Oleh: H. Nanang Mubarok, SHI., M.Sos. | Ketua Umum DPP BKPRMI
OPINI – Setiap 1 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Peringatan ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan, bukan pula hanya tentang mengulang lima sila yang telah kita hafal sejak bangku sekolah.
Lebih dari itu, Hari Kesaktian Pancasila adalah momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana Pancasila benar-benar hidup dalam perilaku kita sehari-hari?
Sebab Pancasila tidak akan menjadi kuat hanya karena sering diucapkan. Pancasila menjadi kuat ketika nilai-nilainya hadir dalam kehidupan: ketika manusia menghormati sesama, ketika perbedaan tidak menjadi alasan untuk bermusuhan, ketika keadilan diperjuangkan, ketika persatuan dirawat, dan ketika kepentingan bersama ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Di sinilah masjid memiliki posisi yang sangat strategis.
Masjid bukan hanya tempat mendirikan shalat. Masjid sejak awal sejarah Islam merupakan pusat pembentukan manusia, pendidikan, persaudaraan, pelayanan sosial, dan peradaban. Dari masjid lahir manusia-manusia yang memiliki iman, ilmu, akhlak, kepedulian dan tanggung jawab sosial.
Karena itu, membicarakan masa depan Pancasila tidak bisa dilepaskan dari pembicaraan tentang bagaimana kita membina generasi muda di masjid.
Pancasila Harus Menjadi Perilaku
Kita perlu menggeser cara pandang dalam memahami Pancasila.
Pancasila jangan berhenti sebagai hafalan. Jangan berhenti di dinding sekolah, kantor pemerintahan, ruang kelas atau upacara kenegaraan. Pancasila harus turun menjadi perilaku.
- Ketuhanan Yang Maha Esa harus melahirkan manusia yang beriman sekaligus menghormati pemeluk agama lain.
- Kemanusiaan yang adil dan beradab harus melahirkan kepedulian kepada mereka yang lemah, miskin dan membutuhkan.
- Persatuan Indonesia harus melahirkan generasi yang mampu hidup bersama dalam keberagaman.
- Kerakyatan harus melahirkan budaya musyawarah dan menghargai perbedaan pendapat.
- Keadilan sosial harus mendorong kita untuk menghadirkan kesejahteraan dan kesempatan yang lebih luas bagi seluruh masyarakat.
Nilai-nilai tersebut sesungguhnya sangat dekat dengan nilai-nilai akhlak yang diajarkan Al-Qur’an.
Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk berlaku adil, berbuat baik, menjaga persaudaraan, menghormati perbedaan, menolong sesama dan menjauhi permusuhan.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.”
(QS. An-Nahl: 90)
Ayat ini menunjukkan bahwa agama tidak berhenti pada hubungan vertikal manusia dengan Allah. Keimanan harus melahirkan akhlak sosial. Di titik inilah masjid dapat menjadi ruang penting untuk menghidupkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan nyata.
Guru Mengaji: Penjaga Fondasi Moral Generasi
Jika kita berbicara tentang masjid dan pembentukan generasi, kita tidak boleh melupakan satu kelompok yang selama ini bekerja dalam senyap: guru mengaji Al-Qur’an.
Setiap sore, selepas aktivitas sekolah, jutaan anak Indonesia datang ke masjid, mushala, TAAM, TKA, TPA, TQA dan berbagai lembaga pendidikan Al-Qur’an.
Di sana mereka bukan hanya belajar membaca huruf hijaiyah.
- Mereka belajar mengenal Allah.
- Mereka belajar shalat.
- Mereka belajar kejujuran.
- Mereka belajar menghormati orang tua.
- Mereka belajar menyayangi teman.
- Mereka belajar berbagi.
- Mereka belajar meminta maaf dan memaafkan.
Dengan kata lain, guru mengaji sesungguhnya sedang membantu membangun fondasi karakter bangsa. Guru mengaji adalah bagian dari ekosistem pendidikan yang tidak boleh dipandang sebelah mata.
Sebab bangsa yang besar tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas secara intelektual. Kita membutuhkan generasi yang memiliki integritas, empati, tanggung jawab, disiplin dan akhlak.
Karena itu, memuliakan guru mengaji bukan semata-mata persoalan kesejahteraan. Ia adalah bagian dari investasi peradaban.
- Ketika seorang guru mengaji mengajarkan seorang anak membaca Bismillah, sesungguhnya ia sedang menanamkan kesadaran ketuhanan.
- Ketika ia mengajarkan kejujuran, ia sedang membangun integritas.
- Ketika ia mengajarkan berbagi, ia sedang menanamkan solidaritas sosial.
- Ketika ia mengajarkan persaudaraan, ia sedang memperkuat persatuan.
Dan ketika nilai-nilai itu menjadi karakter, sesungguhnya kita sedang menghidupkan Pancasila.
Pemuda Remaja Masjid: Dari Masjid untuk Indonesia
Namun pembinaan generasi tidak berhenti pada anak-anak. Kita juga harus memberikan ruang yang lebih besar kepada pemuda dan remaja masjid. Mereka bukan sekadar panitia kegiatan keagamaan. Mereka adalah kekuatan sosial yang sangat potensial.
Pemuda masjid harus didorong menjadi generasi yang mampu mengelola kegiatan sosial, ekonomi, pendidikan, lingkungan, teknologi, kepemudaan dan pemberdayaan masyarakat.
- Masjid harus menjadi tempat pemuda belajar kepemimpinan.
- Masjid harus menjadi tempat mereka belajar bekerja sama.
- Masjid harus menjadi tempat mereka menemukan solusi atas persoalan masyarakat.
- Masjid harus menjadi ruang yang ramah bagi kreativitas dan inovasi anak muda.
Karena itu, paradigma kita perlu berubah: jangan hanya berpikir bagaimana memakmurkan masjid, tetapi juga bagaimana masjid memakmurkan umat. Masjid yang memakmurkan umat adalah masjid yang kehadirannya dirasakan masyarakat.
- Ketika ada anak putus sekolah, masjid hadir.
- Ketika ada keluarga miskin, masjid hadir.
- Ketika pemuda membutuhkan ruang kreativitas, masjid hadir.
- Ketika masyarakat membutuhkan pemberdayaan ekonomi, masjid hadir.
- Ketika lingkungan membutuhkan gerakan penghijauan, masjid hadir.
- Ketika bangsa membutuhkan generasi yang berakhlak dan cinta tanah air, masjid hadir.
Inilah masjid sebagai pusat peradaban.
Masjid sebagai Sekolah Kebangsaan
Kita membutuhkan apa yang dapat disebut sebagai “sekolah kebangsaan berbasis masjid.” Bukan sekolah formal baru, melainkan ekosistem pembinaan yang menjadikan masjid sebagai tempat belajar menjadi manusia Indonesia seutuhnya.
- Di masjid, anak-anak belajar Al-Qur’an.
- Di masjid, remaja belajar organisasi.
- Di masjid, pemuda belajar kepemimpinan.
- Di masjid, masyarakat belajar gotong royong.
- Di masjid, umat belajar menyelesaikan persoalan bersama.
Jika ekosistem ini dibangun secara serius, masjid dapat menjadi salah satu benteng sosial dalam menghadapi tantangan zaman.
Kita hidup dalam era ketika informasi bergerak begitu cepat. Anak-anak dan remaja menghadapi berbagai pengaruh melalui media sosial, budaya digital, dan lingkungan pergaulan yang semakin kompleks.
Kita tidak cukup hanya mengatakan kepada mereka: “Jangan melakukan ini” atau “Jangan melakukan itu.” Kita harus menyediakan ruang alternatif yang sehat. Dan masjid dapat menjadi ruang itu.
Masjid harus membuat generasi muda merasa diterima, dihargai, didengar dan diberi kesempatan untuk berkontribusi. Sebab generasi muda yang merasa memiliki masjid akan tumbuh menjadi generasi yang ikut memiliki bangsa ini.
Dari Masjid untuk Indonesia Emas 2045
Indonesia Emas 2045 tidak semata-mata membutuhkan bonus demografi. Bonus demografi hanya akan menjadi kekuatan apabila generasi mudanya memiliki kualitas.
- Kita membutuhkan generasi yang cerdas tetapi tidak kehilangan akhlak.
- Kita membutuhkan generasi yang menguasai teknologi tetapi tetap memiliki nilai.
- Kita membutuhkan generasi yang kompetitif tetapi tidak kehilangan kepedulian.
- Kita membutuhkan generasi yang terbuka terhadap dunia tetapi tetap memiliki akar kebangsaan.
- Dan kita membutuhkan generasi yang religius sekaligus mampu hidup dalam masyarakat Indonesia yang majemuk.
Di sinilah peran masjid, guru mengaji dan pemuda remaja masjid menjadi sangat penting.
DPP BKPRMI memandang bahwa gerakan pemuda dan remaja masjid tidak boleh hanya berbicara tentang aktivitas internal organisasi. Gerakan ini harus mengambil bagian dalam agenda besar pembangunan bangsa.
- Pemuda masjid harus menjadi bagian dari solusi atas kemiskinan, pengangguran, ketahanan pangan, pendidikan, lingkungan, ekonomi umat dan pembangunan karakter.
- Guru mengaji harus ditempatkan sebagai bagian penting dari ekosistem pembangunan sumber daya manusia.
- Dan masjid harus didorong menjadi pusat pemberdayaan masyarakat.
Dengan demikian, nilai-nilai Pancasila tidak hanya dibicarakan di ruang-ruang seminar, tetapi benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan umat.
Kesaktian Pancasila adalah Kesaktian Persatuan
Pada akhirnya, kesaktian Pancasila bukanlah sesuatu yang cukup dirayakan melalui seremoni. Ia harus dibuktikan melalui kehidupan bangsa yang semakin beradab.
- Pancasila akan semakin kuat ketika masyarakatnya semakin adil.
- Pancasila akan semakin kokoh ketika persaudaraan semakin kuat.
- Pancasila akan semakin bermakna ketika anak-anak bangsa tumbuh dengan akhlak.
- Dan Pancasila akan semakin hidup ketika masjid-masjid di seluruh Indonesia tidak hanya ramai oleh aktivitas ibadah, tetapi juga aktif menghadirkan kemanfaatan bagi masyarakat.
Kita ingin melihat masjid menjadi tempat lahirnya generasi yang beriman, berilmu, berakhlak, mandiri dan cinta Indonesia.
Kita ingin melihat guru mengaji mendapatkan penghormatan dan perhatian yang layak sebagai pendidik moral bangsa.
Kita ingin melihat pemuda remaja masjid tumbuh menjadi pemimpin masa depan yang mampu merawat persatuan dan menggerakkan perubahan.
Sebab pada akhirnya, Pancasila tidak cukup dihafal. Pancasila harus dihidupkan.
Dan salah satu tempat terbaik untuk menghidupkannya adalah masjid.
- Dari masjid kita menanam iman.
- Dari masjid kita membangun akhlak.
- Dari masjid kita merawat persaudaraan.
- Dari masjid kita menggerakkan kepedulian.
- Dari masjid kita membina pemuda.
- Dari masjid kita menyiapkan generasi.
Dan dari masjid pula, kita ikut membangun Indonesia yang berkeadilan, sejahtera, berakhlak dan bermartabat menuju Indonesia Emas 2045.
Selamat Hari Kesaktian Pancasila.
Mari kita jadikan masjid sebagai rumah ibadah, rumah persaudaraan, rumah pembinaan generasi, sekaligus rumah pengabdian untuk Indonesia.
Pancasila di hati, Al-Qur’an dalam perilaku, persatuan dalam kehidupan, dan Indonesia dalam pengabdian.