Opini – Indonesia sedang berada di persimpangan sejarah penting dalam urusan pangan. Ketika dunia masih dibayangi krisis global—mulai dari konflik geopolitik, perubahan iklim, hingga disrupsi rantai pasok—Indonesia justru menatap masa depan dengan optimisme menuju swasembada. Namun pertanyaan mendasarnya bukan sekadar apakah pangan kita cukup, melainkan apakah kemandirian itu benar-benar berakar di tengah rakyat?
Selama ini, swasembada pangan sering dimaknai sebagai capaian angka nasional: produksi naik, impor ditekan, dan cadangan aman. Padahal, swasembada sejati tidak berhenti di neraca negara. Ia harus hadir nyata di tingkat keluarga, kampung, dan komunitas. Di sinilah masjid menemukan kembali peran strategisnya—bukan hanya sebagai pusat ibadah ritual, tetapi sebagai pusat peradaban, penguatan sosial, dan kemandirian umat.
Swasembada yang Mulai Terlihat, Tantangan yang Masih Nyata
Beberapa tahun terakhir menunjukkan sinyal positif. Sejumlah komoditas strategis nasional telah berada pada posisi swasembada, bahkan melangkah ke pasar ekspor. Beras relatif terjaga, jagung menopang kebutuhan pangan dan pakan, sementara ayam ras, telur, singkong, kelapa, serta berbagai produk hortikultura menjadi penyangga konsumsi domestik. Indonesia juga dikenal sebagai eksportir penting produk turunan kelapa, rempah-rempah, perikanan, dan hasil pertanian tropis.
Fakta ini menegaskan bahwa Indonesia bukan bangsa kekurangan pangan. Kita adalah bangsa besar dengan sumber daya melimpah. Persoalan utamanya bukan semata produksi, melainkan pemerataan, keberlanjutan, dan keterlibatan rakyat. Tanpa basis sosial yang kuat, swasembada mudah rapuh ketika krisis datang.
Pangan dalam Perspektif Nilai dan Peradaban
Dalam perspektif Islam, pangan bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi amanah langat melalui Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW mengajarkan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar umat—termasuk pangan—adalah bagian dari tanggung jawab kolektif. Masjid sejak awal sejarah Islam tidak hanya menjadi tempat shalat, tetapi pusat distribusi bantuan, solidaritas sosial, dan penguatan ekonomi umat.
Karena itu, menghidupkan kembali peran masjid dalam agenda pangan bukanlah romantisme masa lalu, melainkan kebutuhan masa depan. Ketika masjid berperan aktif, pangan tidak hanya tersedia, tetapi terdistribusi secara adil. Ketahanan pangan pun tidak berhenti di gudang negara, melainkan hadir di dapur-dapur umat.
Pemuda Masjid dan Energi Kemandirian
Indonesia sedang menikmati bonus demografi. Pemuda masjid adalah bagian paling strategis dari kekuatan ini. Mereka adaptif, kreatif, dan memiliki jejaring sosial yang luas. Tantangannya bukan pada kapasitas, tetapi pada arah dan ekosistem.
Pemuda masjid harus didorong menjadi pelaku utama pertanian komunitas, peternakan terpadu, perikanan masjid, pertanian urban, hingga pengelolaan pangan berbasis teknologi. Ketika pemuda masjid terlibat langsung dalam produksi dan distribusi pangan, swasembada tidak lagi menjadi jargon kebijakan, tetapi gerakan sosial yang hidup.
GERBANG EMAS: Model Kemandirian dari Masjid
Di sinilah GERBANG EMAS (Gerakan Bangun Ekonomi Masjid) menemukan relevansinya. GERBANG EMAS adalah kerangka gerakan yang menempatkan masjid sebagai pusat penggerak ekonomi umat, termasuk sektor pangan. Mulai dari pemetaan potensi lokal, pengelolaan lahan produktif, koperasi dan BUMMas (Badan Usaha Milik Masjid), hingga distribusi pangan berbasis zakat, infak, sedekah, dan wakaf produktif.
Melalui pendekatan ini, masjid tidak berjalan sendiri. Ia terhubung dari pusat hingga daerah, dari desa hingga kota. Sebagai organisasi pemuda masjid terbesar di Indonesia, BKPRMI meyakini bahwa swasembada pangan akan kokoh jika ditopang oleh gerakan umat yang terstruktur, masif, dan berkelanjutan.
Menuju Indonesia Emas 2045: Pangan sebagai Fondasi Bangsa
Visi Indonesia Emas 2045 menargetkan Indonesia menjadi negara maju, berdaulat, dan berkeadilan. Namun tidak ada bangsa maju tanpa ketahanan pangan yang kuat. Tidak ada kedaulatan jika perut rakyat masih bergantung pada gejolak global.
Pangan adalah fondasi peradaban. Ia menentukan kualitas sumber daya manusia, stabilitas sosial, dan daya saing bangsa. Karena itu, swasembada pangan harus ditempatkan sebagai strategi jangka panjang peradaban, bukan sekadar target periodik.
Masjid, dengan jaringan dan kepercayaan umat yang dimilikinya, adalah pilar penting agar agenda besar ini tidak tercerabut dari rakyat. Dari masjid, pembangunan menjadi berakar. Dari umat, kemandirian menjadi berkelanjutan.
Saatnya Masjid Memimpin
Swasembada pangan sejati bukan hanya soal beras, jagung, atau stok nasional. Ia adalah soal kedaulatan, keadilan, dan keberpihakan. Ketika masjid bergerak, ketika pemuda masjid bangkit, dan ketika umat mengambil peran, Indonesia tidak hanya swasembada pangan, tetapi juga berdaulat secara sosial dan moral.
Saatnya masjid tidak hanya menjadi saksi kebijakan, tetapi subjek perubahan. Saatnya pemuda masjid tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku utama. Dan saatnya swasembada pangan benar-benar hadir sebagai gerakan rakyat menuju Indonesia Emas 2045.
Dari masjid kita kuatkan pangan.
Dari pangan kita bangun kemandirian.
Dari kemandirian, kita jaga masa depan Indonesia.