MUSWIL VII DPW BKPRMI Jogjakarta Di Masjid Jogokariyan: Meneguhkan Gerakan Masjid Berdaya, Berdampak dan Bermanfaat

Admin BKPRMI

Haidar Muhammad Tilmitsani Terpilih Pimpin DPW BKPRMI Jogjakarta Periode 2026–2031, Lanjutkan Estafet Gerakan Masjid untuk Memakmurkan Umat

YOGYAKARTA — Musyawarah Wilayah (Muswil) VII Dewan Pengurus Wilayah Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (DPW BKPRMI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berlangsung di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, Minggu (20/9/2026).

Muswil VII menjadi momentum penting bagi konsolidasi organisasi sekaligus regenerasi kepemimpinan DPW BKPRMI di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam forum tersebut, Haidar Muhammad Tilmitsani, S.Psi., terpilih secara aklamasi dan mufakat sebagai Ketua Umum DPW BKPRMI DIY Periode 2026–2031.

Ketua Umum DPP BKPRMI H. Nanang Mubarok, SHI., M.Sos., menyampaikan bahwa pemilihan Masjid Jogokariyan sebagai tempat pelaksanaan Muswil memiliki makna yang sangat strategis.

Menurut Nanang, Masjid Jogokariyan bukan hanya sebuah tempat ibadah, tetapi telah menjadi salah satu simbol bagaimana masjid dapat hadir sebagai pusat pelayanan, pemberdayaan, pendidikan, sosial, ekonomi, dan penguatan kehidupan masyarakat.

“Panitia sengaja memilih Masjid Jogokariyan sebagai tempat Muswil bukan semata karena tempat ini memiliki nama besar. Lebih dari itu, Jogokariyan adalah simbol tentang bagaimana sebuah masjid harus berdaya, berdampak dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat,” ujar Nanang.

Ia menegaskan, paradigma BKPRMI terhadap masjid tidak boleh berhenti pada slogan “memakmurkan masjid”.

Menurutnya, masjid memang harus dimakmurkan dengan ibadah, jamaah, ilmu, dakwah dan berbagai aktivitas kebaikan. Namun pada saat yang sama, masjid juga harus mampu memakmurkan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

“Masjid yang makmur bukan hanya masjid yang ramai ketika waktu salat tiba. Masjid yang makmur adalah masjid yang kehadirannya dirasakan oleh masyarakat; anak-anaknya mendapatkan pendidikan, pemudanya mendapatkan ruang aktualisasi, kaum dhuafa mendapatkan perhatian, ekonominya bergerak, dan masyarakatnya tumbuh dalam semangat ukhuwah,” kata Nanang.

Pandangan tersebut, lanjut Nanang, sejalan dengan sejarah dan cita-cita perjuangan BKPRMI yang menempatkan masjid sebagai pusat peradaban, perjuangan dan sosial budaya kemasyarakatan., selaian sebagai pusat ibadah.

Jogokariyan sebagai Laboratorium Gerakan Masjid

Masjid Jogokariyan dipandang relevan menjadi tempat Muswil karena memiliki pengalaman panjang dalam membangun hubungan antara masjid dan masyarakat. Profil Masjid Jogokariyan yang dipublikasikan Badan Wakaf Indonesia mencatat semangat pengelolaannya untuk membangun umat dan menyejahterakan masyarakat.

Berbagai aktivitas di kawasan Jogokariyan juga memperlihatkan bagaimana masjid dapat menjadi ruang interaksi sosial dan ekonomi masyarakat. Dalam pelaksanaan Kampung Ramadan, misalnya, kegiatan di sekitar Masjid Jogokariyan melibatkan ratusan pedagang UMKM serta menyediakan ribuan porsi makanan berbuka bagi masyarakat.

“Karena itu, Muswil di Jogokariyan harus dibaca sebagai pesan. Bahwa masa depan BKPRMI adalah masa depan gerakan masjid. Kita ingin melahirkan masjid-masjid yang tidak hanya indah bangunannya, tetapi hidup gerakannya dan nyata manfaatnya,” tegas Nanang.

Ia menambahkan, generasi muda harus ditempatkan sebagai subjek utama gerakan masjid, bukan sekadar objek kegiatan.

“Masjid harus menjadi rumah bagi anak-anak muda. Di masjid mereka belajar Al-Qur’an, membangun karakter, mengembangkan kreativitas, membangun usaha, mengabdi kepada masyarakat, sekaligus menyiapkan diri menjadi pemimpin masa depan,” ujarnya.

Haidar Tilmitsani dan Momentum Regenerasi

Dalam Muswil VII tersebut, Haidar Muhammad Tilmitsani, S.Psi., terpilih secara aklamasi dan mufakat sebagai Ketua Umum DPW BKPRMI DIY periode 2026–2031. Penetapan tersebut menjadi bagian dari proses regenerasi kepemimpinan organisasi di tingkat wilayah.

Haidar merupakan putra bungsu almarhum KH. Muhammad Jazir ASP, salah satu tokoh yang sangat lekat dengan perjalanan gerakan Masjid Jogokariyan.

Bagi Nanang Mubarok, terpilihnya Haidar tidak semestinya hanya dipahami sebagai faktor hubungan keluarga, melainkan sebagai bagian dari proses regenerasi kader dan kesinambungan nilai perjuangan.

“Haidar bukan hanya putra dari seorang tokoh. Ia adalah bagian dari generasi yang tumbuh dan belajar dari sebuah ekosistem gerakan masjid. Karena itu, amanah ini harus dijawab dengan kerja nyata, dengan gagasan baru, dengan kolaborasi, dan dengan keberanian membawa BKPRMI Jogjakarta semakin dekat dengan persoalan nyata masyarakat,” ujar Nanang.

Menurut Nanang, kepemimpinan Haidar juga membawa sebuah pesan penting bahwa estafet perjuangan harus terus berjalan dari generasi ke generasi.

“Setiap generasi mempunyai tantangan yang berbeda. Kita tidak meminta generasi hari ini sekadar mengulang apa yang dilakukan generasi sebelumnya. Kita meminta mereka meneruskan nilai perjuangannya, kemudian mengembangkan dengan pendekatan yang sesuai dengan zaman,” katanya.

Spirit tersebut memiliki relevansi kuat dengan pesan almarhum KH. Muhammad Jazir ASP mengenai masjid. Dalam sebuah wawancara setelah wafatnya sang ayah, Haidar menyampaikan bahwa pesan yang ditanamkan kepadanya adalah bahwa mengurus masjid bukan sekadar mengurus bangunan, melainkan bagian dari membangun peradaban.

Bagi BKPRMI, nilai tersebut sangat dekat dengan agenda organisasi untuk menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan generasi muda dan pemberdayaan umat.

Menyiapkan BKPRMI Jogjakarta 2026–2031

Nanang berharap kepemimpinan baru DPW BKPRMI DIY mampu memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus menghadirkan inovasi gerakan yang menjawab kebutuhan pemuda dan remaja masjid.

BKPRMI sendiri merupakan organisasi kader dakwah dan wadah komunikasi pemuda serta remaja masjid di Indonesia. Secara nasional, BKPRMI saat ini memiliki jaringan kepengurusan di 35 DPW, 415 DPD dan 7.285 DPK, serta kepengurusan luar negeri di 19 negara.

“Jogjakarta harus menjadi salah satu laboratorium penting gerakan pemuda masjid Indonesia. Kita ingin melihat masjid menjadi pusat lahirnya generasi Qur’ani, pusat pendidikan, pusat kewirausahaan, pusat kepedulian sosial dan pusat kebudayaan Islam yang terbuka dan inklusif,” ujar Nanang.

Ia juga meminta seluruh jajaran BKPRMI DIY menjaga kekompakan setelah Muswil.

“Musyawarah boleh melahirkan pilihan kepemimpinan, tetapi setelah musyawarah selesai, seluruh kader harus kembali menjadi satu keluarga besar. Tidak boleh ada lagi sekat. Yang ada adalah satu barisan, satu visi dan satu perjuangan,” tegasnya.

Nanang menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran DPW BKPRMI DIY dan peserta Muswil VII yang telah menjalankan proses organisasi dengan semangat kekeluargaan dan komitmen terhadap keberlanjutan gerakan.

Ia juga menyampaikan ucapan selamat kepada Haidar Muhammad Tilmitsani atas amanah yang diberikan.

“Selamat kepada Akhina Haidar Muhammad Tilmitsani. Jadikan amanah ini sebagai jalan pengabdian, bukan sekadar jabatan. Rawat ukhuwah, kuatkan kaderisasi, dekatkan BKPRMI dengan masyarakat, dan jadikan masjid sebagai pusat lahirnya solusi-solusi bagi umat,” pesan Nanang.

Menutup pernyataannya, Ketua Umum DPP BKPRMI tersebut menegaskan bahwa semangat Muswil VII di Jogokariyan harus diterjemahkan menjadi gerakan nyata.

“Dari Jogokariyan kita belajar bahwa masjid tidak boleh hanya menjadi tempat orang datang untuk beribadah, tetapi juga tempat masyarakat menemukan harapan. Karena itu, mari kita bangun masjid yang memakmurkan dan dimakmurkan, masjid yang berdaya, berdampak dan bermanfaat. Dari masjid kita bangun manusia, dari manusia kita bangun masyarakat, dan dari masyarakat kita bangun peradaban,” pungkas Nanang Mubarok.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *