PENGUATAN DAKWAH DIGITAL & PERAN KADER BKPRMI DI TENGAH TANTANGAN GLOBAL

Dr. H. Istajib Zain, M.Ag, Ph.D - Ketua Majelis Pakar DPP BKPRMI

Dari Mimbar Konvensional Menuju Ruang Digital yang Mencerahkan

OPINI – Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Cara berkomunikasi, belajar, bekerja, berbisnis, hingga memperoleh informasi kini berlangsung dalam ruang digital yang bergerak cepat dan tanpa batas.

Perubahan tersebut menghadirkan tantangan sekaligus peluang besar bagi dunia dakwah. Hari ini, masyarakat—terutama generasi muda—tidak hanya mencari jawaban dari mimbar, majelis, atau buku-buku keagamaan. Mereka mencari informasi melalui media sosial, mesin pencari, video pendek, podcast, dan berbagai platform digital lainnya.

Karena itu, dakwah tidak boleh tertinggal oleh perubahan zaman. Bukan nilai Islam yang harus berubah mengikuti zaman, tetapi cara dan strategi penyampaian dakwah harus mampu menjawab perubahan zaman.

Tantangan Global yang Semakin Kompleks

Dai masa kini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya. Arus globalisasi telah mempertemukan berbagai pemikiran, ideologi, budaya, dan nilai dalam satu ruang digital.

Informasi dapat menyebar dalam hitungan detik, tetapi kebenaran sering kali harus bersaing dengan hoaks, fitnah, provokasi, dan informasi yang menyesatkan.

Masyarakat juga menghadapi fenomena banjir informasi, tetapi kekeringan makna. Banyak orang mengetahui banyak hal, tetapi tidak semuanya memiliki kemampuan untuk memahami, menyaring, dan mengambil hikmah dari informasi tersebut.

Di tengah kondisi seperti inilah peran dai menjadi semakin penting. Dai tidak cukup hanya menjadi penyampai pesan keagamaan. Dai harus mampu menjadi pendidik, komunikator, pembimbing, pencerah, dan pemberi solusi bagi persoalan umat.

Dari Dai Konvensional Menuju Dai Transformatif

Seorang dai di era digital perlu memiliki kemampuan yang lebih luas. Penguasaan ilmu agama tetap menjadi fondasi utama, tetapi harus diperkuat dengan kemampuan memahami realitas masyarakat.

Dai masa kini harus mampu memahami: Perkembangan teknologi; Karakter generasi digital; Dinamika media sosial; Komunikasi publik; Persoalan ekonomi dan sosial; Isu kebangsaan dan global; Serta perubahan pola pikir masyarakat.

Dai harus mampu menjembatani antara teks dan konteks. Nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah harus disampaikan secara benar, tetapi sekaligus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Dakwah harus berbicara tentang keimanan, tetapi juga memberikan inspirasi tentang kehidupan. Dakwah harus menguatkan spiritualitas, tetapi juga mendorong produktivitas. Dakwah harus mengajak kepada kebaikan, sekaligus menghadirkan solusi terhadap persoalan sosial. Inilah karakter dai transformatif yang dibutuhkan di tengah perubahan global.

Digitalisasi Dakwah: Sebuah Keniscayaan

Ruang digital telah menjadi medan baru dalam pertarungan gagasan. Jika ruang ini tidak diisi dengan konten yang mencerahkan, maka ia akan dipenuhi oleh berbagai narasi yang belum tentu membawa kebaikan.

Karena itu, penguatan dakwah digital bukan sekadar pilihan, tetapi sebuah keniscayaan. Masjid, lembaga dakwah, pesantren, dan organisasi keislaman perlu memperkuat kemampuan digitalnya. Demikian pula para dai harus mulai membangun kapasitas dalam memanfaatkan teknologi sebagai sarana dakwah.

Dakwah digital dapat dilakukan melalui: Konten media sosial; Video edukatif; Podcast; Tulisan dan artikel; Diskusi daring; Kelas digital; Platform pembelajaran;

Hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan secara bijak dan bertanggung jawab. Namun teknologi hanyalah alat. Kekuatan utama dakwah tetap terletak pada ketulusan, keteladanan, keilmuan, dan kualitas pesan.

Konten Cepat, Pesan Tetap Bermakna, Salah satu tantangan dakwah digital adalah kecenderungan masyarakat untuk menyukai konten singkat, cepat, dan mudah dikonsumsi. Fenomena ini menuntut dai untuk memiliki kemampuan komunikasi yang efektif.

Pesan yang mendalam harus mampu disampaikan dengan bahasa yang sederhana. Ilmu yang kompleks harus dapat dijelaskan secara mudah. Nasihat yang panjang harus dapat dirangkum menjadi pesan yang kuat.

Namun, penyederhanaan tidak boleh menghilangkan substansi. Dai harus mampu menghadirkan dakwah yang ringkas, relevan, kreatif, tetapi tetap mendalam dan bertanggung jawab. Jangan sampai keinginan untuk mendapatkan popularitas membuat dakwah kehilangan esensinya.

Tidak semua yang viral membawa manfaat, dan tidak semua yang bermanfaat harus menjadi viral. Orientasi utama dakwah bukan sekadar jumlah pengikut, jumlah tayangan, atau tingkat popularitas. Tujuan utamanya adalah menghadirkan perubahan positif.

Dai sebagai Penjaga Moral di Ruang Digital

Ruang digital saat ini menghadirkan banyak persoalan moral. Perundungan, ujaran kebencian, fitnah, penyebaran hoaks, dan budaya saling menghujat semakin mudah ditemukan.

Di tengah kondisi tersebut, dai harus menjadi penyejuk, bukan pemantik konflik. Dakwah harus menghadirkan kedamaian. Pesan keagamaan harus memperkuat persaudaraan. Perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling membenci. Seorang dai harus mampu memberikan teladan dalam etika komunikasi digital.

Apa yang disampaikan harus didasarkan pada ilmu. Apa yang dibagikan harus dapat dipertanggungjawabkan. Dan apa yang dikritik harus disampaikan dengan kebijaksanaan. Karena dakwah yang baik bukan hanya diukur dari kemampuan berbicara, tetapi juga dari kemampuan menjaga adab.

Memahami Generasi Baru

Salah satu tantangan besar dakwah adalah menghadapi perbedaan karakter antargenerasi.

Generasi muda saat ini tumbuh dalam lingkungan digital yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka memiliki akses informasi yang sangat luas dan cenderung kritis terhadap berbagai persoalan.

Karena itu, pendekatan dakwah tidak dapat dilakukan hanya dengan komunikasi satu arah. Dai harus lebih banyak membangun dialog. Lebih banyak mendengarkan. Lebih memahami persoalan. Dan lebih mampu menghadirkan solusi.

Generasi muda tidak hanya membutuhkan ceramah tentang apa yang benar dan salah. Mereka juga membutuhkan pendampingan untuk menghadapi persoalan kehidupan. Tentang pendidikan. Tentang pekerjaan. Tentang keluarga. Tentang masa depan. Tentang tekanan sosial. Dan tentang bagaimana menemukan makna hidup di tengah dunia yang berubah begitu cepat. Dakwah yang mampu menyentuh persoalan nyata akan lebih mudah menyentuh hati.

Kolaborasi Menguatkan Gerakan Dakwah

Tantangan global terlalu besar untuk dihadapi secara individual. Karena itu, penguatan dakwah harus dibangun melalui kolaborasi. Dai perlu berkolaborasi dengan: Akademisi; Praktisi media; Kreator konten; Profesional; Tokoh masyarakat; Lembaga pendidikan; Organisasi keagamaan; Serta berbagai komunitas generasi muda.

Kolaborasi akan memperluas jangkauan dan memperkuat kualitas dakwah. Seorang dai tidak harus menguasai seluruh bidang. Namun ia harus memiliki keterbukaan untuk belajar dan bekerja sama. Di era global, dakwah tidak dapat berjalan dengan pendekatan “berjalan sendiri”. Dakwah harus menjadi sebuah ekosistem.

Memanfaatkan Teknologi Tanpa Kehilangan Jati Diri

Kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, menghadirkan peluang baru bagi dakwah. Teknologi dapat membantu mempercepat penyebaran informasi, memperluas jangkauan pendidikan, membantu produksi konten, dan meningkatkan akses terhadap berbagai sumber pengetahuan.

Namun kemajuan teknologi harus tetap dikendalikan oleh nilai dan etika. Teknologi tidak boleh menggantikan akal sehat. Kecerdasan buatan tidak boleh menggantikan tanggung jawab manusia. Dan popularitas digital tidak boleh menggantikan ketulusan dakwah. Dai harus menjadi manusia yang menguasai teknologi, bukan manusia yang dikendalikan oleh teknologi.

Ke depan, penguatan dakwah digital perlu diarahkan pada pembangunan ekosistem yang lebih terstruktur. Bukan sekadar menghasilkan konten secara sporadis, tetapi membangun gerakan dakwah yang memiliki visi, strategi, dan kesinambungan.

Beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan antara lain:

1. Meningkatkan Literasi Digital Dai

      Dai perlu diberikan pelatihan tentang media sosial, komunikasi digital, produksi konten, serta etika penggunaan teknologi.

      2. Membangun Pusat Konten Dakwah

        Organisasi dakwah perlu memiliki tim kreatif yang mampu memproduksi konten berkualitas secara profesional dan berkelanjutan.

        3. Memperkuat Dakwah Berbasis Data

        Dakwah perlu memahami persoalan nyata yang dihadapi masyarakat agar pesan yang disampaikan lebih relevan dan tepat sasaran.

        4. Membangun Jaringan Dai Digital

        Para dai perlu saling terhubung, berbagi pengetahuan, dan memperkuat kolaborasi dalam menghadirkan narasi Islam yang moderat dan mencerahkan.

        5. Mengedepankan Keteladanan

        Di tengah derasnya informasi, keteladanan tetap menjadi kekuatan terbesar dakwah. Masyarakat mungkin tertarik oleh konten, tetapi mereka akan percaya kepada karakter.

        Penutup: Dakwah Harus Bergerak Bersama Zaman

        Dakwah tidak boleh kehilangan ruang di tengah perubahan global. Masjid tetap menjadi pusat dakwah, tetapi ruang digital telah menjadi perluasan mimbar. Dai tetap menjadi penyampai risalah, tetapi kini jangkauan dakwahnya dapat melampaui batas ruang dan waktu.

        Tantangan global harus dijawab dengan penguatan kapasitas. Perubahan teknologi harus direspons dengan inovasi. Dan perkembangan digital harus dimanfaatkan untuk memperluas kemaslahatan.

        Namun di tengah semua perubahan tersebut, satu hal yang tidak boleh berubah adalah nilai dasar dakwah: mengajak manusia kepada kebaikan dengan ilmu, hikmah, keteladanan, dan kasih sayang.

        Saatnya memperkuat dakwah digital. Saatnya meningkatkan kapasitas dai. Saatnya membangun kolaborasi. Dan saatnya menghadirkan Islam sebagai kekuatan yang memberikan jawaban, harapan, dan solusi bagi tantangan zaman.

        Dai Menguasai Teknologi, Dakwah Menembus Batas, dan Nilai Islam Menjadi Cahaya bagi Peradaban Global.

        Share This Article
        Tidak ada komentar

        Tinggalkan Balasan

        Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *