Semarang, Jawa Tengah – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) BKPRMI Jawa Tengah menyatakan keprihatinannya terhadap meningkatnya kasus HIV/AIDS yang terjadi di sejumlah daerah di provinsi tersebut. Fenomena ini dinilai bukan hanya menjadi persoalan kesehatan, tetapi juga menjadi alarm bagi seluruh komponen masyarakat untuk memperkuat pembinaan moral, pendidikan agama, serta ketahanan keluarga dalam menjaga generasi muda.
Ketua Umum DPW BKPRMI Jawa Tengah, Dimas Anafadli, menegaskan bahwa penanganan HIV/AIDS membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan melibatkan berbagai pihak. Menurutnya, peningkatan kasus yang terjadi saat ini tidak dapat dipisahkan dari faktor lingkungan sosial, lemahnya pengawasan keluarga, serta kurangnya pembinaan karakter di kalangan remaja.
“Masalah HIV/AIDS tidak cukup diselesaikan melalui pendekatan medis semata. Diperlukan penguatan nilai-nilai keagamaan, pendidikan karakter, dan pendampingan yang berkesinambungan kepada generasi muda agar mereka mampu menghindari berbagai perilaku berisiko,” ujar Dimas di Semarang, Sabtu (13/6).
Ia menilai masjid memiliki posisi yang sangat strategis sebagai pusat pembinaan umat dan pembentukan karakter generasi muda. Melalui aktivitas keagamaan yang terarah, masjid dapat menjadi ruang edukasi, pengembangan diri, sekaligus benteng moral bagi para remaja dalam menghadapi tantangan zaman.
Untuk itu, BKPRMI Jawa Tengah terus mengintensifkan berbagai program kepemudaan berbasis masjid, seperti pembinaan remaja masjid, pendidikan Al-Qur’an, kajian keislaman, Rumah Qur’an, hingga kegiatan pengembangan karakter yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Dimas juga menekankan pentingnya peran keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak. Menurutnya, orang tua harus mampu membangun komunikasi yang baik dengan anak-anak serta memberikan pendampingan yang memadai agar mereka tidak mudah terpengaruh oleh pergaulan yang negatif maupun informasi digital yang tidak terfilter.
“Keluarga merupakan garda terdepan dalam membentuk karakter anak. Kehadiran orang tua sebagai pembimbing dan teladan sangat menentukan arah perkembangan generasi muda. Pendidikan agama sejak usia dini menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan moral mereka,” katanya.
Di sisi lain, BKPRMI Jawa Tengah menyatakan dukungan penuh terhadap berbagai program pemerintah dan instansi kesehatan dalam upaya edukasi, pencegahan, pendampingan, serta penanganan HIV/AIDS di masyarakat. Organisasi ini juga mengajak seluruh masyarakat untuk mengedepankan sikap empati dan kemanusiaan terhadap para penyandang HIV/AIDS.
“Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak memberikan stigma maupun diskriminasi kepada penyandang HIV/AIDS. Mereka tetap memiliki hak untuk memperoleh dukungan sosial, pendampingan, serta akses layanan kesehatan yang layak,” tegas Dimas.
Sebagai organisasi kepemudaan dan kemasjidan yang memiliki jaringan luas hingga tingkat akar rumput, BKPRMI Jawa Tengah berkomitmen untuk terus memperkuat pembinaan generasi melalui berbagai program dakwah, pendidikan Al-Qur’an, dan pemberdayaan remaja masjid.
Menutup pernyataannya, Dimas mengajak seluruh masyarakat Jawa Tengah untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang sehat, religius, dan berakhlak mulia demi menjaga masa depan generasi penerus bangsa.
“Masjid harus menjadi pusat peradaban dan pembinaan umat. Dengan penguatan iman, akhlak yang baik, serta lingkungan yang sehat, generasi muda akan mampu menghadapi berbagai tantangan zaman dan terhindar dari perilaku yang merugikan diri sendiri maupun masyarakat,” pungkasnya.