MAKASSAR, SULAWESI SELATAN — Sebanyak 800 santri dari berbagai Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) binaan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kota Makassar mengikuti Munaqasyah Santri Tahun 2026. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam mengukur capaian pembelajaran sekaligus mengevaluasi kualitas pemahaman keislaman, kemampuan membaca Al-Qur’an, hafalan, serta praktik ibadah para santri.

Munaqasyah yang memasuki pelaksanaan ke-29 tersebut diawali dengan ujian teori yang digelar secara serentak di SMA Negeri 1 Makassar Jl. Gunung Bawakaraeng, Makassar, Ahad (9/8/2026). Para santri mengikuti ujian tertulis dengan materi meliputi Dinul Islam, Ilmu Tajwid, serta Tahsinul Kitabah atau keterampilan menulis huruf Arab (Khat).
Plh. Direktur Daerah LPPTKA BKPRMI Kota Makassar, Akbar Farhan, mengapresiasi pelaksanaan Munaqasyah sebagai instrumen penting untuk memetakan kompetensi santri sekaligus memastikan proses pendidikan di TPA berjalan sesuai dengan standar pembinaan yang telah ditetapkan.
Menurutnya, Munaqasyah tidak boleh dipandang sekadar sebagai ujian untuk memperoleh ijazah, tetapi harus menjadi bagian dari proses pembentukan karakter dan penguatan fondasi keislaman generasi muda.

“Munaqasyah ini bukan sekadar ujian formalitas untuk mendapatkan ijazah, melainkan benteng moral dan pembentukan karakter generasi muda Islam. Kami ingin memastikan para santri di Makassar tidak hanya lancar menghafal, tetapi juga memahami hukum tajwid dan tata cara ibadah secara benar sesuai tuntunan,” ujar Akbar saat meninjau pelaksanaan ujian.
Setelah menyelesaikan ujian teori, para santri akan mengikuti tahapan ujian lisan dan praktik hafalan yang dijadwalkan berlangsung pada 10–20 Agustus 2026. Ujian lisan dilaksanakan secara tersebar di 15 kecamatan se-Kota Makassar, sehingga proses pengujian dapat menjangkau santri dan penguji di berbagai wilayah.
Pada tahap tersebut, santri akan diuji secara langsung mengenai kemampuan membaca dan praktik ibadah sehari-hari. Materi mencakup bacaan dan praktik salat, kelancaran membaca surah-surah pendek, ayat-ayat pilihan, serta hafalan doa-doa harian.

Direktur Wilayah LPPTKA BKPRMI Sulawesi Selatan, Hendra Muhammad Ismail, menyampaikan apresiasi atas konsistensi LPPTKA BKPRMI Kota Makassar yang terus melaksanakan Munaqasyah Santri hingga memasuki pelaksanaan ke-29.
“Selamat dan sukses selalu buat LPPTKA BKPRMI Kota Makassar yang sangat komitmen dan istiqamah melaksanakan kegiatan Munaqasyah Santri TPA hingga yang ke-29 ini,” ungkap Hendra.
Ia menjelaskan, rangkaian Munaqasyah menjadi salah satu sarana untuk melihat sejauh mana kualitas proses pembelajaran dan pendampingan yang dilakukan oleh TPA terhadap santri selama minimal satu tahun pembelajaran.
“Munaqasyah ini diawali dengan ujian teori materi Dinul Islam, Ilmu Tajwid serta Tahsinul Kitabah, dan insyaallah akan dilanjutkan dengan ujian lisan yang berisi ujian bacaan Al-Qur’an dan materi hafalan. Semua ini menjadi wasilah untuk melihat kualitas TPA dan santri binaan dalam pengajaran serta pendampingan minimal selama satu tahun berjalan sesuai kurikulum TPA yang diberlakukan,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua BKPRMI Kota Makassar, Muhammad Khaerul, menegaskan kesiapan jajarannya untuk terus mendukung pembinaan santri sekaligus menyukseskan agenda Wisuda Akbar Santri yang diinisiasi Pemerintah Kota Makassar bersama Kementerian Agama Kota Makassar dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional.

“BKPRMI Makassar siap penuh menyukseskan Wisuda Akbar Santri yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Makassar bersama Kementerian Agama Kota Makassar dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional. Ini menjadi momentum berharga untuk mengapresiasi perjuangan para santri sekaligus memperkuat syiar Islam di Kota Makassar,” tegas Khaerul.
Pelaksanaan Munaqasyah Santri ke-29 ini sekaligus menegaskan peran strategis LPPTKA BKPRMI dalam membangun ekosistem pendidikan Al-Qur’an berbasis masyarakat. Dengan menguji aspek pengetahuan agama, kemampuan membaca Al-Qur’an, hafalan, tulisan Arab, hingga praktik ibadah, proses Munaqasyah diharapkan mampu melahirkan santri yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik keagamaan, tetapi juga memiliki karakter Islami dan mampu mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Sebanyak 800 santri, puluhan TPA, dan 15 kecamatan menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk memastikan pendidikan Al-Qur’an terus tumbuh dan melahirkan generasi Makassar yang Qur’ani, berakhlak, dan siap menjadi generasi penerus bangsa.