Perspektif Sufistik, Kesadaran Spiritual, dan Akademik
Oleh: Dr. Kh. Syafaruddin Salami Siagian, S.H.I., M.H.
HIKMAH – Maulid Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar mengenang kelahiran Rasulullah ﷺ, tetapi momentum menghidupkan kembali nilai-nilai kenabian dalam diri kita.
Allah SWT berfirman:
«لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”
(QS. Al-Ahzab: 21)»
Ayat ini mengajarkan bahwa mencintai Rasulullah ﷺ bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan meneladani akhlak dan kehidupannya.
Dalam perspektif sufistik, Maulid dapat dipahami sebagai perjalanan syariat, thariqat, hakikat, dan ma’rifat.
Syariat mengajarkan kita mengenal Rasulullah melalui ilmu, sirah, sunnah dan shalawat.
Thariqat membawa kita dari lisan menuju hati. Shalawat tidak hanya diucapkan, tetapi dihayati sebagai jalan membersihkan hati dan membangun kesadaran.
Hakikat mengajarkan bahwa Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam penghambaan kepada Allah dan kehidupan. Allah berfirman:
«وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
(QS. Al-Qalam: 4)»
Ma’rifat adalah ketika pengetahuan berubah menjadi penghayatan. Kasih sayang, kejujuran, amanah, kesabaran, kelembutan dan tawadhu mulai hadir dalam perilaku.
Allah SWT mengingatkan:
«قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu.”
(QS. Asy-Syams: 9)»
Inilah inti perjalanan sufistik: tazkiyatun nafs, membersihkan jiwa agar semakin dekat kepada Allah.
Dari Shalawat Menuju Akhlak
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
(HR. Ahmad)»
Maka, jangan sampai lisan kita banyak bershalawat, tetapi hati masih dipenuhi kebencian. Jangan sampai kita mengaku mencintai Nabi, tetapi masih mudah menyakiti dan merendahkan sesama.
Shalawat di lisan harus menjadi cinta di hati; cinta menjadi kesadaran; kesadaran melahirkan akhlak; dan akhlak diwujudkan dalam perbuatan.
Maulid dan Tantangan Zaman
Di tengah kemajuan teknologi dan derasnya perubahan zaman, manusia tidak cukup hanya cerdas secara intelektual. Kita membutuhkan manusia yang cerdas, sadar, beriman, dan berakhlak.
Allah SWT berfirman:
«إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)»
Karena itu, Maulid harus menjadi lebih dari sekadar seremoni: dari pengetahuan menjadi kesadaran, dari kesadaran menjadi karakter, dan dari karakter menjadi amal.
Renungan
“Jangan hanya bertanya kapan Nabi dilahirkan ke dunia, tetapi tanyakan kepada diri: kapan akhlak Nabi dilahirkan dalam diri kita?”
Sebab Maulid yang sejati adalah ketika cinta kepada Rasulullah ﷺ melahirkan perubahan dalam diri, kasih sayang dalam kehidupan, dan kedekatan kepada Allah SWT.
Dari ilmu menuju kesadaran,
dari rasa menuju cinta,
dari cinta menuju akhlak,
dan dari akhlak menuju Allah.