Oleh: dr. Asriadi Ali, Sp.N.,M.A.P.,AIFO-K
Direktur Wilayah LKM BKPRMI Sulawesi Selatan
Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (Perdosni)
Opini – Hari Raya Idul Adha merupakan momentum spiritual yang sarat makna pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Di tengah suasana penuh kebersamaan, umat Islam menikmati hidangan khas qurban bersama keluarga dan masyarakat. Namun di balik kebahagiaan tersebut, terdapat hal penting yang perlu menjadi perhatian bersama, yakni meningkatnya risiko gangguan kesehatan akibat pola konsumsi yang tidak terkendali, salah satunya adalah stroke.
Menurut World Health Organization (WHO), stroke adalah kondisi gangguan fungsi saraf yang terjadi secara mendadak akibat gangguan aliran darah ke otak. Penyakit ini menjadi salah satu penyebab kematian dan kecacatan tertinggi di dunia. Stroke dapat menyerang siapa saja, terutama mereka yang memiliki faktor risiko tertentu.
Dalam momentum Idul Adha, konsumsi makanan tinggi lemak dan kolesterol cenderung meningkat. Daging qurban yang diolah menjadi konro, coto, pallubasa, sate, rendang, gulai, dan berbagai olahan lainnya memang menggugah selera. Akan tetapi, jika dikonsumsi secara berlebihan tanpa memperhatikan kondisi kesehatan, maka dapat memicu peningkatan tekanan darah, kadar kolesterol, hingga gula darah yang menjadi faktor utama pemicu stroke.
Gejala stroke sebenarnya cukup mudah dikenali. Masyarakat dapat mengingat tanda-tandanya dengan istilah “SeGeRa Ke RS”, yakni Senyum tidak simetris, Gerak anggota tubuh melemah mendadak, Bicara pelo atau sulit berbicara, Kebas atau baal, Rabun mendadak, serta sakit kepala hebat dan gangguan keseimbangan. Bila gejala tersebut muncul, penderita harus segera dibawa ke rumah sakit agar mendapatkan penanganan cepat dan tepat. Penanganan dini sangat menentukan keselamatan jaringan otak dan kualitas hidup pasien.
Faktor risiko stroke terbagi menjadi dua kategori, yaitu faktor yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor yang dapat dimodifikasi. Faktor yang tidak dapat diubah antara lain usia, jenis kelamin, dan riwayat keluarga. Sementara faktor yang dapat dikendalikan meliputi hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, merokok, kurang aktivitas fisik, serta pola makan yang tidak sehat.
Pada masa Idul Adha, masyarakat sering kali lupa mengontrol pola konsumsi. Daging merah yang dikonsumsi berlebihan dapat meningkatkan kadar lemak darah dan memicu penyumbatan pembuluh darah. Makanan tinggi garam dapat menyebabkan hipertensi, sedangkan minuman manis dan makanan tinggi gula dapat meningkatkan risiko diabetes. Bila kondisi ini berlangsung terus-menerus tanpa diimbangi aktivitas fisik dan pola hidup sehat, maka risiko stroke akan semakin tinggi.
Padahal, para ahli menyebutkan bahwa hingga 80 persen kasus stroke sebenarnya dapat dicegah melalui pengendalian faktor risiko. Karena itu, Idul Adha seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai momentum berbagi daging qurban, tetapi juga momentum membangun kesadaran hidup sehat. Mengonsumsi makanan secukupnya, memperbanyak sayur dan buah, rutin berolahraga, cukup istirahat, menghindari rokok, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala merupakan langkah sederhana namun sangat penting.
Nilai utama Idul Adha sejatinya mengajarkan keseimbangan antara ibadah spiritual dan kepedulian terhadap kesehatan diri. Tubuh yang sehat merupakan amanah yang harus dijaga. Jangan sampai semangat merayakan hari besar justru mengabaikan kesehatan yang menjadi modal utama dalam menjalankan aktivitas dan ibadah.
Mari menjadikan Idul Adha tahun ini bukan hanya sebagai perayaan kebersamaan, tetapi juga momentum meningkatkan kesadaran menjaga kesehatan diri dan keluarga. Dengan pola hidup sehat dan pengendalian faktor risiko, kita dapat menikmati kebahagiaan hari raya tanpa harus dihantui ancaman stroke.