Palembang, Sumatera Selatan – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) BKPRMI Sumatera Selatan menggelar Workshop Kurikulum Ekoteologi dan Pengembangan Tahfidz selama dua hari, Sabtu–Ahad (4–5 Juli 2026), di Asrama Haji KM 10 Palembang. Kegiatan yang diikuti sekitar 100 ustadz dan ustadzah dari berbagai kabupaten/kota di Sumatera Selatan ini menjadi langkah strategis dalam merumuskan kurikulum pendidikan Al-Qur’an yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan kepedulian terhadap lingkungan hidup.

Workshop ini menghadirkan berbagai materi penting, mulai dari Landasan Kurikulum Tahfidz Ekoteologi, Integrasi Nilai Al-Qur’an dan Kepedulian Lingkungan, Strategi Pembelajaran Tahfidz Berbasis Ekoteologi, Penyusunan Struktur Kurikulum, Pengembangan Modul dan Perangkat Pembelajaran, Praktik Penyusunan Kurikulum Tahfidz Ekoteologi, hingga Presentasi Hasil Kelompok dan Evaluasi. Seluruh rangkaian kegiatan diarahkan untuk menghasilkan Draft Kurikulum Tahfidz Ekoteologi beserta rencana implementasinya di lembaga pendidikan masing-masing peserta.
Penyusunan kurikulum dipimpin oleh Ustadzah Kamaliah, S.Si, yang mengarahkan peserta agar mampu menyusun perangkat pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguatan hafalan Al-Qur’an, tetapi juga menanamkan kesadaran sebagai khalifah di bumi yang bertanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan.
Ketua Umum DPW BKPRMI Sumatera Selatan, Firdaus, S.H., dalam sambutannya menyampaikan bahwa workshop ini merupakan momentum bersejarah bagi BKPRMI Sumatera Selatan. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan persembahan nyata BKPRMI dalam menghadirkan pendidikan Al-Qur’an yang relevan dengan tantangan zaman, sekaligus menjawab amanah Allah SWT kepada manusia untuk memakmurkan bumi.

“Hari ini menjadi hari yang memiliki nilai kesejarahan bagi BKPRMI Sumatera Selatan. Workshop ini merupakan ikhtiar menghadirkan sebuah gerakan pendidikan yang dipersembahkan bagi bumi yang kita huni. Amanah Ilahi yang diberikan kepada manusia adalah menjadi khalifah yang memakmurkan bumi, sehingga nilai-nilai Al-Qur’an harus mampu melahirkan generasi yang mencintai dan menjaga lingkungan,” ujarnya.
Firdaus berharap kurikulum yang dirancang dalam workshop ini dapat segera diterapkan di seluruh unit pendidikan BKPRMI, mulai dari Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), majelis taklim, Sakinah Center Sumatera Selatan, hingga menjadi model yang dapat direplikasi secara nasional.
Sementara itu, Penasehat DPW BKPRMI Sumatera Selatan, Dr. H. Mustopa Marli Batu Bara, M.P., saat menyampaikan keynote speech sekaligus membuka kegiatan secara resmi, menegaskan bahwa konsep ekoteologi merupakan implementasi nyata ajaran Islam yang menempatkan manusia sebagai penjaga keseimbangan alam. Menurutnya, Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga mengatur tanggung jawab manusia terhadap sesama dan lingkungan.

Ia menekankan bahwa pendidikan Al-Qur’an harus terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai syariat. Integrasi antara tahfidz dan kepedulian lingkungan dinilai menjadi pendekatan yang visioner dalam membentuk generasi Qurani yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan ekologis.
“Melalui workshop ini, saya berharap lahir sebuah kurikulum yang mampu menjadi rujukan bagi lembaga-lembaga pendidikan Al-Qur’an, sehingga para santri tidak hanya menjadi penghafal Al-Qur’an, tetapi juga pelopor dalam menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian dari ibadah dan pengabdian kepada Allah SWT,” ungkapnya.
Dengan tersusunnya Draft Kurikulum Tahfidz Ekoteologi beserta rencana implementasinya, BKPRMI Sumatera Selatan optimistis dapat menjadi pelopor pengembangan pendidikan Al-Qur’an berbasis ekoteologi di Indonesia. Inisiatif ini diharapkan melahirkan generasi Qurani yang berakhlak mulia, berwawasan lingkungan, serta mampu menghadirkan nilai-nilai Islam sebagai solusi bagi keberlanjutan kehidupan di masa depan.