Solidaritas Sosial Di Era Digital: Jangan Sampai Kita Hanya Ramai di Layar

Dr. H. Istajib Zain, M.Ag, Ph.D - Ketua Majelis Pakar DPP BKPRMI

Opini – Ada paradoks besar dalam kehidupan manusia hari ini: kita semakin mudah terhubung, tetapi belum tentu semakin peduli.

Satu pesan dapat menjangkau ratusan orang dalam hitungan detik. Satu unggahan dapat memperoleh ribuan tanda suka. Ketika seseorang mengalami musibah, kabarnya bisa menyebar begitu cepat. Namun pertanyaannya sederhana: setelah semua orang tahu, siapa yang benar-benar datang membantu?

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan mengevaluasi arah kehidupan sosial kita.

Jangan-jangan teknologi telah membuat kita mengalami ilusi solidaritas. Kita merasa sudah peduli hanya karena memberikan emoji sedih, menulis “turut prihatin”, membagikan sebuah unggahan, atau menekan tombol like. Padahal, solidaritas tidak pernah selesai di layar.

Kita Terlalu Mudah Menjadi “Penonton” Kehidupan Orang Lain

Media sosial telah mengubah penderitaan manusia menjadi sesuatu yang dapat kita konsumsi. Kita melihat orang sakit, lalu menggulir layar. Kita melihat keluarga kehilangan rumah, lalu menggulir layar. Kita melihat orang membutuhkan bantuan, lalu menggulir layar.

Kita melihat konflik, kemiskinan, ketidakadilan, bahkan kematian—semuanya hadir dalam satu layar yang sama dengan hiburan, promosi, dan konten lucu.

Masalahnya bukan pada teknologi. Masalahnya adalah ketika kepekaan manusia tidak tumbuh secepat teknologi.

Kita menjadi sangat cepat menerima informasi, tetapi lambat merespons penderitaan. Kita cepat memberikan komentar, tetapi lambat memberikan pertolongan. Kita berani berbicara kepada ribuan orang di media sosial, tetapi terkadang tidak sempat menyapa tetangga sendiri.

Solidaritas Tidak Boleh Berhenti pada Simpati

Simpati itu penting. Tetapi masyarakat tidak akan menjadi kuat hanya dengan simpati.

Ketika tetangga sakit, yang dibutuhkan bukan hanya komentar “semoga lekas sembuh”, tetapi mungkin juga kunjungan, makanan, bantuan transportasi, atau sekadar memastikan keluarganya tidak merasa sendirian.

Ketika ada keluarga terkena musibah, yang dibutuhkan bukan hanya unggahan belasungkawa, tetapi kehadiran nyata. Ketika ada warga yang mengalami kesulitan ekonomi, yang dibutuhkan bukan hanya nasihat agar “bersabar”, tetapi juga ikhtiar untuk membantu mereka menemukan jalan keluar.

Solidaritas adalah simpati yang diterjemahkan menjadi tindakan.

Karena itu, ukuran kepedulian bukan berapa banyak orang yang melihat sebuah informasi, melainkan berapa banyak kebaikan yang lahir setelah informasi itu disebarkan.

Grup WhatsApp Jangan Hanya Menjadi Pusat Informasi

Kita hidup dalam masyarakat yang semakin bergantung pada grup komunikasi digital. Ada grup keluarga, grup RT, grup perumahan, grup masjid, grup pekerjaan, grup komunitas, hingga grup alumni.

Namun kita perlu bertanya: apakah grup-grup tersebut hanya menjadi tempat bertukar informasi, atau sudah menjadi ruang membangun kepedulian?

Grup RT, misalnya, jangan hanya aktif ketika membahas iuran, keamanan, sampah, atau pengumuman. Ketika ada warga sakit, grup itu harus menjadi kanal kepedulian. Ketika ada keluarga terkena musibah, grup itu harus menjadi sarana gotong royong.

Digitalisasi masyarakat tidak boleh hanya menghasilkan masyarakat yang cepat menerima informasi, tetapi harus menghasilkan masyarakat yang cepat bergerak untuk kebaikan.

Bahaya Terbesar Bukan Hoaks, tetapi Hilangnya Empati

Kita sering membicarakan bahaya hoaks, ujaran kebencian, dan cyberbullying. Semua itu memang serius. Tetapi ada persoalan yang tidak kalah berbahaya: hilangnya empati.

Hoaks dapat dilawan dengan literasi. Informasi palsu dapat dilawan dengan verifikasi. Tetapi bagaimana kita melawan manusia yang sudah terbiasa melihat penderitaan tanpa lagi merasakan apa-apa?

Jangan sampai algoritma menentukan apa yang kita lihat, sementara ego menentukan apa yang kita pedulikan. Jangan sampai kita hanya peduli kepada orang yang kita kenal, kelompok yang kita sukai, atau persoalan yang menguntungkan kepentingan kita.

Islam Mengajarkan Ukhuwah yang Konkret

Dalam perspektif Islam, persaudaraan bukan sekadar slogan. Al-Qur’an memerintahkan kaum beriman untuk berpegang teguh dan tidak bercerai-berai. Al-Qur’an juga menegaskan pentingnya ta’awun—saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.

Rasulullah SAW menggambarkan orang-orang beriman sebagai satu tubuh: ketika satu bagian merasakan sakit, bagian yang lain ikut merasakannya.

Pesan ini sangat relevan di era digital. Kita tahu siapa yang sedang kesulitan. Kita tahu siapa yang terkena musibah. Kita tahu siapa yang membutuhkan bantuan. Pertanyaannya bukan lagi “Apakah kita tahu?”, tetapi “Setelah kita tahu, apa yang kita lakukan?”

Langkah Nyata Membangun Solidaritas Sosial di Era Digial

1. Ubah “Tahu” Menjadi “Peduli”

Jangan berhenti pada menerima informasi. Ketika mendapatkan kabar tentang tetangga yang sakit, jangan hanya membaca. Tanyakan apa yang dibutuhkan. Informasi adalah awal kepedulian, bukan akhir kepedulian.

2. Ubah “Like” Menjadi “Aksi”

Tidak semua persoalan membutuhkan uang. Kadang yang dibutuhkan adalah waktu, tenaga, jaringan, perhatian, atau sekadar kehadiran. Biasakan bertanya: “Apa yang bisa saya lakukan?” bukan hanya “Apa yang bisa saya komentari?”

3. Bangun Sistem Kepedulian di Lingkungan

Solidaritas jangan bergantung pada spontanitas. RT, RW, masjid, komunitas, dan organisasi sosial dapat membangun mekanisme sederhana: kanal informasi kedaruratan, relawan lingkungan, program kunjungan warga sakit, bantuan bagi keluarga yang terkena musibah, pendampingan warga lanjut usia, pemberdayaan pemuda, dan sistem penggalangan bantuan yang transparan.

4. Jadikan Grup Digital sebagai “Command Center” Kebaikan

Grup WhatsApp atau platform digital jangan hanya menjadi tempat menyebarkan pengumuman. Fungsikan sebagai sarana: Informasi → Verifikasi → Koordinasi → Aksi → Evaluasi. Dengan begitu, teknologi menjadi infrastruktur sosial.

5. Terapkan Etika “Saring Sebelum Sharing”

Sebelum meneruskan informasi, lakukan tiga pemeriksaan: Benarkah? Perlukah? Bermanfaatkah? Jika informasi belum jelas, jangan ikut menyebarkannya.

6. Jadwalkan Kepedulian, Jangan Menunggu Viral

Kita sering bergerak ketika sebuah persoalan menjadi viral. Padahal kebutuhan manusia tidak selalu viral. Karena itu, buat budaya kepedulian yang rutin. Kepedulian harus menjadi kebiasaan, bukan reaksi sesaat.

7. Libatkan Generasi Muda

Pemuda jangan hanya dijadikan pengguna teknologi. Jadikan mereka penggerak solidaritas digital: relawan informasi, pengelola media sosial komunitas, penggerak penggalangan bantuan, pendamping lansia, pengajar anak-anak, dan penggerak kegiatan sosial.

8. Bangun Transparansi dalam Setiap Gerakan Sosial

Kepedulian membutuhkan kepercayaan. Jika masyarakat mengumpulkan dana, jelaskan secara terbuka berapa yang terkumpul, untuk apa, berapa yang disalurkan, dan kepada siapa. Transparansi adalah cara menjaga kepercayaan dan keberlanjutan solidaritas.

9. Kembali ke Kehidupan Nyata

Sesekali letakkan telepon. Keluar dari rumah. Sapa tetangga. Datangi orang yang sedang sakit. Hadiri ketika ada warga berduka. Ikut kerja bakti. Duduk bersama masyarakat. Dengarkan persoalan mereka.

Solidaritas tidak tumbuh hanya karena bandwidth semakin besar. Solidaritas tumbuh karena manusia bersedia hadir bagi manusia lainnya.

Dari Budaya Reaksi Menuju Budaya Aksi

Kita perlu mengubah budaya sosial kita. Dari “Saya sudah membaca” menjadi “Saya sudah peduli”. Dari “Saya sudah membagikan” menjadi “Saya sudah membantu”. Dari “Saya sudah berkomentar” menjadi “Saya sudah berkontribusi”. Dan dari “Semoga ada yang membantu” menjadi “Apa yang bisa saya lakukan?”

Inilah transformasi yang sesungguhnya dibutuhkan.

Penutup: Jangan Sampai Ramai di Layar, Sepi di Kehidupan

Kita tidak mungkin kembali ke zaman sebelum internet. Teknologi akan terus berkembang dan kehidupan digital akan semakin menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Persoalannya bukan apakah kita harus meninggalkan teknologi. Persoalannya adalah bagaimana kita memastikan teknologi tetap berada di tangan manusia yang memiliki hati.

Gunakan teknologi untuk mengetahui. Gunakan teknologi untuk menghubungkan. Gunakan teknologi untuk mengorganisasi. Gunakan teknologi untuk menggalang kekuatan.

Tetapi ketika tiba saatnya menolong, jangan hanya hadir dengan jempol. Hadirlah dengan hati, tenaga, waktu, dan tindakan.

Sebab masyarakat yang kuat bukan masyarakat yang paling ramai di media sosial. Masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang ketika satu orang jatuh, yang lain bersedia mengulurkan tangan.

Teknologi boleh membuat kita semakin dekat secara digital. Tetapi solidaritaslah yang membuat kita tetap dekat sebagai manusia.

Dan jangan sampai kita hidup dalam masyarakat yang ramai di layar, tetapi sepi dalam kehidupan nyata.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *