Oleh: H. Nanang Mubarok, SHI., M.Sos. | Ketua Umum DPP BKPRMI
- SANTRI: Siap Amankan Negara Tercinta Republik Indonesia.
- TNI Lahir dari Rahim Perjuangan Rakyat
- Panglima Soedirman: Guru, Santri dan Panglima
- Masjid sebagai Sekolah Kehidupan
- BKPRMI: Meneruskan Tradisi Kaderisasi dari Masjid
- Bela Negara Tidak Selalu Mengangkat Senjata
- Dari SANTRI untuk Indonesia Emas
- Menghidupkan Kembali Spirit SANTRI
- Selamat HUT ke-81 TNI.
OPINI – Setiap tanggal 5 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI). Momentum ini bukan sekadar perayaan institusional, tetapi kesempatan untuk kembali mengingat sejarah perjuangan bangsa: bagaimana kemerdekaan dipertahankan, bagaimana rakyat berhimpun menjaga Republik, dan bagaimana dari rahim perjuangan itu lahir sebuah tentara nasional.
Di balik sejarah panjang tersebut, ada satu kata yang menarik untuk kita renungkan bersama: SANTRI.
Bagi saya, SANTRI tidak hanya dapat dipahami sebagai sebutan bagi seseorang yang belajar ilmu agama di pesantren. Dalam perspektif gerakan pemuda dan remaja masjid, SANTRI dapat kita maknai sebagai:
S — Siap
A — Amankan
N — Negara
T — Tercinta
R — Republik
I — Indonesia
SANTRI: Siap Amankan Negara Tercinta Republik Indonesia.
Tentu, ini bukanlah definisi terminologis tentang santri, melainkan sebuah akronim nilai untuk menghidupkan kembali semangat pengabdian yang sejak dahulu melekat dalam tradisi pendidikan Islam: beriman, berilmu, berakhlak, disiplin, mandiri, memiliki kepemimpinan, mencintai tanah air dan siap memberikan yang terbaik bagi bangsa.
Dan menariknya, sejarah Indonesia memperlihatkan bahwa semangat keagamaan, kepemudaan, kerakyatan dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan pernah bertemu dalam satu ruang sosial yang sangat penting: masjid.
TNI Lahir dari Rahim Perjuangan Rakyat
Sejarah TNI tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan rakyat Indonesia mempertahankan kemerdekaan. Sesudah Proklamasi 17 Agustus 1945, kebutuhan untuk menjaga keamanan dan mempertahankan Republik semakin mendesak. Pada fase awal, pemerintah membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR). BKR kemudian berkembang menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945.
Dalam perkembangan berikutnya, TKR berubah menjadi Tentara Keselamatan Rakyat, kemudian menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI). Upaya menyatukan tentara reguler dengan berbagai laskar perjuangan akhirnya melahirkan Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada 3 Juni 1947.
Dengan demikian, sejarah TNI sesungguhnya adalah sejarah tentang proses konsolidasi kekuatan bangsa. TNI bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba. Ia tumbuh dari rakyat yang berjuang, dari para pemuda, bekas prajurit, laskar perjuangan dan berbagai unsur masyarakat yang bersama-sama mempertahankan kemerdekaan.
Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI bahkan menegaskan jati diri historis TNI sebagai Tentara Rakyat, Tentara Pejuang, Tentara Nasional dan Tentara Profesional. Dalam sejarah pembentukannya, unsur rakyat bersenjata termasuk Barisan Pemuda, Hizbullah, Sabilillah, Pelopor, laskar dan tentara pelajar menjadi bagian dari kekuatan perjuangan yang kemudian mengalami proses konsolidasi menuju TNI.
Di titik inilah kita menemukan relevansi penting dengan spirit SANTRI.
Karena perjuangan mempertahankan Indonesia bukan hanya dilakukan oleh mereka yang secara formal mengenakan seragam militer. Ada ulama, santri, pemuda, guru, pelajar dan rakyat biasa yang memberikan tenaga, pikiran, harta bahkan nyawanya untuk Republik.
Panglima Soedirman: Guru, Santri dan Panglima
Jika kita berbicara tentang sejarah TNI, sulit rasanya untuk tidak menyebut sosok Jenderal Soedirman. Ia bukan sekadar Panglima Besar. Ia adalah simbol tentang bagaimana ilmu, agama, pendidikan, kepemimpinan dan pengabdian kepada bangsa dapat menyatu dalam satu pribadi.
Soedirman memiliki latar belakang pendidikan dan aktivitas di lingkungan Muhammadiyah serta dikenal sebagai seorang guru. Kajian sejarah juga mencatat latar belakangnya sebagai bagian dari tradisi santri Muhammadiyah.
Setelah Proklamasi, ketika kekuatan bersenjata Republik sedang dibentuk, Soedirman terlibat dalam proses awal pembentukan kekuatan pertahanan. Ia kemudian terpilih sebagai Panglima Besar dalam Konferensi TKR di Yogyakarta pada 12 November 1945 dan pada 18 Desember 1945 ditetapkan sebagai Panglima Besar TKR dengan pangkat Jenderal.
Ketika TNI secara resmi terbentuk pada 3 Juni 1947, Soedirman kemudian menjadi bagian sentral dalam kepemimpinan TNI dan dilantik sebagai Panglima Besar TNI pada 28 Juni 1947.
Namun yang paling penting dari Soedirman bukan hanya pangkat dan jabatannya. Yang penting adalah keteladanannya. Ia menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus memiliki keyakinan, disiplin, keberanian, kesetiaan kepada negara dan kemampuan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi.
Bahkan dalam kondisi kesehatan yang sangat berat, Soedirman tetap memimpin perjuangan gerilya ketika Republik menghadapi Agresi Militer Belanda. Sejarah perjuangannya memperlihatkan bahwa pengabdian kepada negara tidak selalu lahir dari kondisi yang ideal; terkadang justru lahir dari pengorbanan yang luar biasa.
Inilah salah satu wajah SANTRI yang sesungguhnya: belajar, berakhlak, memimpin dan berani mengabdi.
Masjid sebagai Sekolah Kehidupan
Lalu apa hubungannya dengan masjid? Hubungannya sangat erat. Dalam tradisi Islam, masjid bukan hanya tempat melaksanakan salat. Masjid juga merupakan ruang pendidikan, pembinaan umat, musyawarah, pembentukan solidaritas dan pengembangan kepemimpinan.
● Di masjid, para santri belajar membaca Al-Qur’an.
● Di masjid mereka belajar ilmu agama.
● Di masjid mereka belajar adab dan kedisiplinan.
● Di masjid mereka belajar hidup bersama.
● Di masjid mereka belajar memimpin dan dipimpin.
● Di masjid mereka belajar bertanggung jawab.
Dan dalam konteks sejarah perjuangan bangsa, ruang-ruang pendidikan keagamaan juga ikut melahirkan kesadaran untuk mempertahankan kemerdekaan.
Karena itu, kita perlu mengembalikan masjid sebagai sekolah kehidupan. Sekolah yang tidak hanya mencetak manusia yang saleh secara individual, tetapi juga manusia yang memiliki kepedulian sosial dan tanggung jawab kebangsaan.
BKPRMI: Meneruskan Tradisi Kaderisasi dari Masjid
Di sinilah BKPRMI memiliki tanggung jawab sejarah. BKPRMI adalah organisasi gerakan kader dakwah dan pembinaan bagi pemuda remaja masjid di seluruh Indonesia.
Artinya, tugas BKPRMI bukan sekadar mengisi agenda kegiatan masjid. Lebih jauh dari itu, BKPRMI memiliki misi membangun kader pemuda dan remaja masjid. Kaderisasi tersebut harus melahirkan generasi yang mampu membaca Al-Qur’an sekaligus membaca realitas kehidupan.
● Generasi yang kuat ibadahnya sekaligus kuat keterampilannya.
● Generasi yang santun akhlaknya sekaligus berani menghadapi tantangan zaman.
● Generasi yang mampu menjadi imam dalam kehidupan spiritual, sekaligus mampu menjadi pemimpin dalam kehidupan sosial.
● Dan tentu saja, generasi yang mencintai Indonesia.
Karena itu, bagi BKPRMI, masjid harus menjadi pusat pembentukan karakter, kepemimpinan, keterampilan, kemandirian dan kepedulian kebangsaan.
Bela Negara Tidak Selalu Mengangkat Senjata
Bela negara juga tidak boleh dimaknai secara sempit. Bela negara memang memiliki dimensi pertahanan dan keamanan, dan TNI merupakan komponen utama pertahanan negara. Namun dalam kehidupan masyarakat, kecintaan kepada Indonesia dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk pengabdian.
● Guru mengaji yang mendidik anak-anak dengan Al-Qur’an sedang membangun karakter bangsa.
● Pemuda masjid yang membantu masyarakat sedang memperkuat ketahanan sosial.
● Petani yang menjaga ketahanan pangan sedang membela negeri.
● Pengusaha muda yang membuka lapangan pekerjaan sedang memperkuat ekonomi nasional.
● Pelajar yang tekun belajar sedang mempersiapkan masa depan Indonesia.
● Relawan yang membantu korban bencana sedang menunjukkan kepedulian kebangsaan.
● Dan prajurit TNI yang menjaga kedaulatan negara menjalankan tugas pertahanan sesuai amanat negara.
Semua memiliki ruang pengabdian masing-masing. Karena itu, bela negara adalah kesadaran untuk memberikan yang terbaik bagi Indonesia sesuai dengan profesi, kompetensi dan tanggung jawab masing-masing.
Dari SANTRI untuk Indonesia Emas
Indonesia sedang menuju Indonesia Emas 2045. Tantangan generasi muda semakin kompleks. Ancaman terhadap bangsa tidak hanya berupa konflik bersenjata. Ada tantangan disinformasi, narkoba, degradasi moral, intoleransi, radikalisme, krisis lingkungan, ketahanan pangan, kesenjangan ekonomi dan berbagai persoalan sosial lainnya.
Karena itu, kita membutuhkan generasi yang memiliki ketahanan spiritual, intelektual, sosial, ekonomi, digital dan kebangsaan.
Masjid dapat menjadi salah satu basis strategis untuk membangun ketahanan tersebut. Kita membutuhkan:
● SANTRI yang mampu membaca Al-Qur’an sekaligus membaca perubahan zaman.
● SANTRI yang kuat ibadahnya sekaligus kuat keterampilannya.
● SANTRI yang santun akhlaknya sekaligus berani menghadapi tantangan.
● SANTRI yang mencintai masjid sekaligus mencintai tanah air.
● SANTRI yang memahami bahwa menjaga kedamaian, persatuan dan kemaslahatan Indonesia merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai warga negara.
Dalam konteks itulah keteladanan Panglima Besar Jenderal Soedirman menjadi relevan bagi generasi muda hari ini. Ia mengajarkan bahwa pendidikan membentuk karakter, karakter membentuk kepemimpinan, dan kepemimpinan harus diabdikan untuk kepentingan bangsa.
Menghidupkan Kembali Spirit SANTRI
HUT ke-81 TNI seharusnya menjadi momentum bagi kita semua untuk kembali mengingat akar sejarah bangsa. TNI tumbuh dari rakyat. TNI lahir dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Di dalam sejarah perjuangan itu terdapat pemuda, ulama, santri dan berbagai unsur masyarakat.
Maka, hubungan antara masyarakat, masjid, santri dan TNI bukanlah sesuatu yang harus dibangun dari nol. Ia memiliki akar sejarah yang panjang dalam perjalanan bangsa. Tugas kita sekarang adalah meneruskan nilai-nilai baik tersebut dalam konteks zaman yang baru.
BKPRMI ingin agar masjid kembali menjadi tempat lahirnya generasi SANTRI yang: Beriman dalam keyakinan, berilmu dalam pikiran, berakhlak dalam tindakan, terampil dalam kehidupan, disiplin dalam perjuangan, mandiri dalam ekonomi, dan siap mengabdi untuk Indonesia.
● Kita ingin pemuda dan remaja masjid tidak hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi menjadi pelaku perubahan.
● Kita ingin santri bukan hanya pandai mengaji, tetapi juga mampu memimpin.
● Kita ingin masjid bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi menjadi pusat peradaban.
● Dan kita ingin setiap generasi muda memahami bahwa kecintaan kepada agama dan kecintaan kepada tanah air dapat berjalan bersama dalam bingkai kemaslahatan, persatuan dan tanggung jawab kebangsaan.
Dari masjid kita belajar.
Dari SANTRI kita ditempa.
Dari para pejuang kita belajar mengabdi.
Dari keteladanan Panglima Soedirman kita belajar memimpin.
Dan untuk Indonesia, kita berikan yang terbaik.
Selamat HUT ke-81 TNI.
TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur.
Semoga TNI senantiasa menjadi bagian penting dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dan semoga dari masjid-masjid Indonesia terus lahir generasi SANTRI—Siap Amankan Negara Tercinta Republik Indonesia—yang beriman, berilmu, berakhlak, berdaya dan siap mengabdi untuk negeri.
Dari Masjid untuk Negeri.
Dari SANTRI untuk Indonesia.