Pentingnya Rasa Malu dalam Islam

Dr. H. Istajib Zain, M.Ag, Ph.D - Ketua Majelis Pakar DPP BKPRMI

Akhlak yang Menjaga Iman, Kehormatan, dan Kemuliaan Manusia

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Segala puji hanya milik Alloh Subḥānahu wa Ta’ālā yang telah menghiasi hamba-hamba-Nya dengan iman dan akhlak mulia. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Di tengah perkembangan zaman yang begitu pesat, manusia semakin mudah memperoleh informasi, berkomunikasi, dan mengekspresikan diri. Namun, kemajuan tersebut sering kali tidak diiringi dengan kemajuan akhlak. Banyak orang tidak lagi merasa malu untuk berbuat maksiat, mengumbar aurat, menyebarkan fitnah, berkata kasar, memamerkan kemewahan, bahkan mempertontonkan dosa di hadapan publik.

Padahal, dalam Islam, rasa malu merupakan salah satu akhlak yang paling agung. Ia bukan kelemahan, bukan tanda rendah diri, dan bukan pula sifat pengecut. Sebaliknya, rasa malu adalah cahaya yang menjaga manusia dari kehinaan dan mengantarkannya kepada kemuliaan.

Ketika rasa malu hidup, hati akan mudah menerima nasihat, lisan akan terjaga dari keburukan, pandangan akan dijaga dari yang haram, dan anggota tubuh akan enggan melakukan maksiat. Sebaliknya, ketika rasa malu telah hilang, manusia akan melakukan apa saja tanpa memedulikan dosa dan akibatnya.

Hakikat Rasa Malu (Al-Hayā’)

Para ulama menjelaskan bahwa al-hayā’ adalah akhlak yang mendorong seseorang meninggalkan keburukan dan mencegahnya mengurangi hak-hak orang lain.
Menjelaskan bahwa rasa malu lahir dari hidupnya hati, pengagungan kepada Alloh, serta kesadaran bahwa Alloh senantiasa melihat seluruh amal manusia.
Karena itu, semakin kuat iman seseorang, semakin besar pula rasa malunya kepada Alloh.

Rasa Malu dalam Al-Qur’an

Alloh berfirman:
”Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Alloh melihat?” (QS. : 14)»
Ayat ini mengajarkan muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Alloh selalu mengawasi setiap gerak, ucapan, dan niat manusia. Kesadaran inilah yang melahirkan rasa malu untuk bermaksiat.

Alloh juga berfirman:
”Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. : 19)»
Pandangan mata yang sekilas, niat yang tersembunyi, bahkan lintasan hati yang tidak diketahui manusia, seluruhnya diketahui oleh Alloh. Seorang mukmin yang memahami ayat ini akan merasa malu melakukan dosa meskipun tidak ada seorang pun yang melihatnya.

Alloh juga berfirman:
”Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” ( QS. : 26)

Takwa adalah pakaian batin yang salah satu buahnya ialah rasa malu kepada Alloh.
Hadis-Hadis tentang Rasa Malu

Rasululloh ﷺ bersabda:
”Malu adalah bagian dari iman.” (HR. Bukhori Muslim )
Artinya, selama rasa malu masih hidup, iman pun masih hidup. Ketika rasa malu memudar, iman pun terancam melemah.

Dalam hadis lain:
”Jika engkau tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” ( H.R.Bukhori )

Tanda-Tanda Hilangnya Rasa Malu

Di antara tanda hilangnya rasa malu ialah:

  • Berani meninggalkan salat tanpa penyesalan.
  • Bangga mempertontonkan dosa di media sosial.
  • Berdusta demi keuntungan dunia.
  • Berkata kasar tanpa merasa bersalah.
  • Membuka aib sendiri maupun orang lain.
  • Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta dan jabatan.
  • Tidak lagi merasa berdosa ketika melanggar syariat.
    Semua ini merupakan tanda bahwa hati membutuhkan taubat dan pembinaan iman.

Buah Rasa Malu

Orang yang memiliki rasa malu akan memperoleh banyak kebaikan.
Pertama, ia akan menjaga lisannya dari dusta, ghibah, fitnah, dan ucapan yang menyakitkan.
Kedua, ia akan menjaga pandangannya dari perkara haram.
Ketiga, ia akan menjaga kehormatannya sehingga tidak mudah terjerumus ke dalam zina dan kemaksiatan.
Keempat, ia akan lebih jujur, amanah, dan bertanggung jawab.
Kelima, ia akan mudah bertaubat ketika melakukan kesalahan.

Cara Menumbuhkan Rasa Malu

  1. Memperkuat keyakinan bahwa Alloh selalu melihat.
  2. Memperbanyak membaca Al-Qur’an.
  3. Mengingat kematian dan hari hisab.
  4. Berkumpul dengan orang-orang saleh.
  5. Menjaga pandangan dan lisan.
  6. Memperbanyak istigfar dan muhasabah setiap hari.
  7. Berdoa agar diberi hati yang hidup dan iman yang kokoh.

Penutup

Rasa malu adalah benteng terakhir sebelum seseorang terjatuh ke dalam dosa. Selama rasa malu masih hidup, hati akan tetap peka terhadap kesalahan, jiwa akan mudah menerima nasihat, dan langkah akan lebih dekat menuju ridha Alloh.

Karena itu, jangan pernah meminta kepada Alloh kehidupan yang penuh kemewahan tetapi miskin rasa malu. Mintalah hati yang selalu hidup, mata yang mudah menangis karena takut kepada-Nya, lisan yang senantiasa berdzikir, dan rasa malu yang menjaga kita di kala sendiri maupun di tengah keramaian.

Semoga Alloh menjadikan kita hamba-hamba yang memiliki rasa malu kepada-Nya, malu meninggalkan perintah-Nya, malu melakukan larangan-Nya, serta malu jika kelak bertemu dengan-Nya dalam keadaan membawa dosa yang belum ditaubati.

اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِالْحَيَاءِ وَالتَّقْوَى، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ. آمِينَ.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *