Santri dan Tantangan Perubahan Zaman
OPINI – Santri bukan sekadar seseorang yang belajar agama di pesantren. Santri adalah generasi pembawa nilai, penjaga moral, pewaris tradisi keilmuan, sekaligus calon pemimpin yang memiliki tanggung jawab membangun masa depan bangsa. Sejarah telah mencatat bahwa santri dan ulama memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, mempertahankan nilai-nilai kebangsaan, serta membangun kehidupan masyarakat yang religius dan berkeadaban.
- Santri dan Tantangan Perubahan Zaman
- Pertama, Peran Santri Kini: Menjaga Adab di Tengah Krisis Keteladanan
- Kedua, Peran Santri Kini: Menguasai Ilmu dan Teknologi Tanpa Kehilangan Jati Diri
- Ketiga, Peran Santri Nanti: Menjadi Pemimpin yang Berintegritas
- Keempat, Peran Santri Nanti: Menjadi Penggerak Kemandirian Ekonomi Umat
- Kelima, Peran Santri Nanti: Membangun Peradaban yang Inklusif dan Berkeadaban
- Keenam, Menyiapkan Santri Masa Depan: Dari Ruang Belajar Menuju Ruang Pengabdian
- Penutup: Santri Menguatkan Negeri, Menyongsong Masa Depan
Namun, zaman terus berubah. Jika dahulu perjuangan santri banyak diwujudkan melalui perlawanan terhadap penjajahan fisik, kini medan perjuangan semakin luas: menghadapi krisis moral, disrupsi teknologi, persaingan global, ketimpangan ekonomi, kerusakan lingkungan, hingga melemahnya penghormatan terhadap ilmu dan guru.
Di tengah perubahan tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah santri hari ini hanya akan menjadi penonton perubahan, atau justru tampil sebagai pelaku utama yang menentukan arah masa depan peradaban?
Pertanyaan ini penting karena masa depan Indonesia tidak cukup dibangun oleh generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga membutuhkan manusia yang kokoh secara spiritual, luhur dalam akhlak, mandiri secara ekonomi, dan memiliki kepedulian sosial.
Santri harus mampu membuktikan bahwa kedalaman ilmu agama tidak menghalangi kemajuan, tradisi tidak bertentangan dengan inovasi, dan kesalehan pribadi harus berjalan seiring dengan tanggung jawab membangun masyarakat.
Pertama, Peran Santri Kini: Menjaga Adab di Tengah Krisis Keteladanan
Salah satu kekuatan utama pendidikan pesantren adalah penanaman adab. Santri tidak hanya diajarkan bagaimana memperoleh ilmu, tetapi juga bagaimana menghormati guru, memuliakan orang tua, menjaga lisan, menghargai sesama, dan mengamalkan ilmu dengan penuh tanggung jawab.
Dalam tradisi keilmuan Islam, adab bukan pelengkap ilmu, melainkan fondasi yang menentukan arah dan manfaatnya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad, dalam riwayat yang dikenal tentang penyempurnaan akhlak).
Pesan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari banyaknya pengetahuan yang dikuasai, gelar yang diperoleh, atau prestasi yang diraih. Keberhasilan juga tercermin dalam akhlak, kejujuran, tanggung jawab, dan kemanfaatan seseorang bagi orang lain.
Di tengah kehidupan modern, kita menyaksikan bahwa kecerdasan tidak selalu berbanding lurus dengan kebijaksanaan. Seseorang bisa menguasai teknologi, tetapi kehilangan etika; memiliki banyak pengikut di media sosial, tetapi miskin keteladanan; atau meraih jabatan tinggi, tetapi melupakan amanah.
Di sinilah santri harus hadir sebagai teladan. Santri perlu membangun budaya menghormati guru, menyayangi orang tua, menjaga persahabatan, menghindari fitnah, serta tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling merendahkan.
Santri masa kini juga harus mampu menunjukkan bahwa akhlak mulia bukan sekadar materi ceramah, melainkan karakter yang terlihat dalam perilaku sehari-hari.
Sebab, ilmu dapat membuat seseorang dikenal, tetapi adablah yang membuat ilmunya dihormati dan bermanfaat.
Kedua, Peran Santri Kini: Menguasai Ilmu dan Teknologi Tanpa Kehilangan Jati Diri
Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, dan mengembangkan pengetahuan.
Santri tidak boleh menutup mata terhadap perubahan ini. Menguasai kitab kuning, memahami Al-Qur’an dan hadis, serta mendalami ilmu fikih merupakan kekuatan mendasar. Namun, santri juga perlu memperluas wawasan dalam bidang sains, teknologi, ekonomi, komunikasi, kepemimpinan, dan kewirausahaan.
Santri harus mampu membaca kitab sekaligus membaca realitas; memahami teks sekaligus menganalisis konteks; menguasai warisan keilmuan sekaligus merancang inovasi untuk menjawab persoalan zaman.
Teknologi dapat menjadi sarana dakwah, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan penyebaran pengetahuan. Melalui media digital, santri dapat menghadirkan konten keislaman yang mencerahkan, menjawab persoalan generasi muda, serta melawan hoaks dan ujaran kebencian dengan informasi yang benar dan argumentasi yang santun.
Namun, penguasaan teknologi harus disertai kemampuan berpikir kritis. Informasi yang viral belum tentu benar, jawaban mesin belum tentu akurat, dan kecanggihan aplikasi tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan.
Karena itu, santri perlu membiasakan tabayyun, memeriksa sumber, menghargai otoritas keilmuan, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Dalam konteks ini, tradisi pesantren justru memiliki modal penting. Ketekunan belajar, kedisiplinan, musyawarah, penghormatan terhadap guru, dan pembiasaan menelaah sumber dapat menjadi landasan bagi santri untuk menghadapi tantangan era digital.
Pesantren tidak perlu meninggalkan tradisi untuk menjadi modern. Sebaliknya, tradisi keilmuan yang kuat dapat menjadi pijakan untuk melahirkan inovasi yang bermartabat.
Ketiga, Peran Santri Nanti: Menjadi Pemimpin yang Berintegritas
Indonesia membutuhkan pemimpin yang tidak hanya pintar menyusun strategi, tetapi juga berani menjaga integritas. Pemimpin yang tidak hanya pandai berbicara tentang perubahan, tetapi bersedia bekerja untuk mewujudkannya.
Santri memiliki peluang besar untuk mengambil peran dalam berbagai bidang kehidupan. Tidak semua santri harus menjadi kiai atau ustaz. Ada santri yang kelak menjadi akademisi, ilmuwan, pengusaha, ekonom, birokrat, diplomat, profesional, aktivis kemanusiaan, maupun pemimpin politik.
Apa pun profesinya, nilai-nilai kepesantrenan harus tetap menjadi kompas moral.
Seorang santri yang menjadi pengusaha harus menjaga kejujuran dan keadilan. Santri yang menjadi pejabat harus menjadikan kekuasaan sebagai amanah, bukan kesempatan memperkaya diri. Santri yang menjadi ilmuwan harus mengembangkan pengetahuan untuk kemaslahatan. Santri yang menjadi pemimpin masyarakat harus mampu merangkul perbedaan dan menyelesaikan persoalan secara bijaksana.
Kepemimpinan santri bukan semata-mata tentang siapa yang paling tinggi jabatannya, tetapi siapa yang paling besar manfaatnya.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58).
Ayat ini memberikan landasan bahwa amanah dan keadilan merupakan prinsip penting dalam kehidupan bermasyarakat dan kepemimpinan.
Santri masa depan harus berani mengambil tanggung jawab, membangun kolaborasi, mengembangkan kompetensi, serta menghadirkan solusi atas persoalan bangsa. Mereka tidak cukup hanya mengkritik keadaan, tetapi harus memiliki kapasitas untuk memperbaikinya.
Keempat, Peran Santri Nanti: Menjadi Penggerak Kemandirian Ekonomi Umat
Salah satu tantangan besar umat Islam adalah bagaimana mengubah potensi besar menjadi kekuatan ekonomi yang nyata. Umat memiliki sumber daya manusia, lembaga pendidikan, jaringan sosial, masjid, pesantren, zakat, infak, sedekah, wakaf, serta tradisi gotong royong yang kuat.
Potensi tersebut perlu dikelola secara profesional, produktif, dan berkelanjutan.
Santri masa depan harus memiliki keberanian untuk memasuki dunia ekonomi. Mereka perlu memahami kewirausahaan, koperasi, ekonomi syariah, pengelolaan keuangan, teknologi finansial, serta pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah.
Pesantren juga dapat menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pelatihan keterampilan, pengembangan produk lokal, pemasaran digital, koperasi santri, dan pengelolaan aset produktif.
Dalam konteks ini, wakaf tidak hanya dipahami sebagai sarana ibadah yang manfaatnya berorientasi jangka panjang, tetapi juga dapat dikembangkan secara produktif sesuai ketentuan syariah dan peraturan yang berlaku. Demikian pula koperasi dapat menjadi sarana membangun kemandirian melalui semangat kebersamaan, keadilan, dan distribusi manfaat yang lebih luas.
Santri perlu memahami bahwa kemandirian ekonomi bukan tujuan yang terpisah dari dakwah. Kemandirian ekonomi justru dapat memperkuat pendidikan, meningkatkan kesejahteraan keluarga, membantu masyarakat yang membutuhkan, dan memperluas jangkauan pelayanan sosial.
Dakwah tidak hanya disampaikan melalui mimbar, tetapi juga melalui usaha yang jujur, tata kelola yang amanah, penciptaan lapangan kerja, dan pemberdayaan masyarakat.
Santri masa depan harus mampu mengubah kesalehan menjadi kekuatan sosial dan mengubah potensi umat menjadi kemandirian ekonomi.
Kelima, Peran Santri Nanti: Membangun Peradaban yang Inklusif dan Berkeadaban
Peradaban yang maju tidak hanya ditandai oleh bangunan megah, teknologi canggih, atau pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Peradaban juga diukur dari kualitas hubungan antarmanusia, keadilan sosial, penghormatan terhadap martabat manusia, dan kemampuan menjaga keberlanjutan kehidupan.
Santri harus menjadi bagian dari gerakan membangun masyarakat yang damai, adil, dan saling menghormati.
Dalam masyarakat yang beragam, santri perlu mengembangkan sikap moderat, terbuka terhadap dialog, menghormati perbedaan, dan tetap teguh dalam prinsip-prinsip keislaman. Keteguhan beragama tidak harus melahirkan permusuhan, sebagaimana keterbukaan tidak berarti kehilangan keyakinan.
Santri juga perlu mengambil peran dalam persoalan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, serta perlindungan kelompok rentan. Kepedulian tersebut merupakan bagian dari pengamalan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata.
Masjid dan pesantren dapat menjadi pusat penguatan solidaritas sosial, literasi masyarakat, pemberdayaan generasi muda, dan pengembangan kepemimpinan berbasis nilai.
Dengan demikian, santri tidak hanya dikenal sebagai penjaga tradisi keagamaan, tetapi juga sebagai penggerak kemajuan masyarakat.
Keenam, Menyiapkan Santri Masa Depan: Dari Ruang Belajar Menuju Ruang Pengabdian
Membangun santri masa depan membutuhkan ikhtiar bersama. Pesantren, keluarga, pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat perlu membangun ekosistem yang mendukung perkembangan santri secara utuh.
Setidaknya ada lima agenda strategis yang perlu diperkuat.
Pertama, penguatan adab dan spiritualitas. Pendidikan karakter harus menjadi fondasi seluruh proses pembelajaran agar santri memiliki integritas, kedisiplinan, kejujuran, dan keteguhan moral.
Kedua, penguasaan ilmu dan literasi. Santri perlu memperkuat kemampuan membaca, menulis, berbicara, meneliti, berdiskusi, dan berpikir kritis. Penguasaan ilmu agama harus berjalan bersama pengembangan wawasan umum dan kompetensi profesional.
Ketiga, kecakapan digital dan inovasi. Santri perlu didorong untuk memahami teknologi, memanfaatkan AI secara bijaksana, menghasilkan karya kreatif, dan mengembangkan solusi atas persoalan masyarakat.
Keempat, kemandirian ekonomi dan kepemimpinan. Pesantren perlu memperluas kesempatan bagi santri untuk belajar berwirausaha, mengelola organisasi, memahami ekonomi syariah, serta membangun kolaborasi yang produktif.
Kelima, pengabdian kepada masyarakat. Setiap pengetahuan dan keterampilan perlu diarahkan pada kemanfaatan. Santri harus dibiasakan mengenali persoalan di lingkungannya, menyusun program, bekerja sama, dan mengevaluasi hasil pengabdiannya.
Kelima agenda ini perlu dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan kapasitas masing-masing pesantren. Tujuannya bukan menjadikan seluruh santri seragam, melainkan membuka ruang agar setiap santri berkembang sesuai bakat, minat, dan potensinya tanpa kehilangan karakter kepesantrenan.
Penutup: Santri Menguatkan Negeri, Menyongsong Masa Depan
Peran santri kini dan nanti merupakan kesinambungan antara warisan masa lalu, tanggung jawab masa kini, dan cita-cita masa depan.
Santri hari ini adalah pembelajar yang sedang menyiapkan diri. Santri masa depan adalah pemimpin, pendidik, ilmuwan, pengusaha, dan penggerak masyarakat yang akan menentukan arah perjalanan bangsa.
Karena itu, santri tidak boleh berhenti pada kebanggaan terhadap sejarah. Sejarah harus menjadi sumber inspirasi untuk melahirkan karya, pengabdian, dan perubahan nyata.
Santri tidak cukup hanya bangga dengan kitab yang dipelajari, tetapi harus mampu mengamalkan nilai-nilainya. Tidak cukup hanya menguasai teknologi, tetapi harus mampu menggunakannya untuk kemaslahatan. Tidak cukup hanya bercita-cita menjadi pemimpin, tetapi harus menyiapkan kompetensi dan integritas untuk memikul amanah.
Kita membutuhkan santri yang kuat imannya, luas ilmunya, mulia akhlaknya, cakap teknologinya, mandiri ekonominya, dan luas pengabdiannya.
Santri yang mampu menjaga tradisi tanpa terbelenggu masa lalu, merangkul kemajuan tanpa kehilangan jati diri, serta membangun masa depan tanpa melupakan nilai-nilai luhur yang diwariskan para ulama.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan santri bukan semata-mata seberapa tinggi kedudukan yang diraih, melainkan seberapa besar manfaat yang diberikan bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Santri kini adalah penjaga nilai dan pembelajar perubahan. Santri nanti adalah pemimpin peradaban dan penggerak kemajuan.
Dari pesantren, ilmu ditanamkan. Dari ilmu, akhlak dikuatkan. Dari akhlak, kepemimpinan dilahirkan. Dan melalui pengabdian, santri mengambil bagian dalam mewujudkan Indonesia yang berilmu, berkeadilan, berkemajuan, dan bermartabat.
Santri Menguatkan Negeri, Menyongsong Indonesia Emas.
Dr. H. Istajib Zain, M.Ag., Ph.D.
