KALIMANTAN BARAT — Musyawarah Wilayah (Muswil) VIII Dewan Pengurus Wilayah Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (DPW BKPRMI) Kalimantan Barat yang digelar pada 26–27 September 2026 menjadi momentum penting bagi konsolidasi organisasi, regenerasi kepemimpinan, sekaligus peneguhan kembali jati diri BKPRMI sebagai gerakan pemuda dan remaja masjid di Indonesia.
Ketua Umum DPP BKPRMI H. Nanang Mubarok, SHI., M.Sos., di dampingi Ketua I DPP BKPRMI Bidan Organisasi dan Pengembangan Wilayah, Drs. H. Yeyen Munawar RZ, hadir dalam kegiatan Muswil VIII tersebut. Nanang Mubarok memberikan sambutan dan arahan, menegaskan bahwa perjalanan BKPRMI selama hampir setengah abad bukan semata-mata karena usia organisasi, melainkan karena adanya kekuatan nilai, masjid, generasi muda, kaderisasi dan gerakan yang terus dipelihara dari generasi ke generasi.
Dalam kesempatan tersebut, DPP BKPRMI menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Dr. H. Firdaus Zar’in, M.Si., Ketua Umum DPW BKPRMI Kalimantan Barat beserta seluruh jajaran pengurus yang telah menuntaskan masa khidmat selama dua periode.
“DPP BKPRMI menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Bapak Dr. H. Firdaus Zar’in, M.Si., beserta seluruh jajaran pengurus DPW BKPRMI Kalimantan Barat yang telah menunaikan amanah organisasi selama dua periode. Semoga seluruh pengabdian, perjuangan, tenaga, pikiran dan waktu yang telah diberikan menjadi jariyah kebaikan dan jariyah pahala yang terus mengalir,” ujar Nanang.
Menurutnya, pergantian kepemimpinan dalam organisasi bukanlah akhir dari sebuah pengabdian, melainkan bagian dari kesinambungan perjuangan.
Irsan Terpilih Aklamasi, Lanjutkan Estafet Kepemimpinan
Muswil VIII DPW BKPRMI Kalimantan Barat juga menetapkan H. Irsan, S.Ag., MH. sebagai Ketua Umum DPW BKPRMI Kalimantan Barat masa khidmat 2026–2031.
Irsan terpilih secara aklamasi dan mufakat, yang mencerminkan semangat kebersamaan serta keinginan seluruh peserta Muswil untuk menjaga soliditas dan kesinambungan organisasi.
DPP BKPRMI menyampaikan ucapan selamat sekaligus harapan agar kepemimpinan baru tersebut mampu membawa BKPRMI Kalimantan Barat semakin maju, solid, profesional dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi umat, masyarakat, bangsa dan negara.
“Selamat kepada H. Irsan, S.Ag., MH., yang telah mendapatkan amanah sebagai Ketua Umum DPW BKPRMI Kalimantan Barat masa khidmat 2026–2031. Semoga mampu menjaga amanah, melanjutkan kebaikan yang telah dibangun para pendahulu dan membawa BKPRMI Kalimantan Barat semakin maju serta semakin besar manfaatnya bagi masyarakat,” kata Nanang.
Ia menekankan, kepemimpinan BKPRMI tidak boleh berhenti pada pergantian struktur organisasi. Kepemimpinan harus diterjemahkan menjadi energi baru untuk memperkuat kaderisasi, memperluas gerakan dan menghadirkan kebermanfaatan yang nyata.
Kembali kepada Lima Keunggulan BKPRMI
Dalam arahannya, Nanang Mubarok mengajak seluruh jajaran BKPRMI untuk kembali kepada keunggulan-keunggulan fundamental yang selama ini menjadi kekuatan organisasi.
Menurutnya, BKPRMI dapat bertahan dan berkembang hingga memasuki usia 49 tahun serta menyongsong setengah abad pada 2027, karena organisasi ini memiliki fondasi perjuangan yang khas.
Setidaknya terdapat lima kekuatan utama BKPRMI yang harus terus dirawat dan dikembangkan.
Pertama, kekuatan tauhid.
Tauhid merupakan kekuatan spiritual yang menjadi fondasi seluruh perjuangan BKPRMI. Hal tersebut tercermin dalam identitas dan logo organisasi yang memuat kalimat tauhid atau dua kalimat syahadat.
Salah satu citra diri kader BKPRMI adalah Muwahhid, yang memiliki makna menyatukan dan mempersatukan.
“Tauhid bukan sekadar simbol. Tauhid adalah kekuatan spirit, kekuatan niat dan kekuatan orientasi yang melandasi seluruh gerakan perjuangan dan dakwah BKPRMI,” tegas Nanang.
Dengan fondasi tauhid, gerakan BKPRMI diarahkan agar senantiasa memiliki orientasi pengabdian kepada Allah SWT sekaligus menghadirkan kemaslahatan bagi manusia.
Kedua, kekuatan masjid.
Bagi BKPRMI, masjid bukan sekadar tempat melaksanakan ibadah ritual. Masjid merupakan salah satu pilar peradaban menuju kejayaan dan keberkahan umat serta bangsa.
“Bagi BKPRMI, masjid bukan hanya pusat ibadah. Masjid harus menjadi pusat peradaban,” ujarnya.
Paradigma tersebut menuntut agar masjid mampu menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda, pusat pendidikan Al-Qur’an, pusat pembinaan umat, pusat pemberdayaan sosial, sekaligus ruang tumbuh ekonomi dan kebudayaan masyarakat.
Dengan demikian, semangat yang dibangun bukan hanya bagaimana memakmurkan masjid, tetapi juga bagaimana masjid memakmurkan umat.
Ketiga, kekuatan generasi muda.
Nanang menegaskan bahwa BKPRMI memiliki akar rumput yang jelas dan luas, yakni pemuda dan remaja masjid, santriwan-santriwati Al-Qur’an pada TAAM, TKA, TPA dan TQA binaan LPPTKA BKPRMI, termasuk para guru dan ustadz/ustadzah yang mengajarkan Al-Qur’an dengan metodologi Iqro di berbagai daerah di Indonesia.
Kekuatan tersebut semakin besar dengan keberadaan anggota, kader dan pengurus struktural BKPRMI mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan hingga desa/kelurahan.
“Ini adalah kekuatan nyata BKPRMI. Karena itu, generasi muda tidak boleh hanya ditempatkan sebagai objek program, tetapi harus menjadi subjek dan pelaku utama gerakan,” katanya.
Keempat, kekuatan kaderisasi.
Kaderisasi, lanjut Nanang, merupakan ruh organisasi. Sebuah organisasi dapat terus bergerak, bertahan dan menebarkan manfaat karena ada kader yang menjadi energi penggeraknya.
“Organisasi bisa memiliki program yang bagus, struktur yang lengkap dan sumber daya yang besar. Tetapi tanpa kaderisasi, organisasi akan kehilangan ruhnya,” ujar Nanang.
Karena itu, kaderisasi harus menjadi arus utama di seluruh tingkatan kepengurusan BKPRMI.
Kelima, kekuatan gerakan.
Nanang mengingatkan agar BKPRMI tidak terjebak dalam rutinitas program dan kegiatan yang berhenti pada seremoni.
Menurutnya, BKPRMI harus membangun gerakan bersama (movement).
“Program dan kegiatan jangan sampai selesai ketika acara selesai. Kita harus membangun gerakan yang berkelanjutan, terprogram, sistematis, terstruktur dan semakin luas dampaknya,” katanya.
Dengan pendekatan gerakan, setiap program BKPRMI diharapkan memiliki kesinambungan, melibatkan masyarakat dan menghasilkan dampak yang dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Khittah, Digitalisasi dan Kemandirian Organisasi
Nanang juga menjelaskan sejumlah kebijakan organisasi DPP BKPRMI periode 2024–2029 yang menjadi arah bersama seluruh jajaran organisasi, termasuk DPW BKPRMI Kalimantan Barat.
Pertama adalah mengarusutamakan Khittah Perjuangan dan Sistem Kaderisasi BKPRMI di semua level kepengurusan.
Khittah menjadi kompas perjuangan organisasi, sedangkan kaderisasi menjadi mekanisme untuk memastikan nilai dan perjuangan tersebut diwariskan secara berkelanjutan kepada generasi berikutnya.
Kedua adalah digitalisasi organisasi, khususnya pembangunan database organisasi yang terintegrasi. Berkaitan dengan hal tersebut DPP BKPRMI telah membuat SuperApp Gerbang Emas
Database tersebut mencakup data pengurus, kader, anggota, masjid dan mushalla, lembaga pendidikan seperti TAAM, TKA, TPA dan TQA, guru/ustadz/ustadzah mengaji Al-Qur’an khususnya yang mengajarkan metodologi Iqro, hingga database aset organisasi seperti gedung, kendaraan, tanah dan aset lainnya.
“Organisasi modern harus berbasis data. Kita tidak mungkin membangun kebijakan yang tepat jika kita tidak mengetahui secara tepat siapa kader kita, di mana basis kita, berapa lembaga kita dan apa saja aset yang kita miliki,” jelas Nanang.
Ketiga adalah GERBANG EMAS (Gerakan Bangun Ekonomi Masjid) sebagai ikhtiar pemberdayaan dan kemandirian organisasi melalui penguatan kolaborasi dan kemitraan dengan berbagai stakeholder.
Dalam beberapa tahun terakhir, DPP BKPRMI telah membangun berbagai kerja sama dengan pemerintah maupun sektor swasta, antara lain melalui kerja sama dengan Kementerian Koperasi, Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Kementerian Pertanian dan BPJS Ketenagakerjaan.
Menurut Nanang, kolaborasi tersebut merupakan bagian dari strategi untuk memperluas manfaat organisasi sekaligus memperkuat kapasitas kelembagaan BKPRMI.
Dari Muswil Kalbar Menuju Setengah Abad BKPRMI
Muswil VIII BKPRMI Kalimantan Barat menjadi bagian dari perjalanan besar BKPRMI menuju usia setengah abad pada 2027.
Momentum tersebut, menurut Nanang, harus dimaknai bukan hanya sebagai perayaan usia organisasi, tetapi sebagai kesempatan melakukan refleksi sekaligus menatap masa depan.
“Setengah abad bukan sekadar angka. Setengah abad adalah momentum untuk bertanya kepada diri kita: apa yang telah kita wariskan dan apa yang akan kita bangun untuk generasi berikutnya?” ujarnya.
Ia mengajak seluruh kader BKPRMI untuk menjadikan masjid sebagai pusat pembentukan generasi, menjadikan pemuda sebagai kekuatan perubahan, menjadikan kaderisasi sebagai ruh organisasi dan menjadikan program sebagai gerakan yang berdampak.
“Dari masjid kita membangun manusia. Dari manusia kita membangun masyarakat. Dari masyarakat kita membangun peradaban,” tutur Nanang.
Karena itu, Muswil VIII BKPRMI Kalimantan Barat diharapkan tidak berhenti sebagai forum pergantian kepemimpinan, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat konsolidasi organisasi, memperluas dakwah, meningkatkan kualitas kaderisasi dan menghadirkan gerakan pemuda masjid yang semakin relevan dengan tantangan zaman.
DPP BKPRMI juga berharap kepemimpinan baru DPW BKPRMI Kalimantan Barat di bawah H. Irsan, S.Ag., MH., dapat melanjutkan estafet perjuangan sekaligus melahirkan berbagai inovasi baru yang menjadikan BKPRMI semakin dekat dengan masyarakat.
“Meneguhkan peran masjid, menggerakkan pemuda dan membangun peradaban. Inilah spirit yang harus terus kita jaga bersama menuju setengah abad BKPRMI dan Indonesia Emas 2045,” pungkas Nanang Mubarok.