaban.

Bukan sekadar berbicara tentang Indonesia masa depan.

Tetapi mulai membangunnya hari ini.

Sebab pemuda bukan sekadar penerus.

Pemuda adalah penentu arah perjalanan.

Dan masjid bukan sekadar tempat ibadah.

Masjid adalah tempat manusia dibentuk untuk mengabdi kepada Allah dan menghadirkan kemaslahatan bagi manusia.

Maka mari kita lahirkan generasi yang:

imannya menuntun langkahnya,

ilmunya menerangi jalannya,

akhlaknya menjaga dirinya,

karyanya menguatkan bangsanya,

kepemimpinannya melayani sesama,

dan pengabdiannya menjadi bekal menghadap Tuhannya.

Dari masjid kita bangun iman.

Dari iman kita bangun karakter.

Dari karakter kita bangun kepemimpinan.

Dari kepemimpinan kita bangun masyarakat.

Dan dari masyarakat yang kuat, kita bangun Indonesia yang bermartabat.

Inilah jihad peradaban pemuda hari ini.Bukan sekadar mewarisi masa depan, tetapi menyiapkan masa depan agar layak diwariskan.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *