Wisuda Akbar 10.000 Santri Sumsel, BKPRMI Launching Gerakan Berantas Buta Baca Tulis Al-Qur’an

Admin BKPRMI

Palembang, Sumatera Selatan — Sebanyak 10.000 santriwan dan santriwati Lembaga Pembinaan dan Pengembangan TK Al-Qur’an (LPPTKA) BKPRMI se-Sumatera Selatan mengikuti Tasyakuran dan Wisuda Akbar Santri di Palembang Sport & Convention Center, Selasa, 12 Rabiul Awwal 1447 H/25 Agustus 2026.

Momentum akbar tersebut sekaligus menjadi tonggak penting bagi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) dengan diluncurkannya Gerakan Berantas Buta Baca Tulis Aksara Al-Qur’an, sebagai bagian dari ikhtiar berkelanjutan untuk mencerdaskan anak bangsa, membangun generasi Qur’ani, sekaligus memperkuat moral dan akhlak generasi muda Indonesia.

Kegiatan ini merupakan rangkaian Tasyakuran Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia sekaligus Tasyakuran Milad BKPRMI ke-49.

Selama 49 tahun, BKPRMI terus meneguhkan khidmahnya melalui masjid, pendidikan Al-Qur’an, pembinaan pemuda, serta berbagai gerakan sosial dan keumatan.

Namun, momentum di Palembang tidak hanya menjadi ajang wisuda. BKPRMI sekaligus menghadirkan empat agenda strategis yang menandai transformasi gerakan pendidikan dan kepemudaan masjid, yaitu:

  1. Launching Gerakan Berantas Buta Baca Tulis Aksara Al-Qur’an;
  2. Launching Kurikulum Ekoteologis untuk TAAM, TKA, TPA dan TQA LPPTKA BKPRMI;
  3. Launching Aplikasi “Bisa Ngaji” sebagai media monitoring dan evaluasi (monev) pembelajaran buku Iqro’ berbasis digital;
  4. Launching YLBH Pemuda Masjid Sumatera Selatan.

Keempat agenda tersebut menjadi bagian dari ikhtiar BKPRMI membangun ekosistem pemuda dan pendidikan masjid yang religius, berkarakter, adaptif terhadap teknologi, peduli lingkungan, sekaligus memiliki kesadaran hukum.

Bagi BKPRMI, Milad ke-49 bukan sekadar perayaan perjalanan organisasi. Momentum ini menjadi kesempatan untuk melakukan refleksi sekaligus menghadirkan inovasi baru dalam pengabdian kepada bangsa dan umat.

Melalui LPPTKA BKPRMI, pendidikan Al-Qur’an telah menjadi salah satu bentuk nyata pengabdian organisasi selama puluhan tahun.

Anak-anak tidak hanya diarahkan untuk mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga dibimbing agar tumbuh dengan kecintaan terhadap Al-Qur’an, memiliki karakter yang baik, serta menjadikan nilai-nilai agama sebagai fondasi kehidupan.

Wisuda 10.000 santri di Sumatera Selatan menjadi simbol bahwa pendidikan Al-Qur’an harus terus diperkuat, diperluas dan ditingkatkan kualitasnya.

Ketua Umum DPP BKPRMI, H. Nanang Mubarok, SHI., M.Sos., menegaskan bahwa gerakan BKPRMI ke depan tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial.

“Wisuda ini bukanlah akhir dari proses belajar Al-Qur’an. Justru ini adalah awal dari perjalanan untuk terus membaca, memahami, mengamalkan dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan. Karena itu, setelah 49 tahun berkhidmat, BKPRMI ingin terus melakukan inovasi dan naik kelas dalam memberikan pelayanan kepada umat dan bangsa,” tegas Nanang.

Peluncuran Gerakan Berantas Buta Baca Tulis Aksara Al-Qur’an dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa kemampuan literasi Al-Qur’an masyarakat Indonesia masih membutuhkan perhatian serius.

Kementerian Agama melalui Survei Nasional Potensi Literasi Al-Qur’an Masyarakat Indonesia 2023 mencatat Indeks Literasi Al-Qur’an Indonesia sebesar 66,038, yang masuk kategori tinggi. Namun, jika dilihat dari kemampuan spesifik, tantangannya masih cukup besar.

Survei terhadap 10.347 responden tersebut menunjukkan bahwa 61,51 persen responden mampu mengenali huruf dan harakat Al-Qur’an, 59,92 persen mampu membaca susunan huruf menjadi kata, 48,96 persen mampu membaca ayat dengan lancar, dan 44,57 persen mampu membaca Al-Qur’an dengan lancar sesuai tajwid. Survei tersebut juga mencatat 38,49 persen responden belum memiliki literasi baca Al-Qur’an.

Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan literasi Al-Qur’an tidak cukup dilihat hanya dari kemampuan mengenali huruf hijaiyah. Kemampuan membaca dengan lancar, benar, dan sesuai kaidah tajwid juga menjadi bagian penting dari literasi Al-Qur’an.

Dalam konteks ini, BKPRMI memandang diperlukan gerakan yang lebih sistematis, terukur, kolaboratif dan berkelanjutan.

Ketua Umum DPP BKPRMI, H. Nanang Mubarok, SHI., M.Sos., menegaskan bahwa persoalan literasi Al-Qur’an tidak boleh dianggap sebagai persoalan pendidikan agama semata.

Menurutnya, kemampuan membaca dan menulis Al-Qur’an memiliki keterkaitan erat dengan pembangunan karakter, moral, dan akhlak generasi bangsa.

“Kita tidak boleh menutup mata terhadap persoalan literasi Al-Qur’an. Data dari berbagai riset menunjukkan bahwa masih ada bagian yang cukup besar dari masyarakat Muslim Indonesia yang membutuhkan penguatan kemampuan membaca dan menulis Al-Qur’an. Karena itu, pemerintah dan seluruh elemen bangsa harus memberikan perhatian yang serius dan berkelanjutan,” ujar Nanang.

Ia menambahkan bahwa pembangunan sumber daya manusia Indonesia tidak cukup hanya mengejar kecerdasan intelektual dan kompetensi ekonomi.

“Kita ingin Indonesia yang maju bukan hanya melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga generasi yang memiliki moral, akhlak, integritas, tanggung jawab dan karakter kebangsaan. Bagi umat Islam, Al-Qur’an merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun karakter tersebut,” jelasnya.

Menurut Nanang, negara, pemerintah daerah, dunia pendidikan, organisasi keagamaan, masjid, keluarga dan masyarakat harus bergerak bersama.

“Gerakan Berantas Buta Baca Tulis Al-Qur’an tidak boleh menjadi gerakan BKPRMI saja. Ini harus menjadi gerakan bersama. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, DPRD, Kementerian Agama, sekolah, pesantren, masjid, ormas Islam, guru ngaji, orang tua, dunia usaha, akademisi dan komunitas harus duduk bersama membangun ekosistem literasi Al-Qur’an,” katanya.

Kurikulum tersebut diarahkan untuk mengenalkan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini dengan pendekatan keagamaan.

Bagi BKPRMI, pendidikan Al-Qur’an harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya mampu membaca kitab suci, tetapi juga memahami pesan-pesan Islam mengenai amanah manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Anak-anak diperkenalkan dengan nilai sederhana seperti menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan, menghemat air, merawat tanaman, menyayangi makhluk hidup dan menjaga lingkungan sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai agama.

Dengan demikian, masjid dan lembaga pendidikan Al-Qur’an diharapkan dapat menjadi pusat pembentukan generasi Qur’ani sekaligus generasi yang peduli terhadap keberlanjutan lingkungan.

“Kita ingin anak-anak belajar bahwa membaca Al-Qur’an harus melahirkan perilaku yang baik terhadap sesama manusia dan juga terhadap alam. Inilah yang kita dorong melalui Kurikulum Ekoteologis,” ungkap Nanang.

Transformasi berikutnya ditandai dengan peluncuran aplikasi “Bisa Ngaji”.

Aplikasi ini dikembangkan sebagai media monitoring dan evaluasi (monev) buku Iqro’ berbasis digital, sekaligus menjadi media penghubung antara Unit Sekolah/Unit LPPTKA, walisantri, BKPRMI dan pemerintah daerah.

Melalui platform tersebut, proses pembelajaran diharapkan dapat dipantau secara lebih sistematis, sehingga perkembangan kemampuan santri dalam belajar membaca Al-Qur’an dapat diketahui secara lebih terukur.

Konsep ini sekaligus membuka ruang kolaborasi antara keluarga dan lembaga pendidikan.

Orang tua atau walisantri dapat memperoleh informasi mengenai perkembangan belajar anak, sementara unit pendidikan dapat melakukan pemantauan dan evaluasi secara lebih terstruktur.

Pada sisi yang lebih luas, sistem digital ini diharapkan dapat menjadi instrumen bagi BKPRMI dan pemerintah daerah untuk memperoleh gambaran mengenai perkembangan literasi Al-Qur’an di wilayah masing-masing.

Gubernur, wali kota dan bupati diharapkan dapat memperoleh data yang lebih baik sebagai dasar untuk merancang kebijakan dan program penguatan pendidikan Al-Qur’an di daerah.

“Bisa Ngaji bukan sekadar aplikasi. Kita ingin membangun jembatan antara guru, orang tua, unit pendidikan, BKPRMI dan pemerintah daerah. Dengan data yang lebih baik, intervensi kebijakan juga akan menjadi lebih tepat,” kata Nanang.

Digitalisasi tersebut sekaligus menjadi langkah BKPRMI untuk membawa pendidikan Al-Qur’an memasuki era baru, tanpa kehilangan ruh dan nilai-nilai pendidikan yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Agenda strategis lainnya adalah peluncuran YLBH Pemuda Masjid Sumatera Selatan.

Kehadiran lembaga ini diarahkan untuk memperkuat kesadaran dan pendampingan hukum bagi pemuda masjid dan masyarakat, sekaligus memberikan ruang bagi pemuda untuk mendapatkan edukasi hukum serta akses terhadap bantuan dan konsultasi hukum sesuai ketentuan yang berlaku.

Bagi BKPRMI, pemuda masjid tidak hanya harus memiliki kapasitas spiritual dan sosial, tetapi juga perlu memiliki literasi hukum agar mampu menjalankan aktivitas organisasi, sosial, ekonomi dan kemasyarakatan secara tertib, bertanggung jawab dan sesuai dengan hukum.

Launching YLBH Pemuda Masjid Sumsel juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pemuda masjid yang semakin profesional.

Dengan demikian, momentum di Palembang tidak hanya berbicara tentang anak-anak yang belajar Al-Qur’an, tetapi juga tentang pemuda yang memiliki karakter, literasi digital, kepedulian lingkungan dan kesadaran hukum.

Dalam gerakan tersebut, LPPTKA BKPRMI akan menjadi salah satu kekuatan utama dalam penguatan pendidikan Al-Qur’an berbasis masyarakat dan masjid.

LPPTKA BKPRMI hadir melalui berbagai satuan pendidikan Al-Qur’an, mulai dari Taman Asuh Anak Muslim (TAAM), Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an (TKA), Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), hingga Ta’limul Qur’an lil Aulad (TQA).

Melalui jaringan tersebut, BKPRMI memiliki modal sosial yang besar untuk memperluas gerakan pemberantasan buta baca tulis Al-Qur’an, khususnya di tingkat keluarga, masjid, desa/kelurahan dan komunitas.

“Gerakan ini harus kita mulai dari anak-anak, tetapi tidak boleh berhenti pada anak-anak. Kita juga ingin membuka ruang pembelajaran Al-Qur’an bagi remaja, pemuda, orang tua, bahkan masyarakat lanjut usia. Tidak boleh ada kata terlambat untuk belajar Al-Qur’an,” kata Nanang.

Ia menekankan bahwa keberhasilan gerakan juga harus diikuti dengan peningkatan kualitas guru dan tenaga pengajar Al-Qur’an.

Keberhasilan gerakan tidak hanya diukur dari jumlah peserta didik yang mengikuti pembelajaran, tetapi juga dari peningkatan kompetensi guru, kualitas pembelajaran, kemampuan membaca sesuai tajwid, kemampuan menulis aksara Al-Qur’an, serta tumbuhnya kecintaan dan pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an.

Tasyakuran dan Wisuda Akbar 10.000 santri serta rangkaian launching tersebut dihadiri oleh unsur pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat keamanan dan jajaran pimpinan BKPRMI.

Di antara tamu undangan yang hadir antara lain:

  • Menteri Agama RI, yang diwakili oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam;
  • Gubernur Sumatera Selatan, Dr. H. Herman Deru, SH., MH.;
  • Kapolda Sumatera Selatan;
  • Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama RI Provinsi Sumatera Selatan;
  • Bupati Ogan Komering Ulu Timur (OKU Timur);
  • Bupati Penukal Abab Lematang Ilir (PALI);
  • Plt. Bupati Muara Enim;
  • Bupati Ogan Komering Ilir (OKI);
  • Bupati Musi Banyuasin (MUBA);
  • Bupati Lahat;
  • Wali Kota Lubuk Linggau;
  • Wali Kota Palembang;
  • Ketua Umum DPP BKPRMI, H. Nanang Mubarok, SHI., M.Sos.;
  • Direktur Nasional LBHA BKPRMI, Amelia Suhaeli, SH., MH;
  • Sekretaris Nasional LPPTKA BKPRMI, Ir. H. Abdul Kadir.

Kehadiran unsur pemerintah pusat dan daerah tersebut menjadi simbol penting bahwa agenda pendidikan Al-Qur’an, pembentukan karakter generasi muda, digitalisasi pendidikan, kepedulian lingkungan dan perlindungan hukum pemuda membutuhkan kolaborasi lintas sektor.

Peluncuran Gerakan Berantas Buta Baca Tulis Aksara Al-Qur’an di Palembang diharapkan menjadi momentum untuk menggelorakan gerakan serupa di seluruh Indonesia.

BKPRMI memandang bahwa masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga harus menjadi pusat pendidikan, pembinaan generasi muda, pemberdayaan masyarakat dan pembangunan peradaban.

Karena itu, gerakan pemberantasan buta baca tulis Al-Qur’an akan didorong menjadi bagian dari penguatan ekosistem pendidikan masjid.

Momentum 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia dan Milad ke-49 BKPRMI menjadi pengingat bahwa kemerdekaan harus terus diisi dengan pembangunan manusia Indonesia yang cerdas, berkarakter dan berakhlak.

“Kami ingin menjadikan Palembang sebagai salah satu momentum penting. Dari Sumatera Selatan kita kobarkan semangat bahwa setiap anak Indonesia berhak mendapatkan kesempatan belajar Al-Qur’an. Kita ingin lahir generasi yang merdeka secara intelektual, kuat karakternya, peduli terhadap lingkungan, melek teknologi, sadar hukum dan dekat dengan Al-Qur’an,” ujar Nanang.

Wisuda Akbar 10.000 santri pun tidak berhenti sebagai seremoni. Ia menjadi simbol dari sebuah ikhtiar yang lebih besar:

membaca Al-Qur’an, memahami Al-Qur’an, mengamalkan Al-Qur’an, menjaga lingkungan, memahami hukum, dan menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai bagian dari karakter generasi Indonesia.

Setelah 49 tahun berkhidmat, BKPRMI menegaskan kembali komitmennya:

Dari Palembang untuk Indonesia.
Dari masjid untuk peradaban.
Dari Al-Qur’an untuk generasi masa depan.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *