MATARAM, NTB – Tradisi Lebaran Ketupat atau Lebaran Topat kembali digelar oleh masyarakat Sasak di Lombok pada Sabtu (28/3/2026), bertepatan dengan 8 Syawal 1447 H. Perayaan ini menjadi penanda berakhirnya puasa sunnah enam hari di bulan Syawal sekaligus momentum mempererat nilai keagamaan dan budaya lokal di tengah masyarakat.

Rangkaian kegiatan diisi dengan ziarah makam ulama, doa bersama, hingga makan bersama khas Lebaran Topat. Tradisi ini mencerminkan kuatnya harmoni antara ajaran Islam dan kearifan lokal yang telah mengakar di Bumi Seribu Masjid.
Tahun ini, perayaan Lebaran Topat diintegrasikan dengan Haul ke-60 Tuan Guru Haji Muhammad Rais serta doa bersama untuk para tuan guru se-Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram. Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Umum Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Nusa Tenggara Barat, H. Jamaludin, ST.
Dalam keterangannya, H. Jamaludin menegaskan bahwa Lebaran Topat bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan bagian penting dari identitas masyarakat Lombok yang mengandung nilai spiritual dan sosial.
“Lebaran Topat adalah wujud keharmonisan antara nilai-nilai keagamaan dan budaya lokal yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Sebagai organisasi kepemudaan Islam, BKPRMI NTB turut berperan aktif dalam menyukseskan kegiatan tersebut. Kader BKPRMI yang tersebar di berbagai wilayah di Kota Mataram dan Lombok Barat ambil bagian dalam mendukung seluruh rangkaian acara.
Menurutnya, kehadiran BKPRMI merupakan bentuk komitmen dalam menjaga dan melestarikan tradisi yang diwariskan para ulama.
“Kami ingin memastikan bahwa tradisi ini tetap hidup dan menjadi bagian dari identitas generasi mendatang,” tambahnya.
Pada kesempatan itu, H. Jamaludin juga mengajak seluruh kader BKPRMI NTB untuk menjadikan momentum Lebaran Topat sebagai ajang memperkuat silaturahmi dan konsolidasi dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk ulama, tokoh agama, dan generasi muda.
“Saya mengajak seluruh kader untuk menjaga marwah organisasi serta menjadikan momen ini sebagai sarana memperkuat kebersamaan dan menunjukkan eksistensi BKPRMI di tengah masyarakat,” tegasnya.

Lebaran Topat tidak hanya memiliki makna religius, tetapi juga menjadi simbol kuat identitas budaya masyarakat Sasak. Di tengah arus globalisasi, pelestarian tradisi ini dinilai penting agar nilai-nilai luhur dan kearifan lokal tetap terjaga.
BKPRMI NTB pun berkomitmen untuk terus berperan dalam menjaga keberlangsungan tradisi tersebut, sekaligus mendorong generasi muda agar tetap mengenal dan menghargai warisan budaya yang telah diwariskan para ulama.