OPINI – Ada alasan mengapa panitia memilih Masjid Jogokariyan sebagai tempat pelaksanaan Musyawarah Wilayah (Muswil) VII DPW BKPRMI Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu, 20 September 2026.
Muswil memang merupakan forum organisasi. Di dalamnya ada laporan pertanggungjawaban, evaluasi, konsolidasi, penyusunan program, dan regenerasi kepemimpinan. Namun, bagi kami, Muswil VII BKPRMI Jogjakarta bukan sekadar agenda lima tahunan.
Kami ingin Muswil ini memiliki pesan yang lebih dalam: bahwa masa depan gerakan pemuda dan remaja masjid harus kembali berangkat dari masjid yang hidup, bergerak, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dan Jogokariyan adalah salah satu simbol penting dari gagasan tersebut.
Masjid Bukan Sekadar Bangunan
Dalam Anggaran Dasar BKPRMI, masjid ditempatkan sebagai pusat peradaban: tempat ibadah, dakwah, tarbiyah, ukhuwah, dan muamalah. BKPRMI juga secara eksplisit menyatakan tujuan untuk mengembangkan dan memberdayakan pemuda remaja masjid serta memakmurkan masjid sebagai pusat peradaban menuju terbentuknya masyarakat marhamah.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang masjid, jangan sampai perhatian kita hanya berhenti pada bangunannya.
- Masjid memang harus bersih.
- Masjid harus indah.
- Masjid harus ramai.
- Masjid harus makmur.
Tetapi pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
- Apa yang dilakukan masjid setelah jamaah selesai menunaikan salat?
- Apakah anak-anak mendapatkan pendidikan?
- Apakah remaja mendapatkan ruang untuk tumbuh?
- Apakah pemuda mendapatkan kesempatan berkarya?
- Apakah masyarakat miskin mendapatkan perhatian?
- Apakah UMKM di sekitar masjid mendapatkan ruang untuk berkembang?
- Apakah masjid hadir ketika masyarakat menghadapi kesulitan?
- Apakah dari masjid lahir gagasan, kader, pemimpin, pengusaha, ilmuwan, pendidik dan pejuang kemanusiaan?
Di sinilah makna “memakmurkan masjid” harus diperluas menjadi “masjid memakmurkan kehidupan.”
Mengapa Jogokariyan?
Jogokariyan memberi kita sebuah pelajaran penting: bahwa masjid dapat menjadi pusat interaksi sosial dan pemberdayaan masyarakat.
Kekuatan masjid bukan semata terletak pada megahnya bangunan, tetapi pada sejauh mana masjid mampu membangun hubungan dengan jamaah dan lingkungan sosialnya.
- Masjid harus mengetahui siapa yang datang ke masjid.
- Masjid harus mengenal siapa yang membutuhkan pertolongan.
- Masjid harus mengetahui potensi pemuda di lingkungannya.
- Masjid harus mampu menggerakkan sumber daya umat.
Dengan kata lain, masjid harus hadir dalam kehidupan nyata masyarakat.
Pengalaman Jogokariyan juga menunjukkan bagaimana aktivitas masjid dapat bersinggungan dengan kehidupan sosial dan ekonomi warga. Kawasan masjid dapat menjadi ruang bertemunya ibadah, dakwah, silaturahmi, ekonomi kerakyatan dan aktivitas masyarakat.
Inilah yang kami maksud dengan masjid yang berdaya, berdampak dan bermanfaat.
Bukan sekadar masjid yang aktif membuat kegiatan, tetapi masjid yang mampu membuat perubahan.
Dari “Memakmurkan Masjid” Menjadi “Masjid Memakmurkan”
Saya kira sudah waktunya kita mengembangkan cara pandang baru.
Selama ini kita sering mengatakan:
“Mari kita memakmurkan masjid.”
Itu benar.
Tetapi kita perlu melangkah lebih jauh:
“Mari kita jadikan masjid yang memakmurkan umat.”
Memakmurkan masjid berarti menghadirkan jamaah.
Tetapi masjid yang memakmurkan umat berarti menghadirkan manfaat.
Masjid yang dimakmurkan membuat orang datang.
Masjid yang memakmurkan membuat kebaikan datang kepada masyarakat.
Inilah paradigma yang ingin terus kami dorong di BKPRMI.
Sebab dalam konteks Indonesia hari ini, masjid memiliki potensi sosial yang sangat besar. Namun potensi tersebut membutuhkan tata kelola, kepemimpinan, kaderisasi dan inovasi.
Masjid harus mampu bertransformasi tanpa kehilangan jati dirinya.
- Dakwah tetap menjadi ruhnya.
- Al-Qur’an tetap menjadi sumber nilai.
- Ibadah tetap menjadi fondasi.
Tetapi dari fondasi itu lahir pendidikan, ekonomi, kepedulian sosial, kebudayaan, kesehatan, teknologi, lingkungan dan pemberdayaan generasi muda.
Pemuda Harus Menjadi Subjek
Di sinilah posisi pemuda remaja masjid menjadi sangat penting.
Masjid tidak boleh hanya memanggil pemuda untuk datang ketika ada kegiatan seremonial.
Masjid harus memberi pemuda ruang untuk memimpin.
- Pemuda harus dipercaya mengelola program.
- Pemuda harus diberi kesempatan mengembangkan ekonomi.
- Pemuda harus diberi ruang untuk mengembangkan teknologi.
- Pemuda harus menjadi penggerak dakwah digital.
- Pemuda harus menjadi relawan sosial.
- Pemuda harus menjadi penjaga lingkungan.
Dan yang paling penting, pemuda harus dipersiapkan menjadi pemimpin.
Inilah salah satu mandat BKPRMI sebagai organisasi gerakan kader dakwah dan pembinaan pemuda remaja masjid. Secara organisatoris, BKPRMI juga menempatkan kaderisasi kepemimpinan organisasi, umat, bangsa dan negara sebagai salah satu fungsinya.
Karena itu, Masjid Ramah Pemuda bukan sekadar masjid yang menyediakan tempat berkumpul bagi anak muda.
Masjid Ramah Pemuda adalah masjid yang mempercayai pemuda sebagai bagian dari solusi.
Haidar dan Makna Regenerasi
Muswil VII BKPRMI DIY 2026 yang berlangsung di Masjid Jogokariyan juga menghadirkan momentum regenerasi kepemimpinan.
Dalam forum tersebut, Haidar Muhammad Tilmitsani, S.Psi., terpilih secara aklamasi dan mufakat sebagai Ketua Umum DPW BKPRMI DIY Periode 2026–2031.
Haidar adalah putra bungsu almarhum KH. Muhammad Jazir ASP. Bagi saya, fakta ini memiliki makna simbolik yang kuat. Namun, Haidar tidak boleh dipahami hanya sebagai “putra seorang tokoh.” Ia harus dilihat sebagai representasi dari generasi penerus gerakan masjid.
Setiap generasi memiliki tantangan sendiri. Generasi sebelumnya membangun fondasi. Generasi hari ini harus memperluas jangkauan.
Jika generasi terdahulu memperkenalkan bagaimana masjid dapat menjadi pusat gerakan sosial, maka generasi sekarang harus menjawab tantangan baru: bagaimana masjid beradaptasi dengan teknologi, ekonomi digital, perubahan sosial, krisis lingkungan, tantangan pendidikan dan perubahan karakter generasi muda.
Karena itu, regenerasi bukan sekadar pergantian nama dalam struktur kepengurusan.
Regenerasi adalah perpindahan estafet perjuangan. Nilainya diteruskan. Semangatnya diteruskan. Tetapi cara perjuangannya harus terus diperbarui.
Dari Jogokariyan Menuju Indonesia Emas
Saya percaya, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di gedung-gedung pemerintahan, kampus, kawasan industri atau pusat-pusat ekonomi.
Masa depan Indonesia juga sedang dibentuk di masjid-masjid.
- Di sana anak-anak belajar membaca Al-Qur’an.
- Di sana remaja belajar menjadi manusia.
- Di sana pemuda belajar memimpin.
- Di sana masyarakat belajar berbagi.
- Di sana orang kaya belajar membantu.
- Di sana orang yang lemah mendapatkan perlindungan.
- Dan di sana nilai-nilai keislaman bertemu dengan realitas kehidupan kebangsaan.
BKPRMI sendiri sejak awal menempatkan masjid sebagai basis perjuangan dan menjadikan pembinaan pemuda-remaja masjid sebagai bagian penting dari gerakannya. Organisasi ini lahir pada 1977 dan kini memiliki jaringan kepengurusan di berbagai daerah Indonesia.
Karena itu, agenda kita ke depan bukan sekadar memperbanyak kegiatan masjid.
Agenda kita adalah memperbesar dampak masjid.
- Masjid harus menjadi bagian dari solusi kemiskinan.
- Masjid harus menjadi bagian dari solusi pengangguran.
- Masjid harus menjadi bagian dari solusi pendidikan.
- Masjid harus menjadi bagian dari solusi ketahanan pangan.
- Masjid harus menjadi bagian dari solusi krisis moral dan karakter.
- Masjid harus menjadi bagian dari solusi kesenjangan sosial.
- Masjid harus menjadi bagian dari pembangunan generasi muda.
Inilah yang ingin kami dorong melalui berbagai agenda BKPRMI, termasuk penguatan kaderisasi, pendidikan Al-Qur’an, pemberdayaan ekonomi masjid melalui GERBANG EMAS (Gerakan Bangun Ekonomi Masjid), pengembangan teknologi berbasis masjid, serta penguatan kepemimpinan pemuda.
Sebab kami percaya, masjid tidak boleh berada di pinggir persoalan masyarakat. Masjid harus berada di tengah-tengah solusi.
Masjid sebagai Pusat Peradaban
Pada akhirnya, pertanyaan tentang masjid adalah pertanyaan tentang peradaban.
- Apakah masjid hanya menjadi tempat kita datang?
- Ataukah masjid menjadi tempat kita bertumbuh?
- Apakah masjid hanya menjadi tempat kita beribadah?
- Ataukah masjid juga menjadi tempat kita mengabdi?
- Apakah masjid hanya menjadi tempat kita meminta?
- Ataukah masjid menjadi tempat kita belajar memberi?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang harus terus kita hidupkan.
Dari Jogokariyan, kita belajar bahwa kekuatan masjid tidak berhenti pada dinding dan menara.
- Kekuatan masjid ada pada manusia yang dibangunnya.
- Kekuatan masjid ada pada jamaah yang diberdayakannya.
- Kekuatan masjid ada pada pemuda yang dipercayainya.
- Kekuatan masjid ada pada masyarakat yang dilayaninya.
- Dan kekuatan masjid pada akhirnya ada pada peradaban yang dilahirkannya.
Karena itu, Muswil VII BKPRMI Jogjakarta 2026 di Masjid Jogokariyan bukan hanya tentang siapa yang menjadi ketua untuk lima tahun ke depan.
Ia adalah tentang ke mana gerakan masjid akan kita bawa.
Kepada Akhina Haidar Muhammad Tilmitsani, “selamat mengemban amanah. Jadikan Jogjakarta sebagai salah satu laboratorium gerakan pemuda masjid Indonesia. Rawat tradisi perjuangan. Bangun inovasi. Perkuat kaderisasi. Dekatkan masjid dengan masyarakat. Dan jadikan pemuda sebagai subjek perubahan.”
Sebab cita-cita kita bukan hanya masjid yang makmur.
Cita-cita kita jauh lebih besar: masjid yang memakmurkan umat.
- Dari masjid kita membangun manusia.
- Dari manusia kita membangun masyarakat.
- Dari masyarakat kita membangun peradaban.
Dan dari masjid yang berdaya, insyaallah lahir Indonesia yang berdaya.