Opini – Setiap tahun, umat Islam memperingati Isra’ Mi‘raj Nabi Muhammad ﷺ sebagai peristiwa agung dalam sejarah kenabian. Namun, peringatan ini sering kali berhenti pada aspek seremonial dan pengulangan kisah mukjizat semata. Padahal, Isra’ Mi‘raj menyimpan pesan peradaban yang sangat relevan dengan tantangan kehidupan modern: bagaimana manusia bangkit dari krisis, melampaui keterbatasan, dan menata arah masa depan dengan fondasi nilai yang kokoh.
Isra’ Mi‘raj terjadi pada fase paling berat dalam kehidupan Rasulullah ﷺ. Dalam waktu yang berdekatan, beliau kehilangan dua sosok terpenting dalam hidupnya: Abu Thalib, pelindung sekaligus penopang dakwah, dan Khadijah, istri tercinta yang menjadi sumber kekuatan moral dan spiritual. Tahun itu dikenal sebagai ‘Aamul Huzn—tahun kesedihan. Di tengah tekanan psikologis, penolakan sosial, dan kelelahan perjuangan, Allah SWT menghibur Rasul-Nya melalui sebuah perjalanan yang melampaui hukum ruang dan waktu. Inilah bentuk tasliyah, penguatan jiwa agar Nabi tetap teguh melanjutkan risalah.
Pesan ini sesungguhnya sangat manusiawi dan universal. Kehidupan tidak pernah lepas dari ujian, tetapi di balik kesulitan selalu ada kemudahan. Manusia membutuhkan penguatan spiritual agar memiliki ketahanan diri (resiliensi). Isra’ Mi‘raj menunjukkan bahwa penguatan itu bukan sekadar pelarian emosional, melainkan pengalaman spiritual yang menumbuhkan makna, arah, dan harapan baru.
Secara hakikat, Isra’ Mi‘raj adalah peristiwa transenden. Dalam satu malam, Rasulullah ﷺ menempuh perjalanan horizontal dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu perjalanan vertikal menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha. Ini menegaskan bahwa kekuasaan dan kehendak Allah tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Bagi manusia, pesan terpentingnya adalah dorongan untuk memperluas cara pandang: keterbatasan fisik, geografis, atau sosial bukan alasan untuk berhenti bermimpi dan berusaha.
Lebih dari sekadar mukjizat, Isra’ Mi‘raj menanamkan paradigma kemajuan. Ia mengajarkan bahwa lompatan besar hanya mungkin terjadi jika spiritualitas dan intelektualitas berjalan seiring. Perjalanan ke “langit” tidak memisahkan manusia dari realitas “bumi”. Justru, setelah pengalaman spiritual tertinggi itu, Rasulullah ﷺ kembali ke tengah masyarakat dengan membawa mandat konkret: perintah shalat.
Shalat merupakan pesan utama Isra’ Mi‘raj. Ia bukan ritual kosong, melainkan sistem pembentuk karakter. Di dalamnya terkandung nilai disiplin waktu, kebersihan, keteraturan, konsistensi, refleksi diri, dan keseimbangan antara akal, hati, serta tindakan. Shalat mengajarkan bahwa kemajuan pribadi dan sosial membutuhkan keteraturan dan kesadaran nilai yang berkelanjutan. Dari sinilah lahir manusia yang tidak hanya cerdas berpikir, tetapi juga matang bersikap dan bertanggung jawab dalam bertindak.
Dalam konteks kehidupan modern yang serba cepat dan kompetitif, pesan ini menjadi sangat relevan. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, jika tidak dibarengi nilai moral dan spiritual, berpotensi melahirkan kekosongan makna. Isra’ Mi‘raj mengingatkan bahwa pembangunan sejati harus bersifat integral: menghubungkan langit dan bumi, iman dan ilmu, nilai dan inovasi.
Peristiwa ini juga menegaskan bahwa kemajuan menuntut keberanian melampaui batas. Isra’ Mi‘raj menembus sekat ruang, waktu, dan status sosial. Rasulullah ﷺ memimpin shalat para nabi di Masjidil Aqsha, menegaskan persaudaraan universal dan kesinambungan risalah. Pesan ini relevan untuk membangun masyarakat yang inklusif, adil, dan memberi kesempatan yang setara bagi setiap insan untuk tumbuh dan berkembang.
Pada akhirnya, Isra’ Mi‘raj mengajarkan bahwa ukuran kemajuan bukan semata seberapa jauh manusia melangkah, tetapi seberapa tinggi nilai yang ia bawa. Peradaban yang besar lahir dari manusia-manusia yang memiliki visi jauh ke depan, keberanian menghadapi tantangan, serta memiliki fondasi iman dan akhlak yang kuat. Inilah esensi Isra’ Mi‘raj sebagai sumber inspirasi lintas zaman: membangun manusia yang mampu melampaui ruang dan waktu, tanpa kehilangan arah dan makna hidup.
