Oleh: Dr. H. Muhammad Saleh, M.Ag. | Dosen IAIN Parepare & anggota MPW BKPRMI Sul-Sel, Ketua Dewan Pakar DPD BKPRMI Kota Parepare
OPINI – Ada sebuah momen sederhana pada sesi akhir Rapimwil yang justru meninggalkan kesan mendalam. Ketika seluruh rangkaian agenda hampir selesai, Sekretaris Umum DPW BKPRMI ust. Dr. Muh. Yusuf menyampaikan sebuah penawaran kepada peserta: bibit pohon gratis, diberikan dengan tulus dan ikhlas, tanpa syarat.
Tidak ada target yang harus dicapai. Tidak ada imbalan yang diminta. Tidak ada kepentingan yang harus dikembalikan. Hanya sebuah bibit kecil yang ditawarkan untuk dibawa pulang, ditanam, dirawat, dan kelak—jika tumbuh dengan baik—memberikan manfaat bagi banyak orang.
Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya sebuah bibit pohon. Namun bagi saya, tawaran sederhana tersebut menyimpan pesan yang jauh lebih besar. Bukankah pembinaan generasi juga seperti menanam pohon? Kita menanam sesuatu yang hasilnya belum tentu kita nikmati hari ini. Kita merawat dengan kesabaran, memberikan nutrisi, menjaga dari berbagai ancaman, dan membiarkan waktu bekerja hingga benih itu tumbuh menjadi pohon yang kokoh dan memberi manfaat.
Dari bibit pohon itu saya kemudian membayangkan perjalanan BKPRMI dalam membina generasi muda. Jika sebuah bibit pohon saja diberikan dengan ikhlas untuk ditanam hari ini demi manfaat pada masa depan, maka bukankah benih-benih generasi Qur’ani juga harus kita tanam sejak sekarang untuk menyongsong Indonesia Emas 2045?
19 Tahun: Bukan Angka Keramat, tetapi Momentum
Kita memiliki waktu sekitar 19 tahun menuju 2045. Angka ini menarik untuk dijadikan bahan refleksi.
Tentu, 19 bukan angka keramat. Kita tidak perlu memberikan makna sakral yang tidak memiliki dasar. Namun, dalam Al-Qur’an angka 19 memang disebut secara eksplisit dalam QS. Al-Muddaththir ayat 30: *Alaihā tis‘ata ‘asyar”—“Di atasnya ada sembilan belas.” Ayat berikutnya memberikan konteks mengenai angka tersebut.
Angka 19 juga kemudian menjadi objek berbagai kajian numerik terhadap Al-Qur’an. Misalnya, dalam salah satu sistem penghitungan yang menggunakan rasm tertentu, basmalah dihitung memiliki 19 huruf, sedangkan jumlah surah Al-Qur’an sebanyak 114 dapat dinyatakan sebagai 19 × 6. Pola-pola semacam ini telah lama menjadi bahan pembahasan dalam kajian numerik Al-Qur’an.
Kajian yang lebih baru bahkan mencoba menguji secara statistik kemunculan ayat yang dihitung memiliki 19 huruf. Artikel Zia Hashim dan Tarana Hashim dalam Al-Burhān: Journal of Qurʾān and Sunnah Studies tahun 2025 melaporkan 168 ayat dari dataset 6.236 ayat yang dalam metode mereka memiliki 19 huruf, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square dan Poisson.
Namun, penting dicatat bahwa kajian tentang pola angka 19 bukan perkara yang sepenuhnya selesai. Perbedaan sistem penulisan, rasm, cara menghitung huruf dan kata, serta metode penghitungan dapat menghasilkan angka yang berbeda. Bahkan terdapat kajian yang secara kritis mengevaluasi sejumlah klaim tentang “kode 19” dalam Al-Qur’an.
Karena itu, dalam tulisan ini angka 19 tidak dimaksudkan sebagai angka sakral atau sebagai pembuktian matematis terhadap Al-Qur’an. Kita memakainya sebagai angka momentum.
Untuk itu BKPRMI memiliki waktu sekitar 19 tahun untuk menyiapkan generasi yang akan memasuki ruang-ruang strategis kehidupan bangsa pada 2045, yang merupakan momentum Indonesia Emas 2045
Maka, mari kita “kutak-katik” angka 19 bukan untuk mencari kesakralannya, tetapi untuk mengolahnya menjadi agenda kaderisasi.
Sembilan belas tahun adalah waktu untuk menanam. Menanam Hari Ini, Memanen pada 2045
Tidak ada petani yang berharap memanen tanpa terlebih dahulu menanam. Benih yang baik harus ditempatkan pada tanah yang subur, disiram secara teratur, diberi nutrisi, dilindungi dari hama, dan dirawat dengan kesabaran.
Begitu pula pembinaan generasi. Kita tidak dapat berharap lahir generasi Qur’ani pada 2045 jika hari ini kita tidak serius menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an kepada anak dan remaja. Karakter tidak lahir secara instan. Ia tumbuh melalui pembiasaan, keteladanan, lingkungan, pendidikan, pengalaman, dan proses panjang yang berkesinambungan.
Di sinilah hasil Rapimwil BKPRMI perlu dibaca lebih jauh. Komitmen terhadap pembinaan remaja secara berkelanjutan bukan sekadar agenda organisasi, melainkan investasi peradaban.
Generasi yang akan mengisi ruang-ruang kepemimpinan Indonesia pada 2045 adalah anak-anak dan remaja yang sedang kita bina hari ini.
Karena itu, 19 tahun ke depan harus dipandang sebagai masa menebar benih, merawat dengan kasih sayang, memberikan nutrisi ilahiyah, dan mempersiapkan masa panen generasi Qur’ani.
Memberi Nutrisi Ilahiyah di Tengah Perubahan Zaman
Tantangan pembinaan remaja hari ini berbeda dengan masa sebelumnya. Anak-anak dan remaja tumbuh dalam lingkungan digital yang sangat cepat berubah. Mereka berhadapan dengan banjir informasi, media sosial, kecerdasan buatan, budaya populer, dan berbagai nilai yang masuk tanpa mengenal batas ruang.
Teknologi bukan musuh. Namun, teknologi tanpa fondasi moral dapat menjadi ruang yang membuat anak kehilangan arah.
Karena itu, pembinaan remaja tidak cukup hanya dengan meningkatkan kemampuan akademik dan literasi digital. Mereka membutuhkan nutrisi ilahiyah: iman yang kokoh, akhlak yang baik, kesadaran beribadah, kecintaan kepada Al-Qur’an, kemampuan membedakan yang benar dan yang salah, serta tanggung jawab sosial sebagai seorang Muslim dan warga negara.
Generasi Qur’ani bukan sekadar generasi yang mampu membaca Al-Qur’an. Lebih jauh dari itu, generasi Qur’ani adalah generasi yang menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pedoman dalam berpikir, bersikap, berinteraksi, dan mengambil keputusan.
Mereka dapat menggunakan teknologi, tetapi tidak diperbudak teknologi. Mereka mampu mengakses informasi, tetapi memiliki kemampuan menyaring informasi. Mereka terbuka terhadap perubahan, tetapi tidak kehilangan identitas dan nilai keislamannya.
Merawat dengan Kasih Sayang
Ada satu aspek yang sering terlupakan dalam pembinaan generasi: kasih sayang. Remaja tidak cukup hanya diberi nasihat. Mereka membutuhkan ruang untuk didengar, dihargai, dibimbing, dan diberi kesempatan untuk tumbuh. Mereka membutuhkan mentor yang mampu menjadi teladan, bukan sekadar pemberi instruksi.
Karena itu, masjid harus kembali menjadi ruang yang ramah bagi remaja. Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga dapat menjadi pusat pembinaan karakter, literasi Al-Qur’an, pengembangan kreativitas, pendidikan kepemimpinan, literasi digital, dan penguatan kepedulian sosial. Di sinilah BKPRMI memiliki posisi strategis.
Gerakan pembinaan remaja masjid harus bergerak dari pendekatan event oriented menuju development oriented.
Kegiatan tidak berhenti ketika acara selesai. Setelah kegiatan harus ada pendampingan, mentoring, kaderisasi, evaluasi, dan kesinambungan.
Seorang remaja yang hari ini datang ke masjid untuk mengikuti kegiatan harus memiliki jalan untuk berkembang menjadi kader. Kader yang berkembang harus memiliki ruang untuk memimpin. Dan kader yang telah memiliki pengalaman kepemimpinan harus dipersiapkan untuk melahirkan kader berikutnya.
Dengan demikian, kaderisasi menjadi sebuah siklus yang tidak terputus.
Mengubah 19 Tahun Menjadi Agenda Kaderisasi
Angka 19 akan kehilangan makna jika hanya berhenti sebagai angka dalam tulisan. Karena itu, 19 tahun menuju 2045 harus diterjemahkan menjadi agenda yang konkret.
Pertama, menanam iman. Anak dan remaja harus memiliki fondasi tauhid dan kecintaan kepada Allah serta Rasulullah.
Kedua, menumbuhkan kecintaan kepada Al-Qur’an. Al-Qur’an harus hadir bukan hanya dalam perlombaan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari.
Ketiga, membentuk akhlak. Kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kepedulian, toleransi, dan penghormatan terhadap sesama harus menjadi karakter yang hidup.
Keempat, membangun literasi digital Islami. Remaja harus mampu menggunakan media sosial, teknologi digital, dan kecerdasan buatan secara produktif, kritis, etis, dan bertanggung jawab.
Kelima, memberikan pengalaman kepemimpinan. Remaja harus diberi kesempatan untuk mengelola kegiatan, menyelesaikan persoalan, bekerja sama, dan mengambil tanggung jawab.
Keenam, membangun kaderisasi berjenjang. Remaja hari ini harus dipersiapkan menjadi kader esok hari, dan kader hari ini harus disiapkan menjadi pembina generasi berikutnya.
Dengan demikian, 19 tahun tidak hanya menjadi hitungan waktu, tetapi menjadi peta perjalanan kaderisasi.
Dari Bibit Pohon Menjadi Hutan Peradaban
Kembali kepada bibit pohon yang ditawarkan Sekretaris Umum pada akhir Rapimwil. Saya melihatnya sebagai simbol sederhana tentang keikhlasan dalam membangun masa depan.
Sebuah bibit tidak langsung menjadi pohon. Ia membutuhkan tanah, air, cahaya, nutrisi dan perawatan. Begitu pula seorang anak tidak langsung menjadi manusia dewasa yang matang. Ia membutuhkan keluarga, guru, masjid, organisasi, lingkungan sosial, ilmu pengetahuan, keteladanan, dan bimbingan spiritual.
Yang paling penting, ia membutuhkan orang-orang yang bersedia merawatnya dengan sabar, tulus, ikhlas dengan niat pengabdian untuk mewujudkan Khairun naa anfau linnas.
Begitu pula kaderisasi BKPRMI. Kita tidak harus selalu bertanya, “Apa yang akan saya dapatkan dari membina remaja?”
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: Apa yang dapat kita tanam hari ini untuk mereka petik pada masa depan?
Sebab kerja kaderisasi memang seperti menanam pohon. Kita mungkin tidak selalu menikmati buah dari pohon yang kita tanam. Tetapi generasi setelah kita akan menikmati keteduhannya.
Generasi Qur’ani untuk Indonesia Emas
Indonesia Emas 2045 tidak semata-mata ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, kemajuan teknologi, atau pembangunan infrastruktur. Pada akhirnya, kualitas sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas manusianya.
Karena itu, pembangunan sumber daya manusia harus berjalan beriringan dengan pembangunan karakter.
Generasi Qur’ani yang kita harapkan bukan generasi yang eksklusif dan tertutup terhadap perkembangan zaman. Mereka justru harus mampu menghadirkan nilai-nilai Islam sebagai rahmat dalam kehidupan kebangsaan.
- Mereka mampu menguasai teknologi tanpa kehilangan akhlak.
- mampu bersaing tanpa kehilangan kejujuran.
- ampu menjadi pemimpin tanpa kehilangan kerendahan hati.
- Mampu berbeda tanpa kehilangan persaudaraan.
- ampu maju tanpa meninggalkan nilai-nilai ketuhanan.
Inilah generasi yang dibutuhkan Indonesia.
Menanam Hari Ini, Memanen 2045
Rapimwil telah menjadi momentum untuk mempertegas kembali bahwa pembinaan remaja tidak boleh dilakukan secara sporadis. Diperlukan visi jangka panjang, konsistensi program, kaderisasi yang sistematis, serta keberanian untuk berinvestasi pada generasi yang hasilnya mungkin baru terlihat belasan tahun kemudian.
Bibit pohon yang diberikan secara gratis pada akhir Rapimwil mungkin sederhana. Tetapi ia mengajarkan sebuah pesan yang besar: masa depan selalu dimulai dari sesuatu yang kecil yang ditanam hari ini.
Demikian pula generasi Qur’ani. Mereka tidak lahir secara tiba-tiba pada tahun 2045.
Mereka sedang tumbuh di rumah-rumah kita.
Mereka sedang belajar di sekolah dan pesantren.
Mereka sedang bermain di halaman masjid.
Mereka sedang berinteraksi di ruang digital.
Mereka sedang mencari figur yang dapat diteladani.
Pertanyaannya, apakah kita bersedia menjadi generasi yang menanam untuk mereka?
Maka, mari menjadikan 19 tahun menuju 2045 sebagai masa menebar benih Qur’ani.
Benih itu kita tanam melalui pendidikan. Kita siram dengan kasih sayang.
Kita beri nutrisi dengan iman dan ilmu. Kita rawat dengan keteladanan.
Kita lindungi dengan lingkungan yang baik.
Kita kuatkan dengan pengalaman dan kepemimpinan.
Lalu, pada saat Indonesia memasuki satu abad kemerdekaan pada 2045, kita berharap dapat menyaksikan hasil dari ikhtiar panjang tersebut: generasi Qur’ani yang tidak hanya menjadi penonton sejarah, tetapi menjadi pelaku yang ikut mewarnai perjalanan Indonesia.
Itulah legacy yang harus kita siapkan.
Hari ini kita menanam.
19 tahun kita merawat.
2045 kita berharap memanen generasi Qur’ani yang mewarnai Indonesia.
Sebab warisan terbaik sebuah generasi bukan hanya apa yang berhasil dibangunnya, tetapi manusia seperti apa yang berhasil dipersiapkannya untuk melanjutkan masa depan.
Pada akhirnya, mari satukan langkah dan bulatkan tekad menjadikan 19 tahun menuju Indonesia Emas 2045 sebagai masa menanam dan merawat generasi Qur’ani. Pembinaan remaja bukan tugas BKPRMI semata, tetapi tanggung jawab bersama *keluarga, masjid, sekolah, pesantren, perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan seluruh elemen masyarakat. Mari wujudkan kolaborasi dalam langkah nyata: keluarga menanamkan nilai, masjid menyediakan ruang tumbuh dan mentoring, lembaga pendidikan mengembangkan ilmu dan karakter, perguruan tinggi menghadirkan riset serta pendampingan, pemerintah memperkuat kebijakan dan program kepemudaan, dunia usaha mendukung fasilitas dan beasiswa, serta BKPRMI menggerakkan kaderisasi remaja masjid secara berkelanjutan. *Fa idzā ‘azamta fatawakkal ‘alallāh—apabila telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Kita mungkin tidak menikmati seluruh buah dari benih yang kita tanam hari ini, tetapi generasi 2045 akan merasakan manfaatnya.
Satukan langkah, bulatkan tekad, kuatkan kolaborasi; menebar benih Qur’ani hari ini untuk memanen generasi emas yang mewarnai Indonesia 2045.
billāhi fī sabīlil-ḥaqq.