Secercah Cahaya Al Qur’an Di Kampung Nelayan “Kisah inspirasi penghafal Al Qur’an dari kampung nelayan”

Admin BKPRMI

Oleh: Bintu Rachman

HIKMAH – Aku lahir di sebuah perkampungan Nelayan, mayoritas penduduk setempat mata pencaharian nya adalah mencari ikan di lautan luas. Gemuruh suara ombak yang silih berganti menjadi alunan indah dipesisir utara daerah kami. Laut yang penuh keberkahan merupakan kehidupan bagi warga kami dan menjadi salah satu desa yang penuh dengan kemakmuran. Aku adalah saksi sejarah berdirinya TPQ Nurul Qoryah Desa gadon – tambakboyo – Tuban, tepat nya di daerah jawa timur.

Disebuah rumah yang sederhana terbuat dari bambu, disinilah cikal bakal anak desa yang fasih dan tartil membaca Al Qur’an. Mbah sarmijah adalah pemilik rumah tersebut, setiap hari lantunan bacaan Al Qur’an selalu terdengar dirumah tua ini. Belum ada tempat ngaji satupun pada saat itu kecuali di rumah tua ini. Bapak Muhammad Hasyim Thohir, adalah guru pertama kali kami yang mengajar alif ba’ ta’ dibantu adik nya Nur lulu’ atin dan satu tetangga nya bernama Bu Furoh. Tiga ustadz dan ustadzah ini yang setiap sore hari selalu membimbing kami

Waktu itu aku masih kecil sekitar tahun 1990 rumah mbah sarmijah menjadi bukti sejarah adanya TPQ pertama di desa kami. Tiga guru kami yang setiap hari selalu menemani kami dengan ikhlas. Canda tawa ceria selalu menemani hari – hari kami dalam mendalami ayat – ayat sucinya. Suasana yang sederhana namun penuh makna kami jalani di setiap sore kami. Tak ada bangku, meja ataupun fasilitas yang mendukung. ( bisa lihat foto ) namun tekad kuat para santri tak pernah luntur, 3 guru kami senantiasa sabar membimbing dengan metode talaqqi.

Buku Iqra’ yang di tulis oleh Ustdz As’ad Humam menjadi awal metode pembelajaran kami, disini mulai ada buku panduan yang bisa kami gunakan untuk belajar. bersyukur dengan hadir nya buku iqra’ ini, kami menjadi lebih mudah dan bisa membaca Al Qur’an. ( baarakallah semoga Allah mengganti jasa beliau, Allahummaghfir lahu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu ) kami terus berpacu dalam pembelajaran Al Qur’an. Memperbaiki bacaan demi bacaan, agar kami bisa masuk dalam ajang kompetensi FESTIVAL ANAK SHOLEH yang diselenggarakan oleh BKPRMI. Alhamdulillah perjuangan kami membawa hasil.

Pendiri Lembaga

Lahir pada tanggal 3 maret 1961, dari seorang ayah yang bernama Wakimin dan seorang ibu yang bernama Ya’ umi beliau adalah seorang pejuang Al Qur’an. Beliau adalah pendiri pertama Lembaga ini “TPQ Nurul Qoryah” Berkat jasa beliaulah hingga sampai detik ini lembaga ini masih berdiri kokoh dan bisa bermanfa’at bagi semua masyarakat. Dedikasi beliau pada lembaga ini tidaklah main – main, sekuat tenaga ia berkiprah dalam ilmu Al Qur’an. Membimbing, merangkul, menasehati serta mensupport segala bentuk kegiatan yang ada.

Beliau mempunyai 2 putra dan 2 putri yang saat ini masih ada dan ikut serta berjuang melanjutkan kiprah sang Bapak. Rasa duka yang mendalam ketika kami menerima kabar bahwa Beliau berpulang ke Rahmatullah pada hari Ahad, 13 Agustus 2023, “Allahummaghfirlaha Warhamha Wa’afihi Wa’fu ‘anha” Semoga Allah mengampuni segala dosa nya dan menerima segala amal ibadah nya. Aaamiiin

Peresmian Lembaga (cikal bakal lahir nya TPQ Nurul Qoryah)

Bukti lahir nya TPQ Nurul Qoryah adalah ada nya sertifikat ini, amanah ini diberikan pada tanggal 23 Januari 1994 dimana kenangan ini aku masih duduk dibangku SD kelas 2. Ada pepatah mengatakan “JAZ MERAH” Jangan melupakan sejarah. Kita perlu tau siapa sosok yang berjasa di masyarakat dalam perjuangan TPQ ini. Jasa para pejuang perlu kita apresiasi setidak nya kita mau mendoakan dengan mengadakan acara “HAUL” di moment yang paling bersejarah. Kita adakan di setiap tahun pada tanggal 23 Januari. Itu harapan kami, semoga generasi penerus mau mengerti.

Perlu kalian ketahui, sebelum peresmian ini, Beliau sudah berjuang dengan Al Qur’an sejak tamat/lulus dari pondok pesantren. Beliau pernah belajar di daerah Jenu – Tauban tepat nya di pondok pesantren Hidayatus Sholihin, dengan Pengasuh KH. Sholeh Nur Hadi. Ketekunan serta ke uletan beliau dalam menuntut ilmu, menjadikan ilmu yang barokah dan bermanfaat sampai detik ini. Pada tahun 1992 beliau mendeklarasaikan berdirinya TPA Nurul Qoryah, Namun belum resmi, barulah di tahun 1994 mendapat Amanah dari BKPRMI kala itu.
4. Surat resmi lomba FASI II

Lomba Tingkat Kecamatan

Setelah deklarasi peresmian dan amanah yang beliau emban dari BKPRMI, Kami terus mengasah skill kami, berusaha sekuat tenaga, agar kami menjadi garda terdepan dalam pembelajaran Al Qur’an. Seluruh ustdz – ustadzah bekerja keras agar kami bisa ikut andil di kancah lomba tinggkat kecamatan. Tentu saja atas arahan dan kerja keras dari beliau bapak Hasyim sebagai kepala Lembaga. Hari – hari yang sangat menyenangkan sekaligus menegangkan bagi kami.

Kami bertekad mendaftarkan diri di ajang perlombaaan FASI II pada tahun 1994. Rasa haru tapi penuh makna akhir nya kami bisa ikut andil dalam perlombaan ini. Di ikuti dari seluruh pedesaan yang ada, kami berlomba di masjid Tambakboyo dengan penuh antusias dan semangat. Berbagai macam perlombaan kami ikuti, Alhamdulillah delegasi santri terbaik mampu menunjukkan kompetensi nya di bidang masing – masing. Dan al hamdulillah kami mampu meraih juara Umum.

Lomba tingkat Kabupaten

Foto ini menjadi bukti bahwa perjungan tak kan menghianati hasil. Kami menjadi salah satu lembaga terbaik di tingkat kabupaten. Dengan mengirim putra – putri terbaik kami untuk mengikuti ajang bergengsi di FASI II. Mulai dari lomba tartil, nasyid, kaligrafi, adzan Tahfidz, dll. Alhamdulilah kami menjadi Juara umum di tingkat kabupaten.

Lomba Tingkat Propinsi

Perjuangan di tingkat kabupaten telah usai, kini kami melangkah di babak baru pada tingkat PROPINSI tepat nya di gedung Islamic Center Surabaya. Dari beberapa perlombaan yang kami ikuti, Al Hamdulillah lomba tartil masuk nominasi untuk bisa lanjut ke jenjang berikut nya di tingkat nasional. lomba ini diwakili ole 2 santri, aku sendiri dan sepupuku yang bernama Ayyin Hikam.

Keteguhan, kesungguhan untuk selalu belajar dan belajar selalu kami lakukan hampir di lima waktu setelah sholat wajib. Kami latihan terus menerus untuk bisa mewujudkan cita – cita kami agar kami bisa menjadi juara terbaik di tingkat Nasional. Guru ku Bapak Hasyim Thohir tak pernah lelah untuk selalu membimbing kami ber dua. Yang jelas waktu kami bermain kami berkurang. Disaat teman – teman yang lain harus bermain di pesisir laut, kami terus mengUpgrade diri kami agar bisa masuk menjadi Juara. Alhamdulillah dengan perjuangan ini kami mendapat juara 3, lulus di tingkat Profinsi dan bisa lanjut ke tingkat Nasional.

Tahun 1993, adalah awal tahun mengasah skill, aku selalu ada di atas panggung, kami ber empat adalah santri pilihan terbaik di lembaga kami. Ustadz/ah kami selalu menunjuk kami sebagai role model dalam setiap moment di PHBI dengan tujuan agar anak – anak di desa kami semangat dalam belajar Al Qur’an. Tidak hanya di area desa kami saja, namun kami juga di undang di beberapa tetangga desa yang lain, sebagai role model dalam mengaji. Ditahun ini juga berbagai penghargaan lomba mulai mewarnai lembaga kami. Dibawah naungan BKPRMI kami mulai terpacu untuk mengikuti berbagai macam lomba. Mulai dari lomba adzan, tartil, nasyid, hafalan dll. Alhamdulillah beberapa santri yang mewakili mendapat juara di bidang masing – masing. Dimulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, sampai tingkat Nasional.

Juara Tingkat Nasional

Aku yang hanya lahir dikampung nelayan, pernah mewakili daerah ku untuk berkiprah di tingkat Nasional. Dan… konon, sampai saat ini belum ada delegasi yang bisa mewakili lagi seperti kala itu.

Tahun dimana semua orang tersenyum, bersyukur atas nikmat ini. Karena anak kampung bisa meraih prestasi sampai ke tingkat nasional. Tepat nya dijakarta pada tahun 1994. Sebelum nya ditahun yang sama, kami melalui seleksi yang sangat ketat. Mulai dari tingkat kecamatan, ke tingkat kabupaten, naik lagi ke tinggkat profinsi, dan puncak nya ada di tingkat ini. Tidak mudah ada di titik ini. Semua butuh proses yang konsisten, latihan setiap hari habis sholat selalu aku jalani. Kebetulan rumah dekat dengan masjid, selesai sholat, langsung mengaji. Tingkat ini merupakan uji nyali sekaligus rasa syukur. Karena dari berbagai pelosok nusantara mengirimkan putra putri terbaik nya. “fastabiqul khairat” motivasi yang keluar dari guru saya. Berusaha yang terbaik, selebih nya kita pasrahkan kepada Allah. Dan Al hamdulillah atas kehendak nya kami meraih juara 3 tingkat nasional. Rasa syukur yang tak terhingga kami ucapkan. Semoga semua ini bisa membawa barokah dan manfaat bagi semua.

Pergeseran politik lembaga

Hari demi hari lembaga kami semakin berkembang. Dengan adanya perwakilan kami di tingkat nasional, menjadikan lembaga TPQ ini sebagai role model pada saat itu. Santri yang mengaji tidak hanya anak – anak desa setempat. Namun anak – anak tetangga desa yang lain pun ikut gabung belajar. setelah saya lulus SD, saya melanjutkan pendidikan di tingkat SMP tepat nya di MTS manbail futuh, tepatnya di Desa Beji – jenu – Tuban. Masa dimana saya harus bisa beradabtasi dengan suasana baru. Dunia pesantren menjadi pilihan tepat bagi kami untuk bekal kehidupan nanti. Setelah tamat dari smp, kemudian saya melanjutkan di tingkat SMA tepat nya di MAN lasem Rembang. Di fase ini saya tidak canggung lagi beradaptasi, karena sama – sama di lingkungan pesantren. Lingkungan yang membuat aku tumbuh lebih dewasa dari sebelum nya, sistem peraturan yang lebih flexibel, namun tetap dalam aturan syari’at nya.

Hijrah ke Surabaya

Setelah lulus dari MAN LASEM, saya memutuskan untuk kuliah di surabaya pada tahun 2024, jurusan yang saya ambil adalah jurusan PBA ( Pendidikan Bahasa Arab ) Suasana baru, adabtasi baru di mulai dari perjalanan ini. Yang biasa nya hidup dilingkungan pesantern, harus bisa hidup mandiri di lingkungan yang jauh lebih bebas dari sebelum nya.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *